Berbicara tentang konservasi satwa tentu tak bisa lepas dari sebuah kawasan penting konservasi, suaka margasatwa. Kawasan ini bukan hanya status administratif yang diakui hukum, tetapi rumah aman bagi berbagai satwa yang semakin terancam keberadaannya.
Secara pengertian, suaka margasatwa adalah kawasan suaka alam yang memiliki ciri khas berupa keanekaragaman atau keunikan jenis satwa tertentu, yang untuk kelangsungan hidupnya memerlukan upaya perlindungan dan pembinaan habitat.
Suaka margasatwa ditetapkan secara hukum oleh negara dan dikelola dengan tujuan utama melindungi satwa liar beserta ekosistem pendukungnya dari berbagai ancaman, terutama aktivitas manusia yang dapat merusak keseimbangan alam.
Salah satu lokasi suaka margasatwa (SM) yang sangat penting keberadaannya di Jawa Barat adalah Suaka Margasatwa Cikepuh yang berlokasi di Kabupaten Sukabumi.
Berbatasan langsung dengan kawasan pesisir selatan Jawa dan Samudra Hindia, tempat konservasi ini melindungi kehidupan makhluk hidup darat sekaligus laut yang saling terhubung dalam satu bentang ekosistem alami.

Keragaman Jenis Ekosistem di Suaka Margasatwa Cikepuh I Sumber : Dokumentasi Pribadi
Profil Suaka Margasatwa Cikepuh di Sukabumi
Suaka Margasatwa Cikepuh terletak di wilayah selatan Kabupaten Sukabumi dan mencakup kawasan pesisir hingga daratan berhutan.
Lokasinya yang relatif terpencil menjadikan kawasan ini masih memiliki tingkat gangguan manusia yang lebih rendah dibandingkan wilayah pesisir lainnya di Jawa Barat.
Dari sisi luas kawasan dan kondisi geografis, SM Cikepuh terdiri atas hamparan hutan dataran rendah, hutan pantai, savana alami, serta garis pantai dengan pasir dan karang.

Pantai di Suaka Margasatwa Cikepuh Kabupaten Sukabumi I Sumber : Dokumentasi Pribadi
Kombinasi bentang alam ini menciptakan kondisi ekosistem yang beragam dan saling menopang. Iklim kawasan didominasi iklim tropis dengan curah hujan cukup tinggi, mendukung pertumbuhan vegetasi alami sebagai sumber pakan dan tempat berlindung satwa.
Secara administratif, Suaka Margasatwa Cikepuh sebelumnya telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi oleh pemerintah melalui SK 3685/Menhut-VII/KUH/2014 Tentang Penetapan Kawasan Hutan Suaka Margasatwa Cikepuh Dan Cagar Alam Cibanteng 8.530,05 Hektar Di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.
Status hukum ini menjadi dasar penting dalam pengaturan pemanfaatan kawasan, pengawasan, serta upaya perlindungan satwa dan habitatnya.
Keragaman Biodiversitas Darat dan Laut
Sebagai kawasan konservasi, SM Cikepuh dikenal memiliki keragaman biodiversitas yang tinggi, baik di ekosistem darat maupun laut. Berbagai fauna khas mendiami kawasan ini, mulai dari mamalia, burung, hingga reptil yang sebagian di antaranya berstatus dilindungi.
Catatan dari pengelola SM Cikepuh beberapa satwa khas yang mendiami kawasan konservasi ini di antaranya banteng (Bos javanicus), rusa (Cervus timorensis), kancil (Tragulus javanicus), owa jawa (Hylobates moloch), kera (Macaca fascicularis), lutung (Presbytis cristata), burung rangkong (Rhinoceros silvestris), burung merak (Pavo muticus), dan burung elang (Spilornis chimera).
Selain satwa besar, kawasan ini juga menjadi habitat bagi berbagai herpetofauna, serangga, serta jenis vegetasi alami yang membentuk struktur ekosistem hutan dan pesisir. Keberadaan vegetasi asli berperan penting dalam menjaga kestabilan tanah, siklus air, dan ketersediaan pakan bagi satwa liar.
Di wilayah perairannya, SM Cikepuh juga melindungi ekosistem laut seperti terumbu karang, ikan-ikan pesisir, serta biota laut lainnya yang bergantung pada kondisi pantai yang masih alami dan minim aktivitas manusia.
Lokasi Konservasi Penyu
Salah satu nilai penting SM Cikepuh adalah perannya sebagai lokasi konservasi penyu, khususnya penyu hijau (Chelonia mydas) yang tergolong langka. Pantai-pantai yang sepi dan relatif tidak berpenghuni menjadikan kawasan ini ideal sebagai tempat peneluran penyu.
Penyu hijau bertelur di pantai berpasir dengan cara mengubur telurnya pada kedalaman tertentu di dalam pasir. Namun, telur-telur ini rentan terhadap gangguan predator alami maupun ulah manusia yang tidak bertanggung jawab.
Oleh karena itu, petugas SM Cikepuh melakukan pengamanan dengan memindahkan telur ke lokasi penangkaran semi-alami.
Setelah menetas, tukik atau anak penyu dipelihara sementara hingga cukup kuat, kemudian dilepaskan kembali ke laut. Proses ini menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan peluang hidup penyu di alam liar.
Prospeksi untuk Habitat Baru Badak Jawa
Dalam beberapa tahun terakhir, SM Cikepuh juga dikaji sebagai calon habitat alternatif bagi badak Jawa, salah satu mamalia besar paling langka di dunia.
Kajian ini muncul sebagai respons atas kondisi populasi badak Jawa yang saat ini sangat terbatas dan hanya terpusat di Taman Nasional Ujung Kulon Banten.
Beberapa kondisi ideal yang dipertimbangkan antara lain ketersediaan pakan alami, luas habitat yang memadai, tingkat gangguan manusia yang rendah, serta konektivitas ekosistem yang mendukung pergerakan satwa.

Kondisi Lingkungan di SM Cikepuh I Sumber : Dokumentasi Pribadi
Meski demikian, rencana ini juga menghadapi tantangan besar, mulai dari kesiapan habitat, potensi konflik, hingga kebutuhan pengelolaan jangka panjang yang sangat intensif.
Keberadaan SM Cikepuh merupakan aset konservasi yang sangat berharga. Sayangnya, tidak banyak orang yang mengetahui peran besar kawasan ini dalam menjaga kelangsungan hidup berbagai makhluk hidup yang dilindungi.
Saat banyak tempat lain sibuk memikirkan kebutuhan hidup manusia yang terus bertambah dan seolah tidak ada habisnya, SM Cikepuh beserta orang-orang yang mengelolanya justru mendedikasikan waktu dan tenaga untuk makhluk hidup lain yang juga berhak terus hidup di bumi.
Ke depan, diperlukan dukungan pendanaan yang memadai serta perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat luas agar pengelolaan SM Cikepuh dapat terus berjalan secara berkelanjutan.
Upaya konservasi di kawasan ini bukan hanya tentang menyelamatkan satwa langka, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan alam untuk generasi mendatang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


