Di Banyuwangi, Jawa Timur, terdapat sebuah cerita singkat yang menceritakan tentang legenda asal usul daerah tersebut. Apakah Kawan pernah mendengar kisah dari legenda asal usul daerah Banyuwangi tersebut sebelumnya?
Berikut kisah dari legenda asal usul Banyuwangi tersebut.
Legenda Asal Usul Banyuwangi
Dikutip dari buku Yudi Kurniadi yang berjudul Kumpulan Legenda Bermuatan Karakter, cerita legenda Banyuwangi berkisah tentang sebuah kerajaan besar yang dulu berdiri di timur Pulau Jawa. Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana.
Raja ini memiliki seorang putra yang bernama Raden Banterang. Dirinya memiliki hobi dan kebiasaan untuk pergi berburu ke dalam hutan.
Pada suatu hari, Raden Banterang memerintahkan pengawalnya untuk mempersiapkan alat berburunya. Raden Banterang berniat untuk melakukan perburuan pada hari itu.
Setelah semua alat disiapkan oleh pengawal, Raden Banterang langsung masuk ke dalam hutan. Tidak lama kemudian, dia melihat seekor kijang dan langsung membidiknya.
Ternyata kijang tersebut menyadari keberadaan Raden Banterang dan langsung lari ke dalam hutan. Raden Banterang pun dengan sigap langsung mengejar kijang tersebut seorang diri.
Sayangnya kijang tersebut berhasil lepas dari kejaran Raden Banterang. Putra raja tersebut kemudian beristirahat di pinggir sungai dan minum untuk melepaskan dahaga.
Ketika hendak melanjutkan perburuan, Raden Banterang tiba-tiba melihat seorang gadis cantik yang duduk sendirian di pinggir sungai. Raden Banterang kemudian mendekat dan memperkenalkan diri kepada gadis itu.
Gadis tersebut kemudian membalas dengan mengenalkan namanya, yakni Surati. Dia merupakan putri dari raja Kerajaan Klungkung.
Surati tengah melarikan diri karena kerajaannya baru saja hancur diserang musuh. Ayahnya juga gugur dalam pertempuran tersebut.
Raden Banterang terkejut mendengarkan cerita itu. Sebab dirinya lah yang memimpin pasukan dalam serangan ke Kerajaan Klungkung.
Melihat penderitaan Surati, Raden Banterang kemudian memutuskan untuk membawa gadis tersebut ke istana. Tidak lama kemudian, Raden Banterang menikahi Surati dan hidup bahagia.
Suatu hari, Raden Banterang melakukan perburuan seperti biasa. Sementara itu, Surati tengah berjalan-jalan seorang diri di halaman istana.
Samar-sama Surati mendengarkan suara yang memanggil namanya. Ternyata ada seorang pria dengan pakaian compang-camping.
Setelah melihat dengan seksama, pria tersebut ternyata merupakan kakak dari Surati, yakni Rupaksa. Ternyata kedatangan Rupaksa bermaksud untuk mengajak Surati membalaskan dendam kematian ayah mereka kepada Raden Banterang.
Surati tentu saja menolak ajakan kakaknya tersebut. Sebab dia sudah bersedia menjadi Raden Banterang sebagai balas budi telah menyelamatkannya dulu.
Rupaksa menjadi marah mendengarkan jawaban Surati. Meskipun demikian, dia tetap tidak bisa memaksakan kehendak.
Akhirnya Rupaksa memberikan sebuah ikat kepala kepada Surati. Dirinya berpesan agar Surati menyimpan ikat kepala tersebut di bawah tempat tidurnya.
Tidak lama kemudian, Raden Banterang kembali ke istana. Dalam perjalanan pulang, dia bertemu dengan seorang pria dengan pakaian compang-camping.
Pria tersebut kemudian menghadap Raden Banterang dan berkata bahwa istrinya Surati akan mencelakai dirinya. Untuk membuktikan perkataannya, pria tersebut meminta Raden Banterang melihat ikat kepala yang disimpan Surati di bawah tempat tidurnya.
Mendengar ucapan pria tersebut, Raden Banterang langsung bergegas kembali ke istana. Sesampainya di sana, dia langsung mencari ikat kepala di bawah tempat tidur.
Benar saja, Raden Banterang menemukan sebuah ikat kepala di bawah tempat tidur. Dengan penuh emosi, Raden Banterang memanggil sang istri untuk menghadapnya.
Raden Banterang kemudian menjelaskan apa yang dia temukan. Dia tidak percaya bahwa sang istri akan diam-diam mencelakainya.
Surati yang tidak mengerti situasi yang tengah terjadi langsung membantah perkataan tersebut. Surati menjelaskan bahwa ikat kepala tersebut merupakan kenang-kenangan dari kakaknya.
Meskipun demikian, Raden Banterang tetap tidak percaya dengan perkataan sang istri. Dirinya kemudian membawa Surati ke pinggir sungai dan berniat untuk menenggelamkannya.
Dalam perjalanan, Raden Banterang kemudian menceritakan pertemuannya dengan pria berpakaian compang-camping. Mendengarkan cerita tersebut, Surati sadar bahwa pria yang ditemui oleh Raden Banterang adalah sang kakak, Rupaksa.
Surati kemudian menjelaskan bahwa sang kakak berniat untuk mencelakai Raden Banterang. Surati juga menjelaskan bahwa Rupaksa sempat mengajaknya, meskipun dia menolak ajakan tersebut.
Raden Banterang masih tidak percaya dengan ucapan sang istri. Akhirnya Surati menyampaikan sebuah sumpah untuk membuktikan ucapannya.
Surati berkata bahwa air sungai yang ada di hadapan mereka menjadi bening dan harum, maka semua omongannya benar adanya. Sebaliknya jika air sungai berubah menjadi keruh dan bau, maka omongannya hanyalah bohong belaka.
Sesaat kemudian, Surati langsung melompat ke sungai dan menghilang. Tidak lama kemudian, bau semerbak harum menyebar di sungai tersebut.
Raden Banterang kemudian tersadar bahwa sang istrinya tidak bersalah. Dirinya hanya bisa menyesali kesalahan yang sudah dia perbuat.
Konon cerita legenda inilah yang menjadi asal usul penamaan daerah tersebut menjadi Banyuwangi. Nama kota ini berasal dari dua kata berbeda, yakni "Banyu" yang berarti air dan wangi, merujuk kepada cerita yang ada dalam legenda tersebut.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


