tanaman sayuran agen fitoremediasi logam - News | Good News From Indonesia 2026

4 Tanaman Sayuran Hijau untuk Agen Fitoremediasi Logam, Tumbuh Cepat dan Jumlah Melimpah

4 Tanaman Sayuran Hijau untuk Agen Fitoremediasi Logam, Tumbuh Cepat dan Jumlah Melimpah
images info

4 Tanaman Sayuran Hijau untuk Agen Fitoremediasi Logam, Tumbuh Cepat dan Jumlah Melimpah


Pencemaran terjadi di sekitar kita sebagai dampak dari berbagai aktivitas manusia, baik pada udara, air, maupun tanah. Dampaknya dirasakan oleh seluruh makhluk hidup yang bergantung pada lingkungan tersebut, bukan hanya manusia, tetapi juga hewan dan tumbuhan.

Pada akhirnya, akibat pencemaran akan kembali dirasakan oleh manusia sendiri. Ketika populasi makhluk hidup lain menurun atau bahkan punah, keseimbangan ekosistem menjadi terganggu. Pasokan oksigen, mineral, serta bahan organik yang secara alami kita butuhkan pun berpotensi terputus.

Menangani pencemaran berarti mengembalikan prioritas pada kelayakan hidup, bukan semata mengejar pertumbuhan ekonomi dan akumulasi kekayaan. Oleh karena itu, diperlukan solusi yang tidak hanya efektif dan efisien, tetapi juga berkelanjutan serta mendukung upaya pelestarian lingkungan.

Salah satu teknik untuk mengurangi bahkan menghilangkan pencemaran di alam yang sejalan dengan prinsip tersebut adalah teknologi fitoremediasi. Teknologi ini tidak mengandalkan bahan sintetis atau zat kimia, melainkan memanfaatkan kemampuan alami tumbuhan hidup sebagai agen pemulihan lingkungan.

Artikel ini menyajikan gambaran umum tentang fitoremediasi serta salah satu agen potensialnya berupa sayuran hijau yang selama ini lebih dikenal sebagai bahan pangan.

Simak pembahasannya untuk menambah wawasan sekaligus memperoleh inspirasi dalam menerapkan solusi ramah lingkungan di sekitar kita.

Apa Itu Fitoremediasi Logam?

Fitoremediasi merupakan teknik remediasi atau penghilangan senyawa polutan di lingkungan dengan memanfaatkan kemampuan alami tumbuhan hidup.

Dalam praktiknya, tanaman berperan sebagai agen penyerap, pengikat, maupun penstabil zat pencemar yang terdapat di air, tanah, atau sedimen.

Berbagai senyawa yang umum dijumpai dalam kasus pencemaran, antara lain logam berat seperti merkuri (Hg), timbal (Pb), kadmium (Cd), kromium (Cr), serta senyawa lain seperti minyak bumi dan beberapa jenis senyawa organik.

Berbeda dengan metode konvensional yang sering mengandalkan bahan kimia atau proses fisik berbiaya tinggi, fitoremediasi dinilai lebih ramah lingkungan karena bekerja secara alami, relatif murah, dan dapat diterapkan langsung di lokasi tercemar.

Dalam beberapa dekade terakhir, penelitian tentang fitoremediasi berkembang pesat baik di tingkat global maupun di Indonesia, seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya solusi berbasis alam untuk memulihkan kualitas lingkungan.

4 Sayuran Hijau yang Punya Kemampuan Penyerapan

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa beberapa tanaman sayuran hijau memiliki kemampuan menyerap logam berat dan berpotensi dimanfaatkan sebagai agen fitoremediasi.

Kangkung air (Ipomoea aquatica), misalnya, diketahui mampu menyerap merkuri dari media air pada konsentrasi tertentu. Hal ini pernah diteliti oleh Sinulingga dkk. (2015) yang melihat kemampuan kangkung air dalam degradasi merkuri (Hg). Logam berat cenderung terakumulasi pada bagian akar dan batang, menjadikan tanaman ini kandidat potensial untuk remediasi perairan tercemar.

Sawi atau pakcoy (Brassica rapa) juga menunjukkan kemampuan menyerap berbagai unsur logam, terutama ketika dibudidayakan dalam sistem terkontrol seperti hidroponik. Misalnya yang pernah diteliti oleh Nurjannah dkk. (2022) menggunakan beberapa media tanam. Struktur perakarannya yang rapat memudahkan penyerapan nutrien sekaligus polutan terlarut.

Eceng gondok (Eichhornia crassipes) sudah lama dikenal sebagai tumbuhan air yang efektif menyerap logam berat seperti kromium dan merkuri. Meski sering dianggap gulma, eceng gondok justru memiliki laju pertumbuhan tinggi dan biomassa besar, sehingga cocok dimanfaatkan untuk fitoremediasi skala perairan.

Sementara itu, selada (Lactuca sativa) juga dilaporkan mampu mengakumulasi logam berat dalam jaringan tanamannya, terutama pada sistem hidroponik. Karakteristiknya yang cepat tumbuh membuat selada menarik untuk penelitian fitoremediasi berbasis pertanian perkotaan.

Keempat tanaman ini memiliki kesamaan penting: pertumbuhannya cepat, jumlahnya melimpah, relatif mudah dibudidayakan, serta tidak memerlukan nutrien yang terlalu tinggi.

Kombinasi inilah yang menjadikannya tidak hanya efektif, tetapi juga berkelanjutan dari sisi ketersediaan bahan hayati.

Bagaimana Metode Penerapannya?

Salah satu metode penerapan fitoremediasi menggunakan sayuran hijau adalah melalui sistem hidroponik, baik sistem aliran (flow system) maupun wick system.

Dalam skema ini, air limbah atau media tercemar dialirkan melalui instalasi hidroponik sehingga akar tanaman dapat langsung berinteraksi dengan polutan.

Beberapa penelitian di Indonesia telah menguji sistem ini dengan menghubungkan sumber air tercemar ke unit hidroponik sederhana.

Hasilnya menunjukkan penurunan konsentrasi logam berat setelah melewati media tanaman. Selain mudah dirakit, sistem ini juga fleksibel untuk diterapkan pada skala kecil, misalnya di lingkungan rumah tangga atau kawasan industri ringan.

Pendekatan ini membuka peluang integrasi antara teknologi pertanian dan pengelolaan lingkungan, khususnya di wilayah perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan.

Setelah Dipanen, Apa Boleh Dikonsumsi?

Tentu saja sayuran hijau yang difungsikan untuk fitoremediasi tidak bisa dikonsumsi karena sudah menyerap polutan berbahaya.

Mengonsumsi tanaman hasil fitoremediasi justru berisiko memasukkan logam berat ke dalam tubuh manusia.

Namun demikian, biomassa tanaman hasil fitoremediasi tidak harus langsung dibuang. Dalam beberapa kajian, biomassa tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biomaterial, kompos khusus non-pangan, atau sumber energi alternatif setelah melalui perlakuan tertentu.

Dengan pengelolaan yang tepat, limbah tanaman ini masih memiliki nilai guna sekaligus mengurangi volume sampah organik.

Melalui pendekatan ini, fitoremediasi tidak hanya menjadi solusi pemulihan lingkungan, tetapi juga bagian dari konsep ekonomi sirkular yang menekankan pemanfaatan kembali sumber daya secara berkelanjutan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Birrbik Faza Muhammad lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Birrbik Faza Muhammad.

BF
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.