kurangi asap pembakaran sampah mahasiswa kkn ipb bangun insinerator sederhana - News | Good News From Indonesia 2026

Kurangi Asap Pembakaran Sampah, Mahasiswa KKN IPB University Bangun Insinerator Sederhana

Kurangi Asap Pembakaran Sampah, Mahasiswa KKN IPB University Bangun Insinerator Sederhana
images info

Kurangi Asap Pembakaran Sampah, Mahasiswa KKN IPB University Bangun Insinerator Sederhana


Pembakaran sampah secara terbuka masih menjadi kebiasaan sebagian warga Desa Sukajadi, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Praktik ini kerap dilakukan sebagai cara paling mudah untuk mengurangi tumpukan sampah rumah tangga.

Namun, di balik kemudahannya, pembakaran sampah terbuka menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan, terutama asap pekat yang berpotensi mencemari udara dan mengganggu kesehatan masyarakat sekitar.

Asap hasil pembakaran sampah tidak hanya menurunkan kualitas udara, tetapi juga berisiko berdampak pada kenyamanan dan kesehatan warga dalam jangka panjang.

Kondisi tersebut semakin diperparah dengan belum tersedianya Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di Desa Sukajadi. Selain itu, jarak menuju TPS terdekat tergolong cukup jauh, sehingga menyulitkan warga untuk membuang sampah secara terpusat dan terkelola.

baca juga

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN Inovasi IPB University berupaya menghadirkan solusi sederhana yang dapat diterapkan di tingkat desa. Salah satu program kerja yang dilaksanakan adalah Insinerator Sederhana, yang dirancang sebagai alternatif pengelolaan sampah untuk mengurangi kebiasaan pembakaran sampah terbuka di lingkungan permukiman warga.

Program Insinerator Sederhana ini tidak hanya bertujuan untuk menyediakan alat pembakaran sampah. Namun, juga sebagai media edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan.

Melalui program ini, mahasiswa KKN IPB University berupaya mendorong perubahan pola pengelolaan sampah, dari praktik yang berpotensi mencemari lingkungan menuju cara yang lebih terkontrol.

Proses pembuatan insinerator dilaksanakan pada 18 Januari 2026. Insinerator yang dibangun mengadopsi model Rocket Stove, yaitu desain pembakaran yang memungkinkan aliran udara lebih terarah sehingga proses pembakaran menjadi lebih efisien.

Model ini dipilih karena relatif sederhana, mudah diterapkan, serta sesuai dengan kondisi dan kebutuhan desa.

Dalam pembuatannya, insinerator tersebut menggunakan hebel atap bekas dan besi sebagai material utama.

Pemanfaatan bahan yang mudah ditemukan ini bertujuan agar insinerator dapat direplikasi dengan mudah oleh masyarakat apabila dibutuhkan. Selain itu, penggunaan material tersebut juga membantu menekan biaya pembuatan alat.

Menariknya, proses pembangunan insinerator tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa KKN IPB University. Warga desa turut terlibat secara langsung dalam proses pengerjaan, mulai dari tahap awal hingga penyelesaian.

baca juga

Kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat ini membuat proses pembuatan berjalan lebih cepat, sekaligus memberi kesempatan bagi warga untuk memahami cara kerja insinerator secara langsung.

Sebagai bentuk transparansi dan upaya keberlanjutan program, mahasiswa KKN IPB University juga menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB). RAB tersebut kemudian dibagikan kepada pihak desa sebagai bahan informasi.

Dengan adanya RAB ini, warga atau wilayah lain yang ingin membangun insinerator serupa telah memiliki gambaran mengenai kebutuhan biaya dan material yang diperlukan.

Setelah proses pembangunan selesai, insinerator sederhana tersebut diuji coba pada 27 Januari 2026. Aktivitas tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa alat dapat berfungsi dengan baik serta mampu membakar sampah dengan lebih terkontrol.

Melalui pengujian ini, mahasiswa KKN IPB University memastikan bahwa insinerator dapat digunakan sebagai alternatif pembakaran sampah tanpa menghasilkan asap berlebih seperti pembakaran terbuka pada umumnya.

Respons masyarakat terhadap program ini terbilang positif. Warga menunjukkan antusiasme yang cukup tinggi, baik selama proses pembangunan maupun saat uji coba dilakukan.

Bahkan, beberapa RW menyampaikan ketertarikannya untuk meniru dan membangun insinerator serupa di lingkungan masing-masing sebagai upaya mengelola sampah secara mandiri.

Keberadaan insinerator sederhana ini diharapkan dapat menjadi solusi awal dalam mengurangi tumpukan sampah di Desa Sukajadi. Dengan proses pembakaran yang lebih terkontrol, insinerator ini diharapkan mampu membantu menekan polusi udara dan meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan sekitar.

Meski demikian, mahasiswa KKN IPB University menyadari bahwa pengelolaan sampah tidak berhenti pada pembangunan alat semata.

baca juga

Mereka berharap pengelolaan sampah di Desa Sukajadi dapat dilakukan secara lebih sistematis dan terstruktur, mulai dari pendataan volume sampah rumah tangga hingga pengembangan insinerator yang lebih besar dan terencana.

Salah satu warga turut menyampaikan harapannya agar fasilitas ini dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. “Ini tinggal warganya saja yang memanfaatkan dan menjaga insineratornya, harus rajin dibersihkan agar bisa tetap dipakai ke depannya,” ujarnya.

Dengan perawatan dan pemanfaatan bersama, insinerator sederhana ini diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju lingkungan Desa Sukajadi yang lebih bersih dan sehat.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KB
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.