Kawasan Jembatan Merah Surabaya dulunya merupakan tempat berbagai budaya berinteraksi dan saling memengaruhi. Budaya Eropa, Tionghoa, Melayu, dan Arab saling berbaur dan membentuk ciri khas masing-masing.
Nah, kalau pada kawasan Kota Lama Surabaya terdapat zona Eropa dengan bangunan-bangunan kolonial megah yang sudah berumur ratusan tahun, bergeser sedikit ke Jalan Kembang Jepun, Kawan GNFI bisa merasakan nuansa Tionghoa yang masih kental.
Kya Kya Surabaya namanya. Merupakan kawasan pecinan yang dipenuhi nuansa Tionghoa di tiap ruas jalannya dan berlokasi sangat dekat dengan Kota Lama Surabaya. Wilayahnya hanya dipisahkan oleh Jembatan Merah yang memiliki ribuan sejarah.
Sejarah Jalan Kembang Jepun
Melansir dari Wikipedia, kawasan Kya Kya dulunya dikenal sebagai CBD (central business district) atau pusat perdagangan grosir di Kota Surabaya. Kya-kya berasal dari bahasa Hokkian yang berarti jalan-jalan.
Pada masa penjajahan Belanda, jalan ini disebut Handelstraat. Handel berarti perdagangan dan straat berarti jalan. Konon, pada masa itu, banyak pedagang asing yang berlabuh di sepanjang jalan ini, yang menjadikan kawasan ini tumbuh sangat dinamis.
Namun, nama Kembang Jepun menjadi terkenal pada zaman pendudukan Jepang. Hal tersebut karena saat itu banyak serdadu Jepang (Jepun) memiliki teman-teman wanita (kembang) di sekitar daerah ini.
Revitalisasi Kawasan Pecinan
Kawasan yang sekarang disebut Kya Kya Kembang Jepun ini merupakan salah satu area pusat bisnis di Kota Surabaya yang masih bertahan hingga kini. Di sini, Kawan GNFI bisa menemukan toko pakaian, elektronik, aksesori, serta pedagang kaki lima yang menjual makanan dan minuman.
Tempat ini diresmikan pada Mei 2003 sebagai salah satu ikon kota dan tujuan wisata, baik bagi warga lokal maupun luar kota. Pada beberapa acara khusus, Kya-kya menjadi tempat penyelenggaraan festival dan berbagai acara di Surabaya. Misalnya perayaan Tahun Baru Imlek, Shanghai Night, Dancing on the Street, Agoestoesan Tjap Kya-kya Kembang Djepoen, Mystical Night, Festival Bulan Purnama, dan sebagainya.
Pemerintah juga terus mengoptimalkan daya tarik kawasan Kya Kya, seperti dengan menambahkan mural dan spot foto di sekitar area pejalan kaki.
Kya Kya di Masa Kini
Sebenarnya Kya Kya sempat redup dan sepi selama beberapa tahun. Namun, pada tahun 2022, kawasan ini resmi dibuka kembali. Kya Kya Kembang Jepun menonjolkan kuliner khas pecinan untuk wisata malam. Pada akhir pekan, terdapat bazar dan festival yang diadakan di area ini.
Berbeda dengan pusat kuliner lainnya yang ada di Surabaya, kawasan pecinan Kya Kya Kembang Jepun hanya buka setiap Jumat—Minggu, dan saat ada festival kuliner. Jalanan akan ditutup dari sore hingga malam hari, lalu kawasan tersebut berubah menjadi night market dengan deretan pilihan kuliner.
Kawan sudah pernah berpetualang ke Kya Kya Kembang Jepun Surabaya?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


