Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya akan warisan budayanya. Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak hanya terkenal dengan pesona alamnya yang menawan, tetapi juga terdapat warisan budaya yang hingga kini masih hidup dan terus dijaga dengan penuh rasa bangga yaitu kain tenun hasil karya perempuan-perempuan masyarakat Pulau NTB.
Di balik sehelai kain tenun NTB, tersimpan cerita tentang budaya, kesabaran dan jati diri masyarakatnya. Di Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya daerah Lombok dan Sumbawa, tenun tidak hanya hadir sebagai produk kerajinan saja, tetapi juga sebagai penanda identitas dan cara masyarakat menjaga tradisi yang sudah diwariskan secara turun menurun.
Tenun memiliki peran penting dalam kehidupan sosial dan budaya. Kain tenun kerap digunakan dalam upacara adat, pernikahan, hingga kegiatan sehari-hari. Motif dan warna yang digunakan pun memiliki makna tersendiri, mencerminkan nilai kehidupan, alam, serta filosofi masyarakat setempat. Melalui tenun, cerita tentang budaya dan jati diri masyarakat NTB terus hidup dan dikenalkan dari generasi ke generasi berikutnya.
Bagi masyarakat NTB, menenun bukan hanya sekadar aktivitas menghasilkan kain atau hanya keterampilan semata, tetapi juga menjadi bagian penting dari adat, beberapa desa menganggap seorang anak perempuan dianggap belum siap menikah jika ia belum bisa menenun. Karena itu anak-anak perempuan sudah mulai belajar menenun sejak usia belia, mereka belajar menenun langsung dari ibu atau nenek mereka.
Di setiap helai benang yang disusun mereka belajar bahwa menenun tidak hanya menjadi hasil kerajinan saja, tetapi juga menjadi media pembelajaran budaya dan nilai kehidupan, seperti ketekunan, ketelitian, dan rasa tanggung jawab terhadap warisan leluhur.
Kain tenun khas NTB dibuat secara manual tradisional menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Setiap helai benang demi benang disusun dengan teliti dirangkai satu persatu sehingga membentuk motif yang indah.
Dalam pembuatan satu kain tenun bisa menghabiskan waktu berminggu-minggu bahkan sampai berbulan-bulan semua itu tergantung pada tingkat kerumitan motif dan ukuran kain. Karena dilakukan secara manual menggunakan tenaga manusia, setiap hasil kain yang ditenun memiliki ciri khas yang unik.
Benang yang digunakan dalam proses menenun berasal dari bahan alami kapas dan serat tumbuhan rayon. Keindahannya juga berasal dari pewarnaan yang alami lho kawan, mereka menggunakan tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar mereka. Seperti warna merah yang berasal dari akar mengkudu, kuning berasal dari kunyit, cokelat berasal dari kulit pohon mahoni dan biru alami berasal dari daun tarum.
Pewarnaan yang alami selain ramah lingkungan, pewarnaan alami juga memberikan kesan hangat dan juga memberikan sentuhan warna yang lembut, serta memperlihatkan keharmonisan antara alam dan manusia.
Setiap motif memiliki makna filosofis yang mendalam, terdapat motif yang melambangkan doa untuk kesejahteraan, harapan, hingga keprcayaan spiritual masyarakat setempat. tenun khas NTB dikenal dengan variasi motifnya seperti motif subahnale, motif keker, dan motif rang-rang.
Motif-motif tersebut tidak hanya indah secara visual tetapi juga terdapat simbolisme. Misal motif subahnale memiliki makna mencerminkan rasa syukur kepada Tuhan, sementara motif keker melambangkan kebersamaan dan keselarasan.
Saat ini kain tenun NTB sudah dikenal luas pada tingkat nasional maupun tingkat internasional.
Warisan budaya yang diwariskan turun-temurun ini menjadikan bukti bahwa budaya lokal masih tetap hidup ditengah perkembangan zaman dan modernisasi. Di setiap helai benang yang mereka tenun, perempuan-perempuan sasak tidak hanya melestarikan warisan nenek moyang, tetapi juga menenun untuk masa depan, menjaga identitas jati diri dan memperkenal warisan budaya NTB kepada dunia.
Kain tenun NTB menjadi bukti bahwa tradisi memiliki peran penting dalam membentuk identitas masyarakat. Melalui proses dan makna yang terkandung di dalamnya menjadikan tenun sebagai warisan budaya yang bernilai.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


