museum trinil ngawi jejak evolusi pithecanthropus di tepian bengawan solo - News | Good News From Indonesia 2026

Museum Trinil Ngawi, Jejak Evolusi Pithecanthropus di Tepian Bengawan Solo

Museum Trinil Ngawi, Jejak Evolusi Pithecanthropus di Tepian Bengawan Solo
images info

Museum Trinil Ngawi, Jejak Evolusi Pithecanthropus di Tepian Bengawan Solo


Kalau Kawan sedang berada di Kabupaten Ngawi Jawa Timur cobalah untuk mengarahkan perjalanan menuju Dusun Pilang Desa Kawu guna mengunjungi Museum Trinil.

Destinasi sejarah ini merupakan salah satu situs paleoantropologi terpenting di dunia karena menjadi lokasi penemuan fosil manusia purba Pithecanthropus Erectus. Terletak di tepian Sungai Bengawan Solo museum ini menyimpan berbagai bukti evolusi makhluk hidup yang berasal dari jutaan tahun yang lalu.

Kawasan museum ini memiliki area yang cukup luas dengan lingkungan yang tenang dan dipenuhi oleh pepohonan rindang. Saat memasuki gerbang utama pengunjung akan disambut oleh patung gajah purba raksasa yang memiliki gading sangat panjang sebagai gambaran fauna masa lampau. Museum ini menjadi rujukan utama bagi para peneliti, mahasiswa, maupun masyarakat umum yang ingin melihat langsung sisa-sisa kehidupan zaman prasejarah secara mendalam.

 

Sekilas Mengenai Sejarah Penemuan dan Sosok Wirobalung

Sejarah Museum Trinil tidak dapat dilepaskan dari peran Eugene Dubois yang melakukan ekskavasi besar-besaran pada tahun 1891 dan 1892.

Setelah gagal menemukan fosil yang sesuai di Sumatera Dubois beralih ke Pulau Jawa dan menemukan atap tengkorak serta tulang paha manusia kera yang berjalan tegak di Trinil. Penemuan ini kemudian mengguncang dunia ilmu pengetahuan internasional karena dianggap sebagai jembatan yang hilang dalam garis evolusi manusia.

Namun di balik penemuan Dubois terdapat sosok pribumi bernama Wirodiharjo atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Wiro Balung. Sejak tahun 1967 beliau secara swadaya mengumpulkan berbagai fragmen fosil yang ditemukan warga di sekitar aliran Bengawan Solo. Kegigihannya mengumpulkan "balung buto" atau tulang raksasa di rumahnya mendorong Pemerintah Daerah Ngawi untuk membangun museum kecil pada tahun 1980 guna menampung koleksi tersebut.

Museum Trinil yang ada saat ini diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur Soelarso pada 20 November 1991 bertepatan dengan peringatan 100 tahun penemuan Pithecanthropus Erectus. Museum ini kini menempati lokasi yang dulunya merupakan area sekitar rumah Wirodiharjo di pinggiran sungai.

 

Ragam Koleksi Fosil Hewan dan Manusia Purba

Koleksi utama di dalam museum ini tentu saja adalah replika dan fragmen asli dari tengkorak serta tulang paha Pithecanthropus Erectus. Selain manusia purba terdapat beragam fosil hewan darat maupun laut yang sangat langka. Salah satu koleksi yang menonjol adalah gading gajah purba jenis Stegodon Trigonocephalus yang ukurannya jauh melampaui gading gajah modern yang ada saat ini.

Kawan juga dapat melihat fosil tengkorak dan tanduk kerbau purba (Bubalus Palaeokerabau) serta banteng purba (Bibos Palaeosundaicus) yang masih memiliki tekstur pori-pori tulang yang sangat jelas.

Ada pula fosil tulang hasta harimau purba (Panthera Tigris) yang ditemukan dalam kondisi hampir utuh. Keberadaan fosil cangkang kerang raksasa (Tridacna Gigas) di lokasi ini membuktikan bahwa wilayah Trinil dulunya merupakan lingkungan yang sempat dipengaruhi oleh kondisi perairan laut.

Setiap koleksi dilengkapi dengan keterangan ilmiah mengenai jenis spesies dan bagian anatomi tubuh yang ditemukan. Penataan koleksi disusun dalam etalase kaca serta beberapa diorama untuk memudahkan pengunjung memahami posisi dan konteks penemuan fosil tersebut di alam liar.

 

Harga Tiket Masuk dan Jam Operasional Museum

Mengunjungi Museum Trinil sangatlah ekonomis karena tarif masuk yang ditetapkan sangat murah bagi seluruh lapisan masyarakat.

Kawan hanya perlu membayar tiket masuk sebesar Rp3.000 untuk kategori dewasa. Sementara itu bagi anak-anak dan pelajar tarif tiket yang dikenakan hanya Rp1.000 sehingga sehingga tempat ini sangat sering dijadikan tujuan wisata edukasi bagi sekolah-sekolah di sekitar Jawa Timur.

Museum Trinil beroperasi setiap hari Selasa hingga Minggu dan tutup pada hari Senin untuk keperluan pembersihan serta perawatan koleksi. Jam buka dimulai dari pukul 08.00 hingga 15.30 WIB. Khusus pada hari Jumat terdapat jeda waktu istirahat antara pukul 11.00 hingga 13.00 WIB guna memberikan kesempatan bagi petugas untuk menunaikan ibadah.

Fasilitas pendukung di lokasi ini sudah cukup memadai mulai dari area parkir yang luas, toilet umum, hingga warung-warung kecil yang dikelola warga sekitar. Di halaman museum juga terdapat monumen tinggi bertuliskan "P.e. 175 m" yang menunjukkan titik arah dan jarak penemuan fosil Pithecanthropus Erectus dari lokasi berdirinya monumen tersebut.

 

Lokasi dan Jalur Perjalanan dari Pusat Ngawi

Museum Trinil beralamat di Dusun Pilang Desa Kawu Kecamatan Kedunggalar Kabupaten Ngawi Jawa Timur. Jaraknya sekitar 13 hingga 15 kilometer dari pusat kota Ngawi ke arah barat menuju Solo. Waktu tempuh yang dibutuhkan dari pusat kota adalah sekitar 22 hingga 30 menit melalui jalur utama Jalan Maospati-Solo yang sudah beraspal halus dan lebar.

Akses menuju museum cukup mudah ditemukan karena terdapat papan petunjuk arah yang jelas di persimpangan jalan besar Kedunggalar. Jalur masuk menuju desa tempat museum berada dapat dilalui oleh kendaraan roda dua maupun bus pariwisata berukuran besar.

Lokasinya yang berada di jalur perlintasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah menjadikan museum ini sebagai titik singgah yang strategis bagi pelaku perjalanan jarak jauh.

 

Ayo Pelajari Sejarah Peradaban Manusia di Museum Trinil Ngawi

Melihat langsung gading gajah raksasa dan jejak manusia purba Pithecanthropus Erectus di tepian Bengawan Solo akan memberikan perspektif baru mengenai sejarah kehidupan di bumi. Museum Trinil adalah bukti nyata betapa kayanya peninggalan prasejarah yang terkubur di tanah Ngawi.

Jadi kapan Kawan akan merencanakan kunjungan untuk melihat fosil Stegodon di Museum Trinil ini

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.