Di tengah dinamika demokrasi dan kompleksitas kebijakan publik di Indonesia, suara pemuda kerap hadir namun tidak selalu didengar. Partisipasi sering kali berhenti pada simbol, sementara ruang pengambilan keputusan tetap terasa jauh dari jangkauan generasi muda.
Dalam situasi inilah muncul individu-individu yang memilih tidak sekadar mengeluh, tetapi berupaya membangun jembatan antara gagasan pemuda dan para pengambil kebijakan. Rayhan Fasya Firdausi adalah salah satu di antaranya.
Berangkat dari pengalaman akademik, kerja riset, dan keterlibatan langsung di komunitas, ia menempuh jalur advokasi sebagai bentuk tanggung jawab sosial. Baginya, kebijakan publik bukan sekadar produk birokrasi, melainkan proses yang seharusnya melibatkan mereka yang akan paling merasakan dampaknya di masa depan.
Melalui perjalanan akademik, capaian prestasi, dan inisiatif kolektif seperti Jemput Suara, ia menunjukkan bahwa peran pemuda dalam kebijakan publik tidak harus dimulai dari posisi kuasa, tetapi dari keberanian untuk memulai dan kesediaan untuk terus belajar.
Rayhan Fasya Firdausi dan Jejak karirnya
Rayhan Fasya Firdausi merupakan Chief Executive Officer jemputsuara.org dan alumnus Hubungan Internasional FISIP UPN “Veteran” Yogyakarta angkatan 2019. Aktivitas hariannya berkisar pada kerja-kerja kebijakan publik, terutama sebagai peneliti kebijakan dan penggerak komunitas advokasi. Ia juga aktif mengikuti forum serta konferensi internasional yang membahas isu pembangunan, demokrasi, dan keberlanjutan.
Di luar itu, Fasya rutin menulis opini pribadi mengenai isu sosial di media sosial dan menjaga keseimbangan hidup melalui olahraga, membaca, serta aktivitas rekreasi lainnya. Ketertarikannya pada kebijakan publik tidak hanya berangkat dari latar akademik, tetapi juga dari kegelisahan melihat rendahnya keterlibatan bermakna pemuda dalam proses pengambilan keputusan.
Menurutnya, pemuda kerap diposisikan sebagai penerima kebijakan, bukan sebagai aktor yang turut merumuskan arah pembangunan. Dari titik inilah Fasya memilih jalur riset dan advokasi sebagai medium untuk mendorong partisipasi yang lebih inklusif.
Prestasi sebagai Modal Sosial dan Pembelajaran
Sejumlah prestasi yang diraih Fasya menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Pada 2022, ia dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi UPN “Veteran” Yogyakarta dan mewakili kampusnya di tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta.

Rayhan Fasya Firdausi bersama peserta Young Progressive Academy Batch 4 yang diselenggarakan oleh FES Indonesia bersama Kemenko PMK RI (Foto: Dok Rayhan Fasya Firdausi)
Pengakuan ini menjadi titik awal bagi Fasya untuk menguji gagasan akademiknya dalam praktik sosial. Ia tidak hanya berhenti pada capaian personal, tetapi mulai mengaitkan prestasi tersebut dengan kontribusi nyata di masyarakat.
Pada 2023, Fasya kembali memperoleh pengakuan akademik sebagai Lulusan Terbaik dan penerima Penghargaan Karya Cendekia Program Sarjana pada Wisuda Periode 3 UPN “Veteran” Yogyakarta.
Pada tahun yang sama, ia juga terpilih sebagai Top 5 Peserta Terbaik dalam program Suara Pemuda untuk Indonesia Emas 2045 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga RI bersama YLabs Indonesia.
Forum ini mempertemukannya dengan berbagai gagasan dan keresahan pemuda dari berbagai daerah, sekaligus memperluas perspektifnya mengenai tantangan demokrasi dan pembangunan jangka panjang Indonesia.
Pengalaman tersebut membuka jalan bagi keterlibatan Fasya di tingkat yang lebih luas. Ia terpilih sebagai peserta YoungProgressive Academy Batch 4, hasil kolaborasi Kemenko PMK RI dan Friedrich Ebert Stiftung (FES) Indonesia pada 2025.
Pada 2026, Fasya memperoleh pengakuan internasional sebagai International SDGs Action Ambassador dalam Global Goals Summit yang diselenggarakan oleh Studec International. Bagi Fasya, capaian-capaian ini bukan tujuan akhir, melainkan modal sosial dan ruang belajar untuk memperkuat kerja advokasi yang lebih berdampak.
Jemput Suara, Tantangan, dan Peran Pemuda ke Depan
Jemput Suara resmi berdiri pada 2024 sebagai platform deliberatif yang mempertemukan pemuda dengan para pemangku kebijakan. Berbeda dari pendekatan konvensional, inisiatif ini mendorong aktor politik untuk secara aktif “menjemput” aspirasi pemuda.
Hingga kini, Jemput Suara telah menyelenggarakan forum tahunan dan melibatkan lebih dari 100 pemuda dari berbagai latar belakang, sekaligus memperluas jejaring kolaborasi lintas sektor.
Namun, perjalanan tersebut tidak berjalan tanpa hambatan. Rayhan mengakui bahwa keterbatasan dana dan logistik menjadi tantangan utama, mengingat Jemput Suara dimulai tanpa modal finansial. Selain itu, dinamika internal seperti pergantian pengurus dan ekspektasi akan kesempurnaan di awal gerakan juga menjadi ujian tersendiri.

Rayhan Fasya Firdausi memperoleh pengakuan internasional sebagai International SDGs Action Ambassador dalam Global Goals Summit yang diselenggarakan oleh Studec International.(Foto: Dok Rayhan Fasya Firdausi)
Dari pengalaman ini, Fasya menarik pelajaran bahwa keberlanjutan sebuah gerakan tidak ditentukan oleh kesempurnaan awal, melainkan oleh kemauan untuk memulai dan konsistensi untuk terus bergerak meski dalam keterbatasan.
Dalam pandangannya, pemuda memiliki peran krusial di tengah bonus demografi yang akan dihadapi Indonesia. Meski kekecewaan terhadap arah kebijakan negara kerap muncul, Fasya menilai bahwa kritik perlu dibarengi dengan kontribusi nyata. Pemuda memiliki posisi strategis sebagai kelompok dominan di kelas menengah, penggerak ekonomi, dan penentu masa depan bangsa.
Fasya percaya bahwa pemuda harus diberikan ruang untuk mengekspresikan potensi mereka. Menurutnya, hal ini bisa dicapai melalui berbagai inisiatif, baik secara individu maupun kolektif. Ia mengajak teman-temannya untuk terlibat dalam kegiatan sosial, bisnis, atau organisasi, yang bisa membuka peluang untuk berkontribusi.
"Dengan mengekspresikan ide-ide cemerlang dan menyebarkan inspirasi, kita bisa membuat perbedaan," ujarnya kepada GNFI.
Ia mengingatkan bahwa keberanian untuk melakukan hal-hal kecil adalah langkah awal yang penting dalam perjalanan menuju perubahan. Untuk Generasi Z, Fasya memiliki pesan kuat: jangan terjebak dalam mindset bahwa harus sempurna sebelum memulai. Ia percaya bahwa setiap perjalanan dimulai dari langkah kecil.
Mengutip Zig Ziglar, ia menyatakan, "You don't have to be great to start, but you have to start to be great." Setiap usaha, sekecil apapun, sangat berarti. Fasya mendorong anak muda untuk menjadikan diri mereka sebagai agen perubahan, melangkah dengan penuh keyakinan, dan tidak ragu untuk berbuat demi kebaikan bersama.
Di tengah tantangan dan peluang yang ada, perjalanan Rayhan Fasya Firdausi mengingatkan kita bahwa setiap pemuda memiliki kekuatan untuk berkontribusi dalam membentuk kebijakan publik. Keberanian untuk memulai, meskipun dari langkah kecil, adalah kunci untuk menciptakan perubahan yang berarti.
Mari kita bersatu dalam semangat kolaborasi, berani berbagi ide-ide cemerlang, dan bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik. Sebagai generasi yang memiliki potensi luar biasa, kini saatnya kita menjadi agen perubahan, mewujudkan aspirasi dan impian demi kebaikan bersama. Ingat, kesuksesan tidak datang dari kesempurnaan, tetapi dari keberanian untuk bertindak.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


