Gempa yang terjadi di Bantul, Selasa (27 Januari 2026) kembali mengingatkan kita bahwa hidup di Indonesia berarti berdampingan dengan potensi bencana.
Tahukah Kawan? Indonesia terletak di titik pertemuan antara 3 lempeng tektonik besar dunia yang masih aktif bergerak hingga sekarang.
Getaran yang terasa dalam hitungan detik itu cukup untuk membuat banyak orang terdiam, saling memastikan kabar keluarga, dan menyadari bahwa gempa bisa datang kapan saja tanpa peringatan.
Namun di balik kekhawatiran tersebut, ada kabar baik yang patut dicatat. Kesadaran masyarakat Indonesia terhadap kesiapsiagaan gempa terus meningkat.
Gempa tidak lagi hanya memicu kepanikan, tetapi juga mendorong pertanyaan yang lebih penting: apa yang bisa Kawan siapkan agar keluarga lebih aman? Berikut penjelasannya.
Indonesia dan Realitas Gempa
Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik, wilayah dengan aktivitas tektonik tinggi. Ribuan gempa bumi tercatat terjadi setiap tahunnya, sebagian besar berskala kecil dan tidak menimbulkan dampak besar.
Kondisi geografis ini menjadikan gempa sebagai bagian dari realitas hidup yang tidak bisa dihindari.
Saat ini yang terus berkembang adalah cara masyarakat menyikapinya. Informasi resmi kini lebih mudah diakses.
Edukasi kebencanaan semakin luas, dan pemahaman bahwa kesiapsiagaan dapat menyelamatkan nyawa mulai tertanam di berbagai lapisan masyarakat.
Kabar Baik dari Gempa Bantul
Peristiwa gempa Bantul juga menunjukkan perubahan perilaku masyarakat. Banyak warga segera mencari tempat aman, mengikuti informasi resmi dari BMKG, serta saling mengingatkan untuk tetap tenang.
Media sosial pun tidak hanya dipenuhi kepanikan, tetapi juga berbagi panduan keselamatan dan imbauan kesiapsiagaan.
Hal ini mencerminkan meningkatnya literasi kebencanaan. Gempa kini tidak hanya dipahami sebagai bencana, tetapi juga sebagai pengingat untuk terus belajar dan bersiap.
Apa Saja yang Perlu Disiapkan untuk Menghadapi Gempa?
Kesiapsiagaan gempa tidak harus rumit atau mahal. Langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten justru dapat memberikan dampak besar, terutama bagi keluarga.
Sebelum gempa bumi terjadi, langkah ini yang bisa Kawan persiapkan:
1. Menyiapkan tas siaga bencana
Tas siaga atau emergency kit sebaiknya diletakkan di tempat yang mudah dijangkau.
Beberapa perlengkapan dasar yang disarankan antara lain air minum, makanan siap saji, senter, baterai cadangan, power bank, obat-obatan pribadi, masker, peluit, salinan dokumen penting, serta uang tunai secukupnya.
Tas ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai bentuk antisipasi agar keluarga tidak kebingungan saat keadaan darurat.
Kawan juga bisa menyiapkan tas siaga sesuai dengan kebutuhan penting masing-masing anggota keluarga.
2. Mengamankan kondisi rumah
Langkah sederhana di rumah dapat mengurangi risiko cedera saat gempa, seperti mengikat lemari atau rak besar ke dinding, menempatkan barang berat di rak bagian bawah, serta memastikan jalur evakuasi tidak terhalang.
Cek selalu gas dan instalasi listrik dalam kondisi aman, atap langit-langit apakah ada yang rusak atau retak.
Menentukan titik aman di setiap ruangan juga penting untuk diketahui seluruh anggota keluarga.
Simpan nomor telepon keluarga dan nomor telepon keadaan darurat seperti rumah sakit, polisi, pemadam kebakaran, BPBD, dan lainnya. Ketahui cara penggunaan P3K dan alat pemadam kebakaran sederhana.
3. Edukasi untuk seluruh anggota keluarga
Kesiapsiagaan adalah tanggung jawab bersama. Anak-anak perlu dikenalkan langkah sederhana menghadapi gempa, seperti berlindung di bawah meja, melindungi kepala, dan mengikuti arahan orang dewasa.
Latihan kecil di rumah dapat membantu membangun refleks yang tepat ketika gempa benar-benar terjadi.
Apalagi jika di dalam satu rumah ada bayi, balita, maupun lansia. Koordinasi antaranggota keluarga juga perlu dilakukan supaya semua anggota keluarga bisa selamat.
4. Pastikan lokasi aman
Kawan perlu tahu apakah lokasi rumah, kantor, atau sekolah berada di wilayah yang sering terjadi gempa bumi, pesisir pantai, atau dekat dengan dataran tinggi seperti bukit.
Pastikan bangunan tersebut dibangun sesuai dengan acuan bangunan tahan gempa dan struktur tanah tempat di mana Kawan berada tahan terhadap gempa. Jangan membangun bangunan di atas area rawan gempa.
Ketahui letak titik kumpul atau jalur evakuasi dan pastikan berada di ruang terbuka yang aman dan jauh dari bangunan tinggi.
Lalu, saat gempa bumi terjadi, Kawan bisa lakukan langkah-langkah ini:
1. Tetap tenang dan berusaha tidak panik
Saat gempa terjadi, tetap tenang menjadi kunci utama. Lindungi kepala dan leher, jauhi kaca dan benda yang mudah jatuh, serta hindari penggunaan lift.
Prinsip drop (berlindung dengan merunduk), cover (lindungi kepala), hold on (berpegangan pada kaki meja atau furnitur yang kuat) dapat diterapkan hingga guncangan mereda.
2. Ikuti petunjuk jalur evakuasi
Jika berada di gedung tinggi, segera menuju area terbuka dengan tertib dan mengikuti arahan petugas berwenang menuju jalur evakuasi yang sudah ditentukan.
Jika berada di dalam rumah, cari area terbuka yang aman dari reruntuhan bangunan atau pohon di sekitar.
Jika berada di luar rumah, jangan berlindung di bawah pohon, jalan layang, jembatan, tiang listrik, papan reklame, usahakan tetap tenang dan lindungi diri sambil mencari area yang aman.
Jika sedang berkendara (mobil maupun roda empat lain) segera menepi, tariklah rem tangan, dan tetap berada di tempat hingga situasi aman.
3. Cek kondisi sekitar
Jauhi jendela, pintu, atau benda yang terbuat dari kaca. Pastikan semua peralatan yang terhubung arus listrik dan gas dalam keadaan mati agar tidak terjadi kebakaran.
Perhatikan tanah yang Kawan pijak pastikan tidak berdiri di rekahan tanah atau tanah yang rawan retak dan longsor.
Setelah gempa bumi reda, perhatikan langkah berikut:
1. Tetap tenang dan waspada
Usahakan diri tetap dalam kondisi tenang, tidak panik, tetapi selalu waspada. Jika guncangan sudah reda tetap lindungi kepala, berjaga-jaga jika ada gempa susulan lainnya.
2. Jauhi bangunan yang sudah rusak
Tetap berada di jalur evakuasi sampai situasi benar-benar aman. Jauhi bangunan yang sudah rusak, pohon roboh, tanah retak karena sewaktu-waktu bisa runtuh akibat gempa susulan.
3. Hindari lokasi yang berbau gas
Jauhi lokasi yang berbau gas, cairan berbahaya, seperti bensin.
4. Lakukan bantuan pertolongan pertama
Jika ada korban terluka dari peristiwa gempa bumi, berikanlah bantuan pertolongan pertama dan segera hubungi tim medis seperti puskesmas terdekat atau rumah sakit untuk mendapat penanganan lebih lanjut.
Menjadi Masyarakat yang Sigap, Bukan Sekadar Bertahan
Gempa memang tidak bisa dicegah. Namun dampaknya dapat dikurangi melalui kesiapsiagaan dan pengetahuan yang memadai.
Peristiwa gempa Bantul menjadi pengingat bahwa kesiapan adalah bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan orang-orang terdekat.
Dengan kesiapsiagaan yang semakin baik, setiap guncangan tidak hanya meninggalkan rasa cemas, tetapi juga kesadaran untuk saling menjaga dan bersiap bersama.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


