Sektor peternakan rakyat memegang peranan vital dalam ekonomi pedesaan di Indonesia. Namun, tantangan klasik seperti manajemen pakan yang kurang optimal sering kali menghambat potensi ternak untuk tumbuh maksimal.
Menjawab tantangan tersebut, semangat kolaborasi dan inovasi ditunjukkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) IPB University di Desa Cibarengkok, Kabupaten Cianjur.
Pada Kamis, 8 Januari 2026, Aula Desa Cibarengkok menjadi saksi antusiasme puluhan peternak lokal. Sebanyak 20 peternak kambing dan domba berkumpul untuk mengikuti kegiatan sosialisasi dan pelatihan pembuatan HerbalMineral Block (HMB). Mereka juga melakukan pengenalan hijauan pakan jenis Leguminosa. Kegiatan sosialisasi ini menjadi langkah konkret untuk mewujudkan ketahanan pangan di tingkat desa.
Masalah "Lapar Tak Kasat Mata" pada Ternak
Kawan GNFI mungkin sering melihat kambing atau domba yang diberi makan rumput hijau melimpah, namun badannya tetap kurus atau bulunya tampak kusam. Dalam dunia peternakan, kondisi ini sering dikaitkan dengan defisiensi mineral atau kekurangan zat renik. Defisiensi mineral pada ternak juga bertanggung jawab pada penurunan performa reproduksi hingga 70%.
Di Desa Cibarengkok, para peternak umumnya mengandalkan rumput lapang sebagai pakan utama. Meskipun hijau dan segar, rumput lapangan sering kali tidak mencukupi kebutuhan nutrisi mikro yang dibutuhkan ternak, terutama untuk fase pertumbuhan dan reproduksi. Masalah inilah yang menjadi sorotan utama KKN IPB University.
Dalam pemaparannya, tim mahasiswa menjelaskan bahwa kekurangan mineral dapat menyebabkan dampak fatal yang sering tidak disadari peternak. Dampak tersebut mulai dari pertumbuhan yang terhambat (kerdil), nafsu makan turun, hingga gangguan reproduksi seperti kesulitan bunting atau keguguran. Bagi peternak rakyat, hal ini tentu menjadi kerugian ekonomi yang cukup besar.

Solusi Hijau, Mengenal Leguminosa
Sebelum masuk ke menu utama pembuatan mineral, Kawan GNFI perlu tahu bahwa perbaikan pakan dasar juga menjadi materi krusial yang disampaikan. Tim KKN IPB University memperkenalkan jenis hijauan pakan dari kelompok Leguminosa (kacang-kacangan).
Tanaman seperti Indigofera, Kaliandra, dan Gamal diperkenalkan sebagai sumber protein berharga bagi peternak. Berbeda dengan rumput gajah atau rumput lapang biasa, leguminosa memiliki kandungan protein kasar yang jauh lebih tinggi yaitu lebih dari 20%.
Kombinasi antara rumput sebagai sumber serat dan legum sebagai sumber protein adalah kunci agar bobot ternak dapat terdongkrak naik dengan cepat.
Edukasi ini membuka wawasan baru bagi peternak Cibarengkok bahwa pakan berkualitas tidak selalu harus pakan pabrikan yang mahal, melainkan bisa ditanam sendiri di pekarangan atau lahan desa.
Praktik Membuat "Permen" Sapi dan Domba
Sesi yang paling dinanti oleh para peserta adalah praktik langsung (hands-on) pembuatan HMB. Bagi Kawan yang belum familier, HMB sering diibaratkan sebagai "permen" atau suplemen jilat bagi ternak ruminansia.
Biasanya, peternak harus merogoh kocek cukup dalam untuk membeli HMB komersial di toko pakan ternak. Namun, mahasiswa KKN IPB University membagikan resep rahasia agar peternak bisa memproduksinya secara mandiri dengan biaya yang jauh lebih terjangkau (low cost).
Bahan-bahan yang digunakan pun sangat mudah didapat di sekitar lingkungan. Campuran utamanya terdiri dari sumber mineral yaitu garam krosok dan mineral mix, semen sebagai bahan perekat (binder), molases sebagai pendukung palatabilitas, kunyit sebagai herbal kaya antioksidan, dan bahan pengisi lainyya seperti dedak dan air.
Adonan ini kemudian dicetak dalam wadah, dipadatkan, dan dikeringkan hingga mengeras seperti batu bata.
Kawan GNFI bisa membayangkan keseruan di Aula Desa saat para bapak peternak yang biasanya memegang arit, kini sibuk mengaduk adonan mineral. Gelak tawa dan diskusi hangat mewarnai proses pencetakan. Cara penggunaannya pun unik, block ini nantinya digantung di kandang agar bisa dijilat oleh ternak sesuai kebutuhan naluriah mereka.

Menuju Peternak yang Berdaya dan Mandiri
Kegiatan yang berlangsung seharian ini tidak hanya sekadar transfer ilmu, tetapi juga upaya membangun mentalitas peternak modern. Dengan kemampuan membuat pakan suplemen sendiri, ketergantungan peternak terhadap produk luar dapat dikurangi.
Harapan jangka panjang dari kegiatan ini adalah terciptanya ekosistem peternakan di Desa Cibarengkok yang lebih produktif. Ketika nutrisi ternak terpenuhi, kesehatan ternak akan meningkat, angka kematian menurun, dan pada akhirnya kesejahteraan peternak pun akan terangkat.
Inisiatif mahasiswa KKN IPB ini membuktikan bahwa ilmu pengetahuan yang didapat di bangku kuliah akan menjadi sangat bermanfaat ketika diterapkan langsung untuk memecahkan masalah di masyarakat. Semoga semangat peternak Cibarengkok ini bisa menular ke desa-desa lain di Indonesia ya, Kawan!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


