Pendidikan adalah sesuatu yang harus dimiliki setiap manusia. Namun, pendidikan tidak selalu hadir dalam bentuk ruang belajar di sekolah. Pendidikan dapat hadir dalam ruang kecil yang sempit, bahkan tanpa banyak buku, karena sejatinya pendidikan dapat berupa apa saja, diperoleh dari mana saja, dan untuk siapa saja. Mari simak kisah Gubuk Baca, ruang kecil tempat pendidikan tumbuh bagi anak-anak Kampung Berseri Astra Desa Sukolilo, Malang.
Foto: Anak-anak Bermain dan Belajar | Sumber: Pexels/Yan Krukov
Kampung Berseri Astra: Desa Sukolilo, Malang
Astra telah banyak memberikan kontribusi sosialnya untuk komunitas luas melalui program seperti Desa Sejahtera Astra dan Kampung Berseri Astra. Melansir dari Astragraphia, Kampung Berseri Astra sendiri adalah program pengembangan masyarakat berbasis komunitas yang mengintegrasikan 4 pilar program kontribusi sosial berkelanjutan, yaitu Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, di dalam satu lingkungan kampung.
Berbeda dengan Desa Sejahtera Astra yang bertujuan untuk pemberdayaan ekonomi desa hingga ke tingkat global, tujuan program Kampung Berseri Astra adalah menciptakan komunitas yang bersih, sehat, dan produktif.
Salah satu desa yang menerima manfaat program Kampung Berseri Astra adalah Desa Sukolilo yang terletak di Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang.
Gubuk Baca dan Buku Tanpa Tulisan
Foto: Buku | SUmber: Pexels/Pixabay
Jika Kawan GNFI mendengar nama seperti rumah baca atau pojok baca, pasti yang muncul di benak adalah ruang dengan rak-rak yang berisi bermacam-macam buku, mulai dari fiksi hingga ensiklopedia. Namun hal tersebut berbeda dengan yang dimiliki oleh anak-anak di Desa Sukolilo, Kabupaten Malang.
Gubuk Baca disini adalah ruang kecil dengan tidak terlalu banyak buku, tetapi sarat akan pengetahuan. Di Gubuk Baca, anak-anak tidak hanya belajar dengan membaca buku, tetapi dengan banyak kegiatan menyenangkan dan bermanfaat. Melansir dari Chemistrahmah, Fachrul Alamsyah atau Kak Irull, penggagas Gubuk Baca Lentera Negeri, menjelaskan bahwa proses belajar bisa melalui buku tanpa tulisan. Maknanya, proses menimba ilmu tidak harus dengan membaca buku, melainkan bisa dengan berbagai hal menyenangkan lainnya, seperti bermain egrang, belajar berwirausaha, dan masih banyak lagi.
Gubuk Baca untuk Masyarakat yang Lebih Tertata
Foto: Masyarakat Membaca Buku | Sumber: Pexels/cottonbro
Gubuk Baca pertama yang digagas oleh Fachrul Alamsyah, Lentera Negeri, menjadi batu loncatan bagi munculnya banyak gubuk baca di Desa Sukolilo. Melansir Malang Viva, awalnya Fachrul, atau yang akrab disapa Irul bercerita bahwa ia harus berjuang sendiri dan meyakinkan warga desa lainnya bahwa program gubuk baca adalah program yang baik. Ia bahkan melakukan pendampingan dari awal untuk warga. Perjuangannya pun terbayar sata perkembangan gubuk baca semakin terlihat, hingga tiap gang di Desa Sukolilo memiliki gubuk bacanya sendiri. Warga desa juga menamai gubuk baca sesuai dengan ikon masing-masing wilayah, seperti Gubuk Baca Puring, Gubuk Baca Egrang, Gubuk Baca Anak Alam, dan lain sebagainya.
Salah satu manfaat yang terlihat langsung dari adanya gubuk baca adalah selain anak-anak dapat belajar dan bermain disana, pemuda kampung pun menjadi banyak yang menghabiskan waktu hingga larut malam di gubuk baca. Hal tersebut justru adalah suatu keuntungan, karena lingkungan menjadi lebih terarah dan tertata. Tidak ada lagi pemuda yang menghabiskan waktu dengan keluyuran atau melakukan hal-hal kurang bermanfaat.
Peran Kampung Berseri Astra (KBA)
Perjuangan Fachrul Alamsyah dan warga Desa Sukolilo pun membuahkan hasil lebih besar saat tim Astra memilih desa ini menjadi bagian dari Kampung Berseri Astra. Melansir Malang Viva, melalui program ini, tidak hanya fokus meningkatkan pendidikan, pihak Astra juga membantu memberdayakan warga Desa Sukolilo dalam berbagai macam program produktif berikut ini.
Sentra Batik
Foto: Sentra Batik | Sumber: Unsplash/Ini Izah
Salah satu program yang difasilitasi oleh Astra adalah produksi batik khas Malang untuk membangun sentra batik. Tidak tanggung-tanggung, Astra mendatangkan instruktur batik untuk warga desa belajar membuat batik yang nantinya dapat dipamerkan dan dijual. Dengan adanya program ini harapannya pilar ekonomi di Desa Sukolilo akan berjalan dan berkembang dengan lebih baik.
Kampus Rakyat
Foto: Masyarakat Belajar Bersama | Sumber: Unsplash/Anita Monteiro
Selain sentra batik, program pendidikan yang difasilitasi Astra adalah berdirinya dua Gubuk Baca yang dijadikan Kampus Rakyat. Warga desa yang belum pernah mencicipi bangku kuliah dapat belajar di Gubuk Baca tersebut dengan bimbingan dosen yang didatangkan setiap satu minggu sekali.
Desa Wisata Kearifan Lokal
Foto: Desa Wisata Topeng Panji | Sumber: Unsplash/Rachmat Putro Restuaji
Astra juga mencanangkan untuk Desa Sukolilo menjadi desa wisata edukatif dengan berbagai kegiatannya, salah satunya adalah upaya mengangkat kearifan lokal seperti Topeng Panji dan pernak-pernik kerajinan tangan.
Dari gubuk kecil hingga desa wisata edukatif, perjalanan Sukolilo adalah bukti bahwa semangat warga dan dukungan yang tepat mampu menyalakan perubahan besar. Dengan dukungan Astra, desa ini tumbuh semakin hijau, cerdas, dan berdaya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


