belajar dan berproses dalam menyediakan asupan pangan sehat bagi anak - News | Good News From Indonesia 2026

Belajar & Berproses dalam Menyediakan Asupan Pangan Sehat bagi Anak

Belajar & Berproses dalam Menyediakan Asupan Pangan Sehat bagi Anak
images info

Belajar & Berproses dalam Menyediakan Asupan Pangan Sehat bagi Anak


“Nasi kurang banyak!”

“Kenapa tidak ada minum? Baru kita makan tanpa minum ini?”

Demikian komentar beberapa anak Papua ketika menerima paket makan siang dari sekolah. Ketika ditanya lebih lanjut apakah mereka membutuhkan dan menyantap makanan tersebut, jawab mereka sambil tersenyum,

“Sa makan tiga kotak.”

“Sa dua.”

Di lapangan, terutama di area kerja Wahana Visi Indonesia (WVI) yang mayoritas wilayah 3T, anak-anak memang sangat membutuhkan makanan tambahan seperti ini.

Menurut laporan Penelitian Anak Tentang Situasi Remaja Terkait Gizi, Kesehatan, dan Perkawinan Anak yang dilakukan WVI tahun 2024, tercatat anak-anak di Papua dan berbagai wilayah tertinggal lainnya, sering kali berangkat ke sekolah tanpa sarapan. Di kantong-kantong kemiskinan lain di Indonesia, anak-anak terpaksa makan sehari sekali. Bagi kita yang memiliki kesempatan memenuhi kebutuhan pangan bergizi anak, mungkin tidak bisa membayangkan anak belajar dalam keadaan lapar. Tapi kami di daerah melihat sendiri bagaimana pemberian makanan di sekolah sangat membantu anak untuk mendapatkan hak dasar mereka atas makanan (sehat).

Namun demikian, kita semua tahu bahwa program pemberian makanan atau asupan gizi tambahan di sekolah perlu mendapat perhatian khusus agar sesuai dengan yang diharapkan. Selama tiga tahun WVI, organisasi di mana saya bernaung telah mengerjakan sebuah program terkait dukungan makanan bergizi bagi anak di 143 SD di Nusa Tenggara Timur, Papua, dan Jakarta.

Dari program tersebut kami belajar bahwa permasalahan desa dan kota sangatlah berbeda. Sumber daya pangan di kota tidak sebanyak di pedesaan. Anak cenderung kebanyakan konsumsi gula, garam, dan lemak berlebihan karena makanan dan minuman cepat saji. Sementara anak-anak di pedesaan, mereka tercukupi buah dan sayur, tetapi jarang mengonsumsi protein hewani.

Meskipun demikian, sangat mungkin ada wilayah pedesaan yang karakternya berbeda. Misalnya saja kami menemukan anak-anak pedesaan di pegunungan dan pesisir yang memiliki perbedaan kebutuhan. Ketersediaan pangan lokal pesisir dan pegunungan jelas berbeda, sehingga kebutuhan asupan gizi seimbangnya juga berbeda.

Di awal program berjalan, WVI memberikan bantuan asupan sehat yang seragam di semua wilayah. Lagi-lagi bubur kacang hijau yang kami pilih, sementara tidak semua anak membutuhkan dan menyukai kacang hijau. Bagi anak, makanan bergizi bukan hanya tentang manfaat, tetapi juga rasa. Setelah mengevaluasi dan melakukan penggalian kebutuhan gizi anak dan potensi sekolah serta masyarakat di sekitarnya, tahun kedua kami berubah strategi.

Program dimodifikasi menyesuaikan kebutuhan dan konteks wilayah, untuk memastikan bahwa jika program telah berakhir maka masyarakat dapat terus melanjutkannya. Edukasi yang diberikan pada sekolah dan masyarakat kemudian ditambah dengan materi pemanfaatan lahan. Masyarakat dan sekolah diajak untuk bercocok tanam atau membuat kolam ikan sesuai dengan kondisi lahan dan kebutuhan asupan gizi anak.

Kemudian, WVI memberikan bantuan bibit sayur atau ikan lele untuk memantik partisipasi warga sekolah dan pemangku kepentingan untuk melanjutkan program gizi sekolah. Di tahun ke-3 program, sekolah-sekolah sudah menikmati hasilnya. Bahkan ada yang lebih dari sekali panen. Ini berarti bahwa di penanaman kedua dan seterusnya mereka sudah mengupayakan sendiri bibit dan kebutuhan lain. Beberapa daerah berhasil mengakses anggaran dari Dana Desa untuk keperluan ini.

Pada saat evaluasi akhir, dari 143 sekolah yang berpartisipasi di program ini, ada 86% sekolah yang tetap melanjutkan program pembiasaan hidup sehat termasuk makan bergizi sekalipun tidak lagi didampingi langsung oleh WVI. Sekolah jadi lebih percaya diri untuk menyelenggarakan pendidikan kesehatan lewat sumber daya yang mereka miliki.

Di Asmat yang notabene hidup di atas rawa-rawa, program yang dilaksanakan juga berbeda. Masyarakat diajak untuk mengembangkan kebun terapung. Desain program ini mengintegrasikan pemberdayaan masyarakat dengan kearifan lokal yang ada. Seminggu sekali anggota masyarakat berkumpul untuk memasak bersama, yang akan menjadi santapan sehat anak-anak mereka. Tidak ada yang mengeluarkan uang untuk menyediakan makanan sehat, hanya tenaga yang secara sukarela mereka sumbangkan.

Perubahan dari sekedar memberikan makanan bergizi menjadi upaya peningkatan pengetahuan bagi murid, guru, orang tua, dan masyarakat, dapat menjadi bekal yang bermanfaat bagi mereka. Upaya untuk membangun kebiasaan makan makanan bergizi dan perilaku hidup sehat sejak dini dapat dimulai dengan perubahan pemahaman. Menyediakan makanan bergizi bagi anak tidak harus mahal. Makanan bergizi bisa berasal dari lingkungan di sekitar kita.

Program ini juga melibatkan sektor privat yang ikut menyediakan akses pipanisasi di Kuanfatu, Timor Tengah Selatan. Warga di beberapa wilayah Kab. Manggarai juga ada yang meminjamkan tanahnya sebagai kebun gizi. Mereka yang tidak memiliki tanah, menawarkan diri menjadi relawan untuk menghalau hewan yang merusak kebun sayur.

Program tersebut telah berakhir tahun lalu, tetapi masyarakat setempat terus menjalankannya dengan cara-cara mereka sendiri. Memang tidak ada makanan yang datang sendiri ke atas meja. Setiap orang berkontribusi hingga terhidangnya makanan sehat untuk anak, dari mulai menanam, merawat, hingga mengolahnya. Ada perjalanan panjang dari mulai bertambahnya pengetahuan hingga perubahan perilaku dari seluruh proses pemberian tambahan makanan sehat ini.

Satu hal yang saya bisa pastikan, anak-anak kami di daerah-daerah tertinggal di Indonesia jelas membutuhkan makanan tambahan, terutama yang gizinya benar-benar terjamin.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

YR
AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.