Nasi Liwet Solo bukan sekadar makanan pengisi perut, melainkan kisah panjang tentang budaya, sejarah, dan kearifan lokal masyarakat Jawa. Hidangan ini memadukan nasi gurih yang dimasak dengan santan, lalu disajikan bersama sayur labu siam, suwiran ayam kampung, telur pindang, dan areh putih santan kental yang lembut dan gurih.
Semua tersaji di atas daun pisang berbentuk pincuk, menghadirkan aroma wangi yang menggoda selera. Dari dapur sederhana hingga restoran mewah, aroma nasi liwet selalu membawa suasana hangat dan akrab.
Tak banyak yang tahu, makanan yang kini akrab di lidah masyarakat ternyata dulu hanya disajikan di lingkungan Keraton Surakarta, tempat para bangsawan dan keluarga raja menikmati hidangan khas ini.
Asal-Usul dari Dapur Keraton ke Rumah Rakyat
Sejarah nasi liwet Solo dikutip dari artikel ilmiah karya Inti Krisnawati berjudul "Nasi Liwet Solo: Kuliner Tradisional dengan Keunikan Sejarah, Budaya, dan Filosofi" tahun 2022 bermula dari masa Kerajaan Mataram Islam. Kala itu, nasi gurih leluhur nasi liwet menjadi sajian utama dalam ritual keagamaan di Keraton Surakarta.
Setiap Kamis malam, nasi gurih dimasak dan disuguhkan untuk menghormati Nabi Muhammad SAW. Setelah ritual usai, makanan tersebut dibagikan kepada masyarakat di sekitar keraton sebagai bentuk berbagi berkah.
Lambat laun, masyarakat sekitar mulai meniru tradisi tersebut. Seorang mantan abdi dalem yang tinggal di Desa Menuran, Sukoharjo, mencoba mengolah nasi gurih dengan menambahkan lauk-pauk sederhana seperti ayam suwir dan sayur labu siam.
Hasil kreasinya disukai banyak orang, hingga akhirnya dikenal sebagai Nasi Liwet ala Menuran. Seiring waktu, versi rakyat dari hidangan keraton ini menyebar ke berbagai penjuru Solo dan menjadi simbol kebanggaan kuliner daerah.
Makna Filosofis di Balik Setiap Sajian
Bagi masyarakat Jawa, makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga sarat makna. Dalam satu porsi nasi liwet, setiap elemen memiliki simbol tersendiri. Dilansir dari laman Tempo.co, nasi putih gurih melambangkan niat yang tulus dan hati yang bersih.
Telur menjadi lambang kehidupan baru dan harapan yang segar. Ayam suwir mencerminkan semangat berbagi rezeki. Areh putih menggambarkan kelembutan dan kemakmuran. Sedangkan penyajiannya di atas daun pisang melambangkan harmoni antara manusia dan alam.
Tradisi makan nasi liwet secara lesehan juga memiliki filosofi tersendiri: semua orang duduk sejajar, tanpa perbedaan derajat. Nilai kebersamaan dan kesederhanaan begitu terasa, seakan mengingatkan bahwa kenikmatan sejati lahir dari kebersamaan, bukan kemewahan.
Keistimewaan nasi liwet Solo tidak hanya terletak pada bahan-bahannya, tetapi juga pada cara memasaknya yang masih mempertahankan keaslian tradisi. Banyak penjual yang tetap setia menggunakan tungku kayu bakar, bukan kompor gas.
Cara ini menghasilkan aroma asap alami yang khas dan membuat nasi lebih pulen serta tahan lama. Beras yang digunakan biasanya jenis Rojolele Delanggu, terkenal dengan teksturnya yang lembut dan harum.
Nasi dimasak bersama santan, daun salam, dan pandan hingga matang sempurna. Sayur labu siam dimasak dengan bumbu bawang merah, bawang putih, dan cabai merah, sementara ayam kampung diungkep dengan rempah seperti jahe, lengkuas, dan daun salam sebelum disuwir halus.
Sentuhan akhir yang membuat nasi liwet begitu istimewa adalah areh putih santan kental yang dikocok dengan putih telur hingga mengental lembut. Saat disiramkan di atas nasi panas, aroma gurihnya berpadu sempurna dengan wangi daun pisang. Sebagai pelengkap, biasanya disajikan kerupuk rambak, tahu dan tempe bacem, atau ceker ayam bumbu manis.
Dari Makanan Ritual Menjadi Daya Tarik Wisata
Dulu nasi liwet hanya hadir dalam acara ritual atau upacara syukuran, yang dikenal dengan istilah wilujengan. Kini, nasi liwet telah menjelma menjadi ikon kuliner yang mendunia.
Kementerian Pariwisata bahkan menetapkannya sebagai salah satu dari 30 Ikon Kuliner Tradisional Indonesia, sejajar dengan rendang dan gudeg.
Di Solo, kawasan seperti Keprabon, Menuran, dan Stadion Manahan menjadi pusat wisata kuliner nasi liwet. Para penjual menata warung lesehan dengan lampu temaram, menambah suasana hangat di malam hari.
Suara wajan yang bergesekan dengan centong kayu dan aroma santan yang menguar di udara menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Setiap suapan seolah mengajak penikmatnya menyelami kehidupan masyarakat Jawa yang religius, gotong royong, dan penuh rasa hormat terhadap leluhur.
Cita Rasa yang Menyatukan Bangsa
Keunikan nasi liwet Solo terletak pada kemampuannya menyatukan berbagai lapisan masyarakat. Di warung lesehan sederhana, pejabat, pelajar, dan wisatawan bisa duduk bersama menikmati piring yang sama.
Tidak ada pembeda, hanya rasa gurih yang membuat semua merasa dekat. Dari perspektif budaya, nasi liwet mengajarkan nilai-nilai luhur: kebersamaan, kesyukuran, dan keseimbangan. Dari sisi pariwisata, kuliner ini menjadi magnet yang memperkenalkan karakter Solo yang ramah, hangat, dan penuh cerita.
Nasi liwet Solo adalah contoh sempurna bagaimana tradisi dan cita rasa bisa berjalan seiring. Dari sajian keraton yang penuh simbol hingga menjadi makanan rakyat yang akrab di lidah, nasi liwet membuktikan bahwa nilai luhur dapat bertahan melalui kuliner.
Dalam setiap suapan, tersimpan kisah panjang tentang perjalanan budaya, kehangatan keluarga, dan penghormatan kepada yang Ilahi. Bukan hanya lezat di lidah, tetapi juga menyentuh hati—sebuah warisan yang layak dijaga agar tetap hidup di setiap generasi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


