Kawan tentu sudah tak asing dengan tape ketan, sebuah makanan fermentasi yang terbuat dari beras ketan.
Tape ketan adalah makanan yang sangat populer di kalangan masyarakat Jawa dan Sunda, tetapi juga dikenal luas oleh masyarakat Indonesia secara umum.
Kata tapai atau tape berasal dari bahasa Proto-Malayo-Polynesian yang berarti “makanan yang difermentasi”.
Makanan ini bukan hanya sekadar kuliner, tetapi di beberapa tradisi juga mengandung makna budaya dan sosial.
Proses pembuatan tape ketan cukup sederhana, yaitu dengan merendam dan mengukus beras ketan hingga matang.
Selanjutnya didinginkan dan diberikan ragi tape yang berisi kumpulan mikroorganisme untuk proses fermentasi. Setelah melalui proses fermentasi, tape ketan akan memiliki rasa yang manis dan sedikit asam.
Selain itu, akan tercium aroma khas alkohol ringan sebagai akibat dari aktivitas metabolisme mikroba yang tumbuh dalam ketan.
Tape ketan tidak hanya memiliki cita rasa yang enak dan unik. Makanan kesukaan masyarakat Indonesia ini juga memiliki segudang manfaat kesehatan, terutama fungsinya sebagai makanan probiotik.
Apa Itu Makanan Probiotik
Makanan probiotik adalah jenis makanan yang mengandung konsorsium mikroba sehat.
Keragaman jenis mikroba dalam makanan ini cenderung menstimulasi kinerja saluran pencernaan secara lebih efektif serta membantu menekan laju pertumbuhan mikroba patogen yang biasanya bersifat monokultur.
Dengan kata lain, probiotik bekerja sebagai “penjaga keseimbangan” mikroorganisme di dalam usus.
Ketika keseimbangan ini terjaga, proses pencernaan berlangsung lebih optimal, penyerapan zat gizi meningkat, dan sistem kekebalan tubuh pun ikut terdorong.
Selain tape ketan, contoh makanan probiotik lain yang cukup dikenal antara lain yoghurt, kefir, kimchi, tempe, oncom, dan kombucha.
Kesamaan dari berbagai pangan tersebut terletak pada proses fermentasinya, yang melibatkan mikroorganisme hidup seperti bakteri asam laktat dan ragi.
Mikroba inilah yang kemudian berperan aktif dalam menjaga kesehatan saluran cerna ketika dikonsumsi dalam jumlah yang cukup.
Tape Ketan, Probiotik yang Berkhasiat Tinggi
Sebagai produk fermentasi tradisional, tape ketan secara alami mengandung bakteri asam laktat dan ragi yang berperan sebagai agen probiotik.
Mikroorganisme ini membantu memecah pati menjadi gula sederhana sehingga tape ketan menjadi lebih mudah dicerna oleh tubuh.
Tak hanya itu, proses fermentasi juga menghasilkan berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi mendukung kesehatan.
Inilah sebabnya tape ketan sering disebut sebagai pangan fungsional, yaitu makanan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga memberi manfaat tambahan bagi tubuh.
Beberapa manfaat tape ketan bagi kesehatan tubuh antara lain:
- Membantu menjaga keseimbangan mikroflora usus
- Mendukung kelancaran sistem pencernaan
- Berpotensi meningkatkan daya tahan tubuh
- Membantu penyerapan vitamin dan mineral
- Mendukung metabolisme energi melalui aktivitas mikroba fermentasi
Jika dikonsumsi secara wajar, tape ketan dapat menjadi bagian dari pola makan sehat sehari-hari, terutama sebagai sumber probiotik alami yang mudah diperoleh.
Inovasi Berbasis Bioteknologi pada Tape Ketan
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, tape ketan tidak lagi hanya dipandang sebagai makanan tradisional, tetapi juga mulai dikaji sebagai produk berbasis bioteknologi pangan.
Salah satu bentuk inovasi yang dilakukan adalah penambahan variasi bakteri tertentu untuk meningkatkan fungsi kesehatannya.
Melalui pendekatan ini, komposisi mikroba dalam tape ketan dapat diarahkan agar menghasilkan manfaat yang lebih spesifik, misalnya untuk kesehatan pencernaan atau peningkatan imunitas.
Selain itu, pengaturan proses fermentasi juga memungkinkan diperolehnya produk tape dengan kualitas yang lebih seragam dan stabil.
Ke depan, rekayasa pada tingkat genetik maupun koloni mikroba berpotensi menghasilkan tape ketan dengan fungsi kesehatan tertentu, sesuai kebutuhan masyarakat.
Inovasi semacam ini membuka peluang besar bagi tape ketan untuk berkembang dari pangan tradisional menjadi produk pangan fungsional modern, tanpa harus meninggalkan nilai budaya yang melekat di dalamnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


