Kali ini Kawan GNFI akan menulusuri salah satu desa tersukses dalam pengembang kebudayaan di Jawa Tengah! Yap,desa tersebut tidak jauh dari sungai Bengawan Solo. Jaraknya hanya sekitar 150 meter dari Sungai Bengawan Solo.
Desa tersebut adalah Desa Wisata Sidowarno, sebuah desa wisata yang secara spesifik terletak di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten.
Desa Sidowarno terkenal dengan wisatanya yang anti-mainstream, sebuah wisata kebudayaan wayang. Kawan GNFI dapat bisa melihat berbagai motif wayang ketika memasuki wilayah kependudukan wilayah desa tersebut, lebih spesifiknya, sepanjang jalan lingkungan menuju Joglo Omah Wayang.
Mayoritas dari penduduk desa Sidowarno bermata pencaharian sebagai perajin dan pegiat wayang. Bahkan, mata pencaharian tersebut sudah bertahan sekitar 40 tahun lamanya.
Dari mata pencaharian tersebut, para pegiat dan perajin wayang dapat menghasilkan senilai kotor Rp5juta-Rp6 juta sekali buat.
Perjuangan para perajin dan pegiat wayang di daerah tersebut perlu kita apresiasi dikarenakan pasti tidak mudah bertahan di tengah perubahan kondisi sosial budaya yang cukup signifikan.
Meskipun dihadapkan dengan berbagai masalah Desa Wisata Wayang masih berkembang hingga saat ini. Mulai dari perubahan zaman, keterbatasan digital, dan dihantam pandemi sekali pun, Desa Wisata Wayang mampu eksis dan berkembang hingga saat ini.
Desa Wisata Wayang sempat mengalami penurunan pemesanan akibat dari pandemi Covid-19 dan perekonomian global. Yang sebelumnya cenderamata Wayang Kulit mampu di-impor menuju ke Korea Selatan, Spanyol sampai Swiss, desa ini harus bersabar karena pasaran mereka hanya mampu dalam lingkup nasional saja untuk beberapa saat.
Bahkan, Desa Wisata Sidowarno sempat tidak didatangi wisatawan dan pagelaran wayang tidak dapat terealisasikan. Akan tetapi, setelah bersusah dalam beberapa tahun, akhirnya desa wisata ini mampu menunjukkan taringnya kembali. Desa Wisata Wayang juga kerap aktif membagikan kegiatannya di platform Instagram @desawisatawayang.
Desa Wisata Wayang juga diketahui sebagai bagian dari KBA (Kampumg Berseri Astra). KBA merupakan program pengembangan masyarakat desa guna memaksimalkan sumber daya yang ada diinisiasi oleh PT Astra International Tbk.
KBA mengusung 4 pilar inovasi, antara lain; Pilar Pendidikan, Pilar Kesehatan, Pilar Limgkungan dan Pilar Kesehatan.
Pada Pilar Kesehatan sendiri Astra aktif dalam membantu posyandu setempat, terlibat dalam penyelenggaraan posyandu lansia, hingga pengobatan gratis.
Sedangkan dari Pilar Pendidikan, Astra berkomitmen untuk melestarikan rantai wayang dan desa wisata dengan edukasi pembuatan wayang dari jenjang PAUD hingga SD.
Sebuah komitmen yang bertujuan supaya generasi penerus dapat melanjutkan pengembangan wayang di daerah tersebut.
Selain itu, Astra kerap melakukan edukasi berbasis permainan kepada para anak. Salah satunya adalah permainan ecofunopoly, sebuah permainan monopoli edukasi mengenal sampah.
Pada pilar lingkungan, Desa Wisata Wayang membuat dan mengelola bank sampah kampung. Nantinya, sampah para warga maupun wisatawan akan dikelola di bank sampah tersebut.
Selain bank sampah, KBA Sidowarno juga menginisiasi pembibitan dan penanaman tanaman obat dan jamu, nantinya obat dan jamu tersebut akan dijadikan produk desa sama halnya dengan Wayang.
Dari Pilar Kewirausahaan, KBA Sidowarno kerap mengedukasi para perajin wayang agar bisa meningkatkan taraf hidup. Di antaranya dengan strategi pemasaran digital (digital marketing), kualitas media sosial, lokapasar, dan fotografi.
Berbagai prestasi telah diraih oleh KBA Sidowarno. Diantaranya, mereka mampu meraih Juara 4 Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) Kategori Suvenir 2023.
Selain itu, KBA Sidowarno juga mampu meraih berbagai kejuaraan yang diselenggarakan langsung oleh pihak Astra. Diantaranya, Juara I Kompetisi KBA Unggul, Juara I Kompetisi KBA Inovasi, Juara I Kampungku Kebanggaanku, dan lainnya
#kabarbaiksatuindonesia
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


