Pendataan pascabencana yang dilakukan mahasiswa Politeknik Statistika (Polstat) STIS bukan hanya soal menjalankan tugas dari kampus. Di baliknya, ada pula beragam cerita menarik.
Maklum saja, para mahasiswa yang dikirim adalah mereka yang sedang menempuh perkuliahan di tahun ketiga. Pendataan di wilayah pascabencana ini pun jadi pengalaman mereka turun ke lapangan yang sekaligus menjadi Praktik Kerja Lapangan (PKL) mereka.
Sebagaimana diketahui, sebanyak 510 mahasiswa Polstat STIS diterjunkan ke Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat—tiga daerah yang terdampak banjir besar pada akhir 2025 lalu. Berangkat sejak Rabu (14/1/2026), mereka mengumpulkan data dari lokasi bencana selama sekitar 12 hari guna mendukung program penyaluran bantuan kepada korban banjir dan pembangunan kembali infrastruktur.
Saat baru tiba saja, mahasiswa langsung dihadapkan pada situasi yang belum pernah dilihat langsung sebelumnya. Cerita ini misalnya datang dari mahasiswa yang bertugas di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Yoga Prawira. Dalam pengalaman pertamanya turun lapangan ini, ia langsung melihat sendiri bagaimana sulitnya kehidupan para korban banjir.
"Saya baru pertama kali ke lapangan. Setelah belajar dan kuliah tentang pengetahuan serta ilmu-ilmu yang dipelajari, ternyata di lapangan itu perlu diperhatikan karena ada teman-teman kita yang kena dampak bencana itu, minum saja susah," ujar Yoga saat ditemui di Gampong Manyang Lancok, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Sabtu (17/1/2026) lalu.

Banjir memang membuat hidup masyarakat, khususnya yang berada di Pidie Jaya, kesulitan. Sekitar dua bulan setelah banjir, kondisi di Pidie Jaya belum sepenuhnya pulih meski aktivitas masyarakat sudah berangsur normal.
Di pinggir jalan utama di Pidie Jaya, yakni Jalan Banda Aceh–Medan, bangunan rusak dan tenda darurat masih terlihat di sejumlah titik. Di dalam perkampungan warga, masih banyak pula rumah yang terbenam lumpur sisa banjir dengan ketinggian mencapai atap.
"Hal yang paling terasa banget itu apabila masih di jalan-jalan, seperti kiri kanannya masih banyak lumpur, terus debunya tidak bisa ditoleransi. Jadi, kami harus pakai masker setiap hari," ujar mahasiswa lain, Faruq Hadi Ramadhan.
Uniknya lagi, bukan cuma sisa-sisa bencana yang bikin mahasiswa terkejut. Keberadaan hewan ternak seperti kambing dan sapi yang berkeliaran juga jadi pemandangan baru tersendiri bagi rekan Yoga dan Faruq, Putri Yuli Yanti. Di mata Putri yang berasal dari Jakarta, hal seperti itu adalah sesuatu yang unik.
"Di Jakarta tidak ada seperti itu. Dan juga benar-benar sangat amat berbeda dengan di Jakarta," katanya.
Selama di Pidie Jaya, mahasiswa mendata keadaan rumah tangga dan infrastruktur publik yang terdampak banjir. Mereka didampingi oleh Petugas Pemeriksa Lapangan (PML) yang terdiri dari dosen Polstat STIS dan pegawai BPS RI, serta didukung oleh Koordinator Wilayah dari BPS provinsi dan BPS daerah setempat.

Kondisinya Sulit, Adaptasinya Mudah
Di tengah sulitnya kondisi di medan bencana, ternyata para mahasiswa Polstat STIS yang melakukan pendataan mengaku mampu beradaptasi tanpa kesulitan. Di balik hal-hal getir yang mereka lihat di Pidie Jaya, ada pula hal yang memberi sepercik rasa senang, seperti keramahan masyarakat setempat.
"Adaptasinya tidak begitu sulit karena orangnya juga sangat ramah, warga-warga di sini," kata Putri.
Selain keramahan warga, sedapnya kuliner Aceh juga bikin mahasiswa senang. Di Pidie Jaya, memang tidak sulit menemukan makanan khas setempat seperti mi Aceh dan kopi sanger.

"Di sini kami disuguhkan kopi dan mi Aceh, hal yang tidak ada di Padang," kata Yoga seraya membandingkan kuliner Aceh dengan makanan ala kampung halamannya di Sumatra Barat yang menurutnya lebih bersantan.
Terlepas dari segala kondisi yang dihadapi para mahasiswa dan beragam ceritanya, BPS berharap agar pendataan ini tidak hanya sekadar menjadi kewajiban akademik, melainkan juga kerja kemanusiaan.
“Satu hal yang harus kita pahami, kita berangkat dengan semangat kemanusiaan. Tidak semua mahasiswa Politeknik Statistika STIS berkesempatan untuk berkontribusi langsung terhadap kemanusiaan dan penanganan bencana. Inilah ruang belajar kehidupan, asah profesionalisme, dan punya rasa empati serta kepemimpinan sejak dini,” jelas Wakil Kepala BPS RI, Sonny Harry Budiutomo Harmadi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


