Di Ambon, Maluku, berdiri dengan gagah sebuah jembatan yang dikenal dengan nama Jembatan Merah Putih. Jembatan dengan tipe cable stayed ini menjadi jembatan terpanjang di wilayah Indonesia timur.
Panjang Jembatan Merah Putih adalah 1.140 meter. Jembatan ini juga termasuk dalam daftar jembatan terpanjang di Indonesia, bersanding dengan Jembatan Suramadu, Jembatan Pasupati, Jembatan Barelang, dan Jembatan Siak Sri Indrapura.
Memiliki tinggi bebas 34 meter dengan lebar jembatan 22,5 meter, Jembatan Merah Putih sengaja dirancang khusus menyesuaikan kondisi geografis dan geologis Ambon yang rawan gempa tektonik.
Sebagai informasi, sejak dahulu, Ambon memang sering dilanda gempa bumi. Bahkan, melansir dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), catatan tertua sejarah gempa dan tsunami yang pernah terjadi di Maluku dan sekitarnya adalah tahun 1674.
Kondisi Ambon yang diapit lempeng-lempeng tektonik menjadikan kawasan ini tak pernah ‘sepi’ dari bencana gempa bumi. Oleh karena itu, perlu ada mitigasi yang mumpuni, salah satunya perencanaan pembangunan infrastruktur yang memadai.
Jembatan Merah Putih yang Koneksikan Ambon
Diresmikan pada 4 April 2016, jembatan ini membentang di Teluk Dalam, menghubungkan antara Desa Rumah Tiga (Poka) dan Desa Hative Kecil (Galala). Sebelum ada Jembatan Merah Putih, warga harus menempuh perjalanan selama hampir satu jam jika ingin bepergian ke Bandara Internasional Pattimura dari Kota Ambon. Jaraknya mencapai 35 km dan harus memutari Teluk Ambon.
Selain itu, dulu masyarakat juga bisa menggunakan alternatif lain lewat kapal ferry yang menghubungkan Poka dan Galala dengan waktu tempuh kurang lebih selama 20 menit. Estimasi ini di luar waktu tunggu atau antre. Namun, dengan adanya jembatan ini, perjalanan bisa disingkat menjadi 30 menit saja.
Proyek Jembatan Merah Putih menghabiskan dana senilai Rp771,9 miliar. Menukil dari Sekretariat Kabinet RI, jembatan satu ini sudah dibangun sejak 17 Juli 2011.
Akan tetapi, ternyata progress pembangunan jembatan ini sempat beberapa kali tertunda. Bahkan, saat ada gempa pada 2015 lalu, ada pergeseran sejauh 9 cm pada jembatan. Meskipun bergeser, pembangunan jembatan masih bisa dilanjutkan, karena toleransi maksimal dari pergeseran bangunan adalah 30 cm.
Demi memastikan bahwa jembatan aman, pada Maret 2016, ada pengujian statik dan dinamik untuk mengetahui kekakuan struktur dan perilaku getaran struktur serta kekuatannya. Sekitar 44 truk dengan bobot masing-masing 8 ton dikerahkan untuk menguji struktur Jembatan Merah Putih.
Uniknya, dikatakan bahwa uji coba dengan truk ini adalah yang pertama kalinya di Indonesia. Dengan total berat 352 ton, terbukti bahwa kelenturan jembatan masih sesuai dengan yang direncanakan, sehingga pembangunan tetap dilanjutkan.
Asal Mula Nama Jembatan Merah Putih
Melalui akun sosial media Kementerian Pekerjaan Umum, @kementerianpu, Jembatan Merah Putih awalnya akan dinamakan Galala-Poka, sesuai dengan nama dua desa yang akan dihubungkan dengan jembatan ini.
Namun, saat itu warga Desa Rumah Tiga yang wilayahnya dilewati Jembatan Merah Putih keberatan karena nama desanya tidak ikut dicantumkan sebagai nama jembatan. Kemudian, setelah berdiskusi dengan semua pihak, akhirnya jembatan itu dinamai Merah Putih.
Selain itu, Maluku juga termasuk satu dari delapan provinsi yang pertama ada saat Indonesia baru merdeka. Jembatan ini juga menjadi simbol persatuan di wilayah Maluku.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


