toxic masculinity - News | Good News From Indonesia 2026

Membedah Toxic Masculinity, Bagaimana Laki-Laki Mengekspresikan Diri?

Membedah Toxic Masculinity, Bagaimana Laki-Laki Mengekspresikan Diri?
images info

Membedah Toxic Masculinity, Bagaimana Laki-Laki Mengekspresikan Diri?


Di banyak ruang sosial di Indonesia, maskulinitas masih sering dipahami secara sempit. Laki-laki diharapkan selalu kuat, tegas, dan tidak menunjukkan emosi. Menangis dianggap tanda kelemahan, sementara sikap lembut kerap dipandang tidak sejalan dengan citra “laki-laki sejati”.

Pandangan ini melahirkan toxic masculinity; sebuah pola pikir yang bukan hanya menekan perempuan, tetapi juga membatasi laki-laki itu sendiri.

Di balik citra macho yang diagungkan, banyak laki-laki tumbuh dengan kebiasaan menekan perasaan dan menjauh dari sisi emosionalnya.

Padahal, kemampuan merasakan dan mengekspresikan emosi adalah bagian penting dari kematangan sebagai manusia.

Maskulinitas dalam Belenggu Norma Sosial

Dalam kehidupan sehari-hari, toxic masculinity hadir lewat norma-norma tak tertulis. Laki-laki “seharusnya” tidak menangis, tidak boleh terlihat rapuh, dan selalu tampil kuat di hadapan siapa pun.

Hal-hal sederhana seperti merawat diri atau bersikap lembut sering kali dipandang menyimpang dari standar maskulinitas.

Tekanan semacam ini kerap membentuk beban psikologis yang tidak terlihat. Emosi yang ditekan tidak benar-benar hilang, tetapi muncul dalam bentuk stres, kemarahan, atau jarak emosional terhadap orang-orang terdekat.

baca juga

Kekerasan dalam Keluarga dan Peran Ayah

Dampak toxic masculinity juga tampak dalam dinamika rumah tangga. Data dari KemenPPPA menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2024 terdapat 28.831 kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia. Sebagian besar kasus ini terjadi dalam keluarga, dan ribuan di antaranya menimpa anak laki-laki.

Angka ini menjadi pengingat bahwa kekerasan dalam rumah tangga tidak terlepas dari pola relasi yang timpang, di mana dominasi sering dipahami sebagai bagian dari maskulinitas.

Di sisi lain, peran ayah dalam keluarga masih sering dipersempit pada fungsi ekonomi. Banyak laki-laki merasa tanggung jawabnya selesai ketika kebutuhan finansial terpenuhi, tanpa menyadari bahwa kehadiran emosional juga krusial bagi tumbuh kembang anak.

Padahal, sosok ayah yang hadir secara emosional dapat menjadi sumber rasa aman, kepercayaan diri, dan keseimbangan dalam hubungan keluarga.

Dampak pada Kesehatan Mental Remaja Laki-Laki

Budaya yang menuntut laki-laki untuk selalu tampak kuat juga berdampak pada kesehatan mental. Menahan perasaan sedih atau cemas sejak dini membuat banyak remaja laki-laki kesulitan mengelola emosinya. Dalam jangka panjang, hal ini berdampak pada kesejahteraan psikologis mereka.

Data dari UNICEF menunjukkan bahwa persentase remaja laki-laki yang mengalami tantangan kesehatan mental cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan untuk selalu terlihat “tangguh” bisa membawa risiko serius jika tidak disadari dan diatasi sejak awal.

baca juga

Menata Ulang Arti Laki-Laki Sejati

Masyarakat sering kali lebih fokus pada citra luar: tubuh yang kuat, sikap dominan, dan kesan tidak tergoyahkan. Padahal, kekuatan sejati tidak hanya soal fisik, tetapi juga kemampuan untuk bertanggung jawab dan berempati.

Laki-laki yang kuat bukanlah mereka yang tidak pernah menangis, tetapi mereka yang berani menghadapi perasaan, mengakui keterbatasan, dan hadir secara utuh bagi keluarga serta lingkungannya.

Membangun Maskulinitas yang Lebih Sehat

Perubahan cara pandang tentang maskulinitas membutuhkan peran banyak pihak. Keluarga, pendidikan, media, dan ruang publik memiliki pengaruh besar dalam membentuk narasi baru tentang laki-laki Indonesia, narasi yang tidak lagi memisahkan kekuatan dan kelembutan.

Toxic masculinity menunjukkan bahwa citra macho yang selama ini diagungkan sering kali menjauhkan laki-laki dari tanggung jawab sejatinya.

Dengan membuka ruang bagi emosi, kepedulian, dan keterlibatan sosial, kita dapat menumbuhkan maskulinitas yang lebih sehat, maskulinitas yang tidak menekan, melainkan membebaskan.

Maskulinitas yang dibutuhkan Indonesia hari ini adalah maskulinitas yang kuat, peduli, dan tetap manusiawi.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.