sisi unik kiprah abroad pemain timnas indonesia - News | Good News From Indonesia 2025

Sisi Unik Kiprah "Abroad" Pemain Timnas Indonesia

Sisi Unik Kiprah "Abroad" Pemain Timnas Indonesia
images info

Sisi Unik Kiprah "Abroad" Pemain Timnas Indonesia


Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah pemain Indonesia yang berkiprah di luar negeri cenderung meningkat. Destinasinya pun cukup beragam. Ada yang main di klub Eropa, ada yang main di Asia, dan ada juga yang main di Amerika. 

Peningkatan ini juga semakin terlihat, dengan adanya pemain diaspora, yang belakangan terus bertambah di Timnas Indonesia. Seperti diketahui, PSSI belakangan cukup aktif mencari, dan menaturalisasi sejumlah pemain diaspora Indonesia di luar negeri. 

Keberagaman ini membuat Timnas Indonesia punya dimensi unik, karena para pemain yang ada ditempa dalam kompetisi, yang secara karakteristik juga berbeda-beda. Ada yang cenderung taktis, ada yang banyak mengandalkan teknik, dan ada juga yang intens secara fisik.

Di sisi lain, kiprah "abroad" pemain Indonesia juga membawa efek samping menarik, berupa adanya sorotan media nasional, pada kompetisi yang sebelumnya dianggap kurang populer, bahkan kadang disebut sebagai "liga antah berantah". Berkat kiprah "abroad" pemain Indonesia, sebutan ini pelan-pelan luntur.

baca juga

Lunturnya cap "liga antah berantah" ini juga diikuti, dengan meningkatnya wawasan publik sepak bola nasional. Ada yang akhirnya mengetahui seluk beluk kompetisi Eredivisie Belanda karena Thom Haye dan Calvin Verdonk main reguler di sana, ada yang punya wawasan soal liga Belgia, karena ada Ragnar Oratmangoen, dan ada juga yang mengikuti dinamika kompetisi MLS (Amerika Serikat) karena Maarten Paes cukup bersinar di sana.

Tak ketinggalan, media-media di Indonesia juga tak lupa menyoroti dinamika kompetisi di liga-liga benua Asia, antara lain Malaysia, Thailand dan Jepang. Berkat keberadaan pemain Indonesia, cara pandang media dan publik sepak bola nasional, khususnya soal kompetisi di liga-liga Asia (selain Indonesia) sudah cukup banyak berubah. 

Ini terlihat, dari sudut pandang positif soal kiprah Pratama Arhan dan Asnawi Mangkualam, yang bermain reguler di Liga Thailand, seperti halnya Saddil Ramdani di Malaysia, dan Sandy Walsh, yang menunjukkan awalan positif di Yokohama Marinos (Jepang). 

Sudut pandang positif juga masih ditemui pada Jordi Amat, sekalipun sang pemain tidak bermain reguler di JDT (Malaysia) seperti halnya Rafael Struick di Brisbane Roar (Australia). Begitu juga dengan Ronaldo Kwateh, yang dipinjamkan Muangthong United ke Mahasarakham SBT (Thailand) tapi terpaksa absen panjang, akibat mengalami cedera lutut saat latihan. 

Fenomena lain yang juga muncul adalah, mulai lunturnya sebutan "tim gurem". Penyebabnya, ada pemain Indonesia yang bermain di tim-tim papan bawah yang terancam degradasi, misalnya Thom Haye (Almere City, Belanda) dan Jay Idzes (Venezia, Italia).

Fenomena ini semakin terlihat, dengan adanya pemain Indonesia di klub divisi dua kebawah. Contoh paling kelihatan, ada dari sorotan pada Marselino Ferdinan dan Ole Romeny (Oxford) dan Elkan Baggott (Blackpool) yang masing-masing berkiprah di Championsip Division dan League One, kompetisi kasta kedua dan ketiga di Liga Inggris. 

baca juga

Daftar nama ini masih akan bertambah, karena Emil Audero sedang diproses menjadi WNI. Seperti diketahui, kiper blasteran Indonesia-Ìtalia itu bermain di Palermo, klub Serie B Liga Italia, sebagai pemain pinjaman dari Como, klub kasta tertinggi Liga Italia. 

Kiprah "abroad" pemain Indonesia juga menghadirkan wawasan lain buat publik sepak bola nasional, khususnya soal kepemilikan saham klub. Seperti diketahui, keberadaan Erick Thohir (Oxford United, Inggris), Sihar Sitorus (FCV Dender, Belgia) dan Djarum Group (Como, Italia) sedikit banyak ikut mengedukasi publik sepakbola nasional, berkat informasi dan sorotan media. 

Tentu saja, ada kebanggaan di sini, karena nama Indonesia sudah sampai ke mancanegara, tapi kebanggaan ini tampak mulai naik kelas, karena diimbangi dengan wawasan yang ikut bertambah bagi publik sepak bola nasional, sehingga istilah negatif seperti "liga antah berantah" atau "tim gurem" bisa mulai menghilang. Semoga, kemajuan ini masih akan berlanjut di masa depan. 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

YR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.