Ayam pelung merupakan salah satu ras ayam lokal unggulan Indonesia yang berasal dari Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Keunikan ayam ini tidak terletak pada fungsi produksi daging atau telur, melainkan pada kualitas suara kokoknya. Ayam pelung dikenal memiliki kokokan yang panjang, berirama, dan terdengar seperti lagu.
Karakter ini membuat ayam pelung berbeda dari kebanyakan ayam lokal lainnya yang umumnya diseleksi berdasarkan ukuran tubuh atau produktivitas. Seperti ayam ketawa dan ayam Berg, ayam pelung dipelihara terutama untuk kualitas suara, dan hanya ayam jantan yang memiliki kemampuan kokok tersebut.
Nama ayam pelung berasal dari istilah dalam Bahasa Sunda, yaitu mawelung, yang berarti melengking atau memanjang. Istilah ini merujuk langsung pada ciri utama ayam pelung, yakni suara kokoknya yang panjang dan beralun.
Secara fisik, ayam pelung memiliki ukuran tubuh yang relatif besar dibanding ayam kampung biasa. Ayam jantan dewasa memiliki bobot antara 3 hingga 6 kilogram dengan tinggi sekitar 40–50 sentimeter, sedangkan ayam betina dewasa berbobot 2–4 kilogram dengan tinggi 35–45 sentimeter.
Meskipun tidak ada standar resmi untuk bentuk fisik, ayam pelung jantan umumnya memiliki tubuh tinggi besar, kaki panjang, dan bulu yang mengilap, dengan warna dominan merah.
Sejarah Penangkaran Ayam Pelung
Penangkaran ayam pelung pertama kali dilakukan oleh H. Djarkasih, yang dikenal dengan sebutan Mama’ Acih, seorang petani sekaligus tokoh agama dari Desa Bunikasih, Kecamatan Warungkondang, Cianjur.
Ia mulai mengembangbiakkan ayam pelung sekitar tahun 1850. Proses awalnya dilakukan dengan mengawinkan seekor ayam jantan muda yang memiliki kokokan lebih panjang dari ayam lain dengan ayam betina kampung biasa. Dari proses seleksi inilah karakter suara ayam pelung kemudian berkembang dan diwariskan secara turun-temurun.
Selain catatan historis tersebut, masyarakat Cianjur juga mengenal kisah asal-usul ayam pelung melalui cerita tradisi lisan dan tulisan. Penulis asal Cianjur, Tatang Setiadi atau Tatang Perceka, dalam bukunya Asal-usulna Hayam Pelung (2011), menuliskan versi cerita yang mengaitkan ayam pelung dengan perjalanan spiritual Mama Djarkasih.
Dalam kisah tersebut, ayam pelung disebut sebagai pemberian setelah tirakat yang dilakukan Mama Djarkasih. Suara gaib disebut memberinya petunjuk untuk mencari sesuatu di bawah pohon kenanga.
“Di sebelah timur tempat ini, di bawah pohon kenanga, carilah ada suatu hal untukmu,” demikian kutipan dalam kisah tersebut. Di tempat itulah ditemukan seekor anak ayam yang kemudian dirawat hingga dewasa dan memiliki kokokan panjang yang disebut melung.
Unggas dari Cianjur
Kabupaten Cianjur dikenal memiliki kekayaan budaya lokal seperti seni mamaos dan aliran silat maenpo. Ayam pelung menjadi bagian dari khazanah budaya tersebut. Sejak tahun 1978, Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Cianjur mulai melestarikan ayam pelung melalui penyelenggaraan kontes.
Dalam kontes ini, penilaian utama difokuskan pada kualitas suara kokok, meliputi panjang suara, irama, dan kestabilan nada.
Penelitian oleh Sofjan Iskandar dan Triana Susanti dalam jurnal Wartazoa Vol. 17 No. 3 Tahun 2007 menyebutkan bahwa ayam pelung merupakan ternak asli Indonesia. Mereka menulis bahwa ayam ini banyak ditemukan di Desa Bunikasih, Jambudipa, Songgom, dan Tegalega di Kecamatan Warungkondang.
“Dipelihara oleh masyarakat terutama untuk suara jago yang khas,” tulis mereka. Data yang dikutip juga menyebutkan bahwa populasi ayam pelung pada tahun 1994 sekitar 5.000–6.000 ekor dan berkembang hingga sekitar 30.000 ekor di Jawa Barat pada tahun 2007.
Kerabat Jauh Ayam Hutan
Dalam kontes, ayam pelung dinilai berdasarkan struktur kokok yang terdiri dari bagian awal, tengah, dan akhir. Data kontes tahun 1985 mencatat ayam juara dengan total waktu kokok 10,5 detik, sementara pada tahun 1987 tercatat ayam juara dengan durasi kokok mencapai 10,9 detik. Durasi ini menunjukkan konsistensi dan kualitas suara yang menjadi ciri unggulan ayam pelung.
Secara genetis, ayam pelung memiliki kekerabatan dekat dengan ayam hutan merah. Makalah tersebut mengutip pendapat Fumihito (1994) yang menyatakan bahwa ayam pelung merupakan salah satu turunan dari variasi genetik ayam hutan di Pulau Jawa. Hal ini memperkuat posisi ayam pelung sebagai sumber daya genetik lokal yang penting.
Menutup kisahnya tentang ayam pelung, Tatang Setiadi menuliskan pesan reflektif yang masih relevan bagi masyarakat saat ini. “Tong kajongjonaaaaan! (Jangan terlena),” tulisnya, mengingatkan bahwa ayam pelung bukan sekadar unggas bersuara merdu, tetapi juga bagian dari identitas dan tanggung jawab budaya masyarakat Cianjur.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


