“Kalau ada yang lebih murah dan kualitasnya sama bahkan lebih baik, kenapa tidak?” ujar Marsudi, salah seorang petani di Desa Pudak Kulon.
Ucapan itu muncul saat beliau menceritakan mahalnya biaya perawatan tanaman yang selama ini bergantung pada pupuk kimia. Selain mahal, pengaplikasiannya pun kerap dianggap kurang praktis.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN-T Inovasi IPB hadir dengan sebuah solusi yang sederhana, tetapi inovatif: stimulan organik berbahan dasar susu. Inovasi ini tidak hanya menjawab permasalahan petani, tapi juga memanfaatkan potensi lokal yang selama ini kurang dilirik.
Sebagai sentra susu sapi, Desa Pudak Kulon kerap mengalami kelebihan produksi susu yang kualitasnya kurang layak jual.
Daripada menjadi limbah, susu-susu tersebut kini dimanfaatkan sebagai bahan utama stimulan yang ramah lingkungan.
Stimulan organik sendiri berfungsi untuk merangsang pertumbuhan dan meningkatkan produktivitas tanaman. Stimulan organik tersebut dibuat dengan mencampurkan bahan-bahan seperti mikroorganisme starter, susu, urea, dan air.
Kandungan bahan-bahan ini serta proses tunggu selama 1 x 24 jam mampu berkolaborasi untuk mempercepat penyerapan unsur hara oleh tanaman.
Ini menjadi alternatif menarik bagi petani, khususnya dalam upaya mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Fokus pada inovasi ini dipilih setelah para mahasiswa berbincang langsung dengan petani setempat dan menelaah permasalahan yang sedang dihadapi.
Hampir seluruh warga desa bermata pencaharian sebagai petani, dan keluhan soal tingginya harga pupuk kimia menjadi benang merah dari diskusi tersebut.
Program stimulan organik ini mulai dilaksanakan pada 6 Juli 2025. Mahasiswa menggandeng salah satu petani untuk melakukan uji coba langsung di lahan tanaman cabai milik beliau. Dengan metode ini, warga lainnya bisa menyaksikan langsung proses dan hasilnya secara nyata.
Selain stimulan organik, mahasiswa juga memperkenalkan yellow trap di lahan cabai yang sama. Alat ini berfungsi untuk menangkap hama seperti lalat buah dan thrips yang tertarik dengan warna kuning. Lem yang digunakan cukup tahan cuaca, jadi bisa bertahan lebih lama.
Inovasi ini ditawarkan karena petani di Pudak Kulon masih banyak yang menggunakan lem biasa untuk mengendalikan hama.
Dari kegiatan ini, muncul ketertarikan warga lain untuk ikut mencoba. Apalagi setelah petani yang menjadi mitra program memberikan testimoni secara langsung.
Hanya dalam waktu 20 hari pascapenerapan, parga warga mulai tertarik dan meminta stimulan serupa untuk dicoba di lahan mereka masing-masing.
“Memang kita belum bisa betul-betul lihat karena ini baru 20 hari, tapi sejauh ini kualitasnya dapat diadu dengan pupuk kimia,” ungkap Marsudi.
Tak hanya bermanfaat bagi tanaman, penggunaan stimulan organik juga membawa dampak positif bagi lingkungan. Limbah susu yang sebelumnya berisiko menjadi sumber pencemaran kini diolah menjadi produk bernilai guna.
Penggunaan stimulan pun membantu mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia, yang dalam jangka panjang dapat memperbaiki kesehatan tanah dan ekosistem pertanian secara keseluruhan.
Selain itu, program ini juga menjadi sarana terciptanya keakraban antara mahasiswa dan warga. Sejak program ini dilaksanakan, diskusi-diskusi ringan di lahan pun kerap terjadi.
Banyak warga yang kini tak lagi segan untuk menanyakan permasalahan di lahannya kepada mahasiswa. Interaksi ini pun berkembang menjadi ruang belajar bersama dan berbagi pengalaman.
Kawan GNFI, inilah bukti bahwa langkah kecil yang didasari kepedulian dan pemahaman lokal bisa membawa perubahan nyata. Mahasiswa IPB tak hanya membawa program kerja, tapi juga mendekatkan teknologi dengan kebutuhan masyarakat.
Inovasi stimulan organik ini menjadi salah satu contoh bagaimana peran mahasiswa KKN sebagai perpanjangan tangan antara Institusi dengan Praktisi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


