Stasiun Batang Jawa Tengah menjadi stasiun pertama di Indonesia yang memakai teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Terletak di Sambong, Batang, Stasiun Batang menjadi stasiun yang paling awal menggunakan PLTS dengan sistem On Grid—sistem panel surya yang terhubung langsung dengan jaringan listrik milik Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Menariknya, PLTS dengan sistem On Grid itu merupakan buatan Jerman dan menjadi teknologi baru yang mengkombinasikan sumber listrik yang dihasilkan PLN dengan sumber listrik dari panel surya itu sendiri. Keduanya bisa menyuplai listrik secara bergantian tergantung dengan cuaca saat itu.
Kapasitas panel surya di Stasiun Batang menembus 6.000 watt. Efisiensi biayanya cukup tinggi, yakni sekitar 50 persen di musim penghujan dan akan lebih besar di musim kemarau.
Melansir dari situs resmi Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), penghargaan tersebut diberikan pada Desember 2019 kepada PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasional (Daop) IV Semarang selaku pihak yang mengoperasikan Stasiun Batang. Rekor MURI ini diberikan berkat inovasi di bidang energi baru dan terbarukan melalui penggunaan PLTS untuk mendukung kebutuhan listrik di Stasiun Batang.
Pemasangan PLTS di Stasiun Batang dilakukan menjelang momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2020 silam. Proses pengerjaannya memakan waktu sekitar 14 hari. PLTS itu dioperasikan pada 6 Desember 2019.
Stasiun Ramah Lingkungan

Stasiun Batang adalah stasiun yang menggunakan PLTS pertama di Indonesia | IESR
Stasiun Batang merupakan stasiun kelas III yang sempat nonaktif selama empat tahun. Kemudian, PT KAI (Persero) memfungsikan kembali stasiun itu pada kuartal pertama 2019.
Stasiun yang dibangun oleh Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) itu memiliki dua bangunan, yakni bangunan lama dan baru. Pada bangunan baru itulah PLTS dipasang. Pemasangannya dilakukan di bagian atap stasiun.
Merangkum dari berbagai sumber, terdapat 16 panel surya berukuran 2 m x 1 m. Masing-masing memiliki kapasitas hingga 375 kWp.
Energi listrik yang dihasilkan PLTS di Stasiun Batang digunakan untuk operasional stasiun, mulai dari menyalakan AC di ruangan dan loket. Lampu-lampu sampai sound system juga dialiri listrik dari PLTS, sehingga lebih hemat.
Kawan GNFI, saat ini PT KAI (Persero) sudah memasang lebih dari 60 unit PLTS di berbagai titik operasional perusahaan mereka di Jawa dan Sumatra, termasuk perkantoran, griya karya, balai yasa, dan stasiun. Sekarang, sudah banyak stasiun-stasiun besar di Indonesia yang menggunakan PLTS untuk mendukung penggunaan energi hijau yang ramah lingkungan.
Merangkum dari ANTARA, beberapa stasiun yang sudah memakai PLTS selain Stasiun Batang adalah Stasiun Gambir, Stasiun Malang, Stasiun Surabaya Gubeng, Stasiun Bojonegoro, Stasiun Medan, dan lain sebagainya. Ada lebih dari 50 stasiun yang dipasangi PLTS untuk mendukung operasional listrik mereka.
Dukung Kawasan Industri Batang
Stasiun Batang berada di posisi yang strategis. PT KAI (Persero) pun mendukung perkembangan Kota Batang yang masuk ke dalam Kawasan Industri Terpadu Batang-Kawasan Ekonomi Khusus (KITB-KEK) Industropolis Batang.
Besar harapan agar stasiun ini bisa terus berkembang sebagai simpul transportasi yang mendukung perkembangan ekonomi industri serta pariwisata di Batang.
Lebih lanjut, melalui humas.jatengprov.go.id yang dikelola Humas Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berencana untuk membangun stasiun ini untuk mendukung angkutan logistik terpadu dan aglomerasi transportasi penumpang.
Pada Oktober 2025 lalu, muncul rencana untuk membangun dry pot alias pelabuhan kering/tempat bongkar muat berbasis rel yang mendukung angkutan logistik terpadu di provinsi tersebut. Muncul ide penggunaan kereta api commuter line atau kereta rel listrik (KRL) selayaknya yang ada di Jabidetabek.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


