Karakteristik Gen Z dalam dunia kerja sedang hangat dibicarakan karena stigmanya yang kurang baik dan dianggap sulit untuk survive. Padahal, tentu saja hal ini sangat tergantung pada masing-masing individu.
Sayangnya, karena tak sedikit perusahaan yang menyatakan pendapat serupa, maka generasi muda ini dilabeli dengan sedemikian rupa.
Berdasarkan opini dari cuitan Marlistya Citraningrum, seorang analis senior dan spesialis kemitraan subnasional di Institute for Essential Services Reform. Sebenarnya Gen Z merupakan pribadi yang semangat dan cepat belajar, tetapi hanya pada hal yang dianggap menarik.
Hal ini mungkin bisa menjadi masalah karena tidak akan ada suatu pekerjaan yang 100% disukai, selalu saja ada hal-hal menyebalkan yang perlu dihadapi.
Masih korelatif dengan karakter sebelumnya, karakter Gen Z yang selalu dibahas adalah sering mengeluh. Meskipun Gen Z selalu memiliki pembelaanya, yakni “Iya ngeluh, tapi tetap dikerjain kan tugasnya?”
Sebenarnya, karakter Gen Z yang banyak mengeluh ini merupakan dampak dari kondisi dunia ketika mereka dilahirkan. Gen Z hadir ketika teknologi internet dan sosial media sudah masif digunakan di masyarakat. Hal ini mengakibatkan mereka sangat natif dalam komunikasi digital yang dilakukan online.
Terbiasa berkomunikasi secara digital merupakan suatu pointplus, tetapi komunikasi digital memiliki kecenderungan tidak menggunakan identitas asli. Hal ini mengakibatkan Gen Z terbiasa bersikap setara.
Bersikap setara sejatinya juga merupakan suatu yang positif. Hanya saja, dalam konteks Gen Z terjadi dampak buruk, yakni clueless dalam berperilaku, terutama dalam perilaku formal dan professional.
Terdapat kendala bagi Gen Z untuk menyeimbangkan aspek formal dan informal. Hal tersebut juga sudut pandangnya, sehingga menganggap semua individu memiliki karakter yang sama santainya dengan mereka.
Tidak hanya itu, terdapat karakter lain yang membangun image negatif untuk Gen Z, yakni baperan. Istilah yang sering digunakan saat ini adalah generasi stroberi, yakni generasi yang mudah tergores hatinya. Perusahaan menganggap hal ini merupakan karakter Gen Z yang negatif karena akan sulit menerima feedback.
Meskipun begitu, karakter Gen Z yang berani berekspresi dan menyuarakan isi hati mengakibatkan habit buruk seperti ‘kerja di luar jobdesk’ atau ‘work overtime’ menjadi terungkap dan mulai diperhatikan sehingga tidak terus-menerus dinormalisasi.
Gen Z dengan segala kurang dan lebihnya, sebenarnya bukanlah pemeran antagonis dalam dunia kerja. Perusahaan penyedia pekerjaan juga memiliki karakter negatif yang juga patut diperhatikan., terutama pada berbagai syarat yang terdapat di lowongan pekerjaan.
Penerapan usia kerja merupakan suatu masalah besar yang dihadapi pencari kerja. Saat ini banyak perusahaan yang menetapkan batas maksimal 23 hingga 25 tahun. Padahal, pada usia-usia tersebut merupakan tahun-tahun permulaan bagi seseorang untuk mengecap rasanya dunia dewasa.
Berbagai sikap dan karakter negatif yang ada, kemungkinan besar merupakan ekspresi dari masa transisi antara usia remaja dan dewasa. Hal ini bagian dari adaptasi dunia kuliah/sekolah menuju dunia kerja. Ketika menetapkan batas maksimal yang begitu muda, perusahaan harus siap menerima konsekuensi bahwa pekerjanya yang merupakan Gen Z, masih belum mature.
Menjadikan good looking sebagai skala prioritas merupakan salah satu tabiat buruk dari perusahaan. Standar ini masih masuk akal ketika digunakan untuk merekrut pegawai yang akan tampil di hadapan publik.
Namun, banyak perusahaan yang juga menetapkan standar ini pada karyawan yang tidak tampil publik. Maka banyak Gen Z yang memiliki kualitas kerja baik terpaksa harus tersingkir karena keterbatasan penampilan.
Tuntutan memiliki pengalaman kerja juga hal yang dianggap tidak masuk akal. Penetapan batas usia yang sangat muda justru dibarengi dengan tuntutan memiliki pengalaman kerja. Hal ini merupakan kombinasi yang sangat menyulitkan.
Banyak dari Gen Z baru saja lulus kuliah, sehingga tidak memiliki pengalaman apapun, tetapi tidak dapat memperoleh pekerjaan juga karena tidak memiliki pengalaman bekerja.
Inilah masalah yang paling sering dibicarakan adalah perihal gaji. Perihal ini seperti siklus yang tidak akan usai. Perusahan menetapkan gaji yang kecil yang bahkan tidak UMR lantaran menganggap kinerja Gen Z tidak bagus. Di sisi lain, Gen Z merasa tidak perlu memberikan performa yang maksimal dalam bekerja karena kecilnya gaji yang diberikan perusahaan.
Gen Z dan perusahaan sudah seharusnya menjadi elemen yang saling membangun dalam dunia kerja di Indonesia. Namun, proses untuk mencapai hal tersebut bukanlah hal yang mudah dan instan.
Kendala dan tantangan yang dihadapi Gen Z dan Perusahaan saat ini dapat dipandang sebagai milestone yang akan membuka pandangan baru atas berbagai aspek positif dan negatif sehingga akan muncul berbagai solusi inovatif untuk mengembangkan ekosistem karier di Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


