Pernahkah Kawan GNFI membayangkan betapa kayanya negeri ini jika setiap lorong desa mampu berbicara kepada dunia? Di tengah hiruk-pikuk pariwisata modern yang sering kali seragam dan artifisial, Indonesia menyimpan ribuan intan yang belum terasah di pelosok nusantara.
Salah satu kilau cahaya tersebut berpendar dari Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Di sana, terdapat sebuah tradisi adiluhung bernama Ngideri Dhisah. Sebuah ritual yang bukan sekadar aktivitas keliling kampung, melainkan sebuah manifestasi hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.
Saat ini, dunia pariwisata sedang mengalami pergeseran paradigma. Wisatawan global mulai jenuh dengan destinasi yang hanya menawarkan kemewahan semu. Para pelancong kini mencari autentisitas, sebuah pengalaman yang menyentuh jiwa dan memberikan makna baru tentang kehidupan.
Fenomena tersebut menjadi peluang emas bagi tradisi seperti Ngideri Dhisah untuk tampil di panggung dunia. Bukan sebagai tontonan eksotis semata, melainkan sebagai nadi utama dari konsep ekowisata yang berkelanjutan dan memberdayakan.
Menyelami Filosofi: Lebih dari Sekadar Ritual
Ngideri Dhisah secara harfiah bermakna mengelilingi desa. Tradisi yang dilaksanakan oleh warga Desa Ramban Kulon tersebut memiliki akar sejarah panjang. Prosesi dilakukan dengan berjalan kaki, melantunkan zikir, dan membawa sesajen di titik-titik tertentu yang dianggap sakral.
Jika dilihat dari kacamata awam, kegiatan tersebut mungkin tampak sebagai ritual mistis biasa. Namun, apabila dibedah lebih dalam menggunakan perspektif kebudayaan, Ngideri Dhisah menyimpan simbol-simbol kehidupan yang luar biasa dalam.
Clifford Geertz, seorang antropolog kenamaan pernah menyebutkan bahwa kebudayaan adalah pola dari makna-makna yang terjalin dalam simbol-simbol. Dalam konteks Ngideri Dhisah, setiap langkah kaki para sesepuh desa adalah simbol penjagaan wilayah.
Sesajen yang berisi hasil bumi bukanlah persembahan kosong, melainkan wujud syukur atas kesuburan tanah dan pengingat bahwa manusia hidup dari kebaikan alam. Filosofi semacam inilah yang menjadi daya tarik utama bagi segmen wisatawan minat khusus.
Melalui interpretasi yang tepat oleh pemandu lokal, pengunjung dapat memahami bahwa berjalan tanpa alas kaki adalah bentuk penghormatan kepada ibu pertiwi. Narasi-narasi filosofis tersebut mengubah sebuah perjalanan wisata biasa menjadi wisata spiritual dan edukatif. Kekuatan cerita inilah yang kelak membawa nama desa sederhana di Bondowoso tersebut menggema hingga ke mancanegara, sejajar dengan destinasi budaya populer lainnya.
Kemandirian Ekonomi Berbasis Kearifan Lokal
Salah satu tantangan terbesar dalam pelestarian budaya adalah pendanaan. Sering kali, tradisi mati suri karena ketiadaan biaya atau generasi penerus yang merantau demi ekonomi. Ekowisata hadir sebagai jawaban atas kegelisahan tersebut. Dengan mengintegrasikan Ngideri Dhisah ke dalam paket wisata, masyarakat Ramban Kulon dapat menciptakan sumber pendapatan mandiri yang berkelanjutan.
Belajar dari kesuksesan Banyuwangi yang berhasil menyulap ritual adat menjadi atraksi Banyuwangi Festival, Bondowoso pun memiliki potensi serupa. Di Banyuwangi, tradisi seperti Kebo-keboan atau Gandrung Sewu dikemas apik tanpa menghilangkan sakralitasnya, sehingga mampu menggerakkan ekonomi rakyat.
Pola tersebut sangat mungkin diterapkan pada Ngideri Dhisah. Pendapatan yang diperoleh dari kunjungan wisatawan dapat dialokasikan kembali untuk membiayai pelaksanaan ritual, perawatan situs leluhur, hingga beasiswa bagi anak-anak desa. Model ekonomi sirkular seperti yang diterapkan di Taman Nasional Komodo berupa konservasi membiayai dirinya sendiri, menjadi acuan yang relevan.
Pemuda sebagai Garda Depan Regenerasi
Kekhawatiran utama dalam pelestarian budaya tradisional adalah minimnya minat generasi muda. Anak muda sering kali menganggap tradisi kuno sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman. Namun, ekowisata mampu membalikkan pandangan tersebut. Ketika sebuah tradisi mendapatkan apresiasi dari orang luar, rasa bangga alias local pride tumbuh di hati para pemuda desa.
Desa Wisata Nglanggeran di Yogyakarta adalah contoh nyata bagaimana pemuda menjadi motor penggerak. Di sana, karang taruna mengambil peran sentral dalam pengelolaan wisata, mulai dari menjadi pemandu, pengelola homestay, hingga tim pemasaran digital. Hasilnya, desa tersebut mendunia dan pemuda desa tidak perlu merantau ke kota untuk mencari nafkah.
Semangat yang sama dapat ditularkan pada pelestarian Ngideri Dhisah. Pemuda desa bisa dilibatkan dalam dokumentasi digital, membuat konten video sinematik tentang prosesi ritual, atau menjadi narator yang menjelaskan makna filosofis kepada wisatawan asing dalam bahasa Inggris. Keterlibatan tersebut secara tidak langsung merupakan proses pewarisan budaya.
Benteng Konservasi di Tengah Arus Modernisasi
Aspek lingkungan adalah pilar yang tak kalah penting. Ngideri Dhisah pada hakikatnya adalah ritual ekologis. Kegiatan membersihkan sungai, merawat mata air, dan menjaga kebersihan jalur prosesi adalah bukti bahwa leluhur bangsa sudah menerapkan prinsip konservasi jauh sebelum isu pemanasan global mencuat. Ekowisata berfungsi untuk memperkuat nilai-nilai konservasi tersebut di tengah ancaman kerusakan lingkungan akibat modernisasi.
Pengembangan wisata berbasis Ngideri Dhisah harus menerapkan prinsip pembatasan atau carrying capacity. Belajar dari kasus di Gunung Rinjani atau tempat wisata massal lainnya yang sempat kewalahan menangani sampah, masyarakat Ramban Kulon harus berani menerapkan aturan tegas. Wisatawan yang ingin menyaksikan ritual harus mematuhi kode etik, seperti larangan membawa plastik sekali pakai atau kewajiban menjaga keheningan di zona sakral.
Di Taman Nasional Tangkahan, Sumatera Utara, pelibatan masyarakat dalam ekowisata gajah berhasil mengubah perilaku dari penebang liar menjadi pelindung hutan. Begitu pula dengan Ngideri Dhisah. Ritual tersebut bisa menjadi polisi moral bagi kelestarian lingkungan desa.
Menjawab Tantangan Global dengan Solusi Lokal
Membawa Ngideri Dhisah ke panggung dunia bukan berarti menjual budaya demi uang semata. Langkah tersebut adalah upaya diplomasi budaya untuk menunjukkan bahwa Indonesia memiliki solusi atas permasalahan global. Desa Ramban Kulon bisa menjadi laboratorium hidup tentang bagaimana manusia bisa hidup berdampingan dengan alam secara damai dan berkelanjutan.
Tentu saja, jalan menuju ke sana tidak mudah. Dibutuhkan kolaborasi erat antara masyarakat adat, pemerintah daerah, akademisi, dan pegiat wisata. Pemerintah perlu hadir dalam hal penyediaan infrastruktur dasar dan regulasi yang melindungi hak kekayaan intelektual komunal. Akademisi perlu terus menggali dan memvalidasi narasi sejarah agar memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Pada akhirnya, Ngideri Dhisah adalah bukti nyata bahwa masa depan pariwisata Indonesia ada pada akarnya sendiri. Kawan GNFI, mari dukung upaya pelestarian tersebut. Sebuah narasi tentang harmoni, kemandirian, dan kebanggaan yang siap menyapa dunia dengan kepala tegak. Mari nantikan saat di mana dunia datang ke Bondowoso, bukan untuk mengubah desa tersebut, melainkan untuk belajar darinya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


