Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Gen Z. Dari bangun tidur hingga sebelum tidur lagi, Gen Z terbiasa menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling di TikTok, Instagram, atau X tanpa sadar waktu berlalu begitu cepat.
Fenomena ini disebut doomscrolling—kebiasaan terus-menerus mengonsumsi berita atau konten negatif yang membuat Gen Z terjebak dalam lingkaran konsumsi pasif. Namun, apakah ini benar-benar identitas Gen Z? Ataukah ada cara untuk membangun kebiasaan yang lebih baik?
Dalam bukunya Same as Ever: A Guide to What Never Changes, Morgan Housel menjelaskan bahwa meskipun dunia terus berubah, sifat dasar manusia tetap sama. Salah satu poin utama dalam buku ini adalah bagaimana manusia seringkali terjebak dalam pola perilaku yang berulang, termasuk kebiasaan buruk seperti doomscrolling.
Jika kita tidak sadar, kebiasaan ini bisa membentuk identitas tanpa manusia sadari. Tapi ada kabar baik—manusia juga bisa membentuk identitas positif melalui kebiasaan yang lebih baik.
Mengapa Doomscrolling Bisa Merusak Identitas Diri?
Menurut Housel, manusia selalu mencari informasi karena merasa dengan mengetahuinya, manusia bisa lebih siap menghadapi ketidakpastian. Namun, masalahnya adalah informasi di era digital tidak ada habisnya.
Algoritma media sosial dirancang untuk menarik perhatian Gen Z dengan konten yang memicu reaksi emosional, seperti kecemasan, kemarahan, atau FOMO (fear of missing out). Makin sering Gen Z doomscrolling, makin terjebak dalam siklus konsumsi pasif yang tidak memberikan manfaat nyata bagi kehidupan.
Scrolling Media Sosial | Foto oleh Ahmed Aqtai via Pexels
Selain itu, kebiasaan ini menghabiskan waktu yang seharusnya bisa Gen Z digunakan untuk mengembangkan diri. Jika Kawan GNFI menghabiskan dua jam sehari hanya untuk scrolling tanpa tujuan, dalam setahun Kawan bisa kehilangan lebih dari 700 jam—waktu yang cukup untuk mempelajari keterampilan baru, membaca puluhan buku, atau membangun projek pribadi yang berdampak.
Mengubah Doomscrolling Menjadi Habit Building
Evaluasi | Foto oleh Leeloo The First via Pexels
Dalam Same as Ever, Housel menekankan bahwa perubahan tidak harus besar dan mendadak. Justru, perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak besar dalam jangka panjang. Konsep ini sejalan dengan Atomic Habits karya James Clear, yang menyatakan bahwa kebiasaan kecil membentuk identitas Kawan GNFI. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan Gen Z untuk beralih dari doomscrolling ke habit building:
Sadar dan Evaluasi Pola Konsumsi Media Sosial
Cobalah untuk mengevaluasi bagaimana dan kapan Kawan menggunakan media sosial. Apakah Kawan scrolling sebagai bentuk hiburan sesaat atau hanya karena kebiasaan? Gunakan fitur screen time di ponsel untuk melihat seberapa banyak waktu yang kita habiskan di media sosial setiap hari.
Batasi Waktu dan Buat Aturan Digital
Housel menekankan bahwa manusia selalu mencari batasan yang jelas agar bisa mengontrol dirinya lebih baik. Tentukan batas waktu penggunaan media sosial, misalnya maksimal satu jam sehari. Bisa juga menggunakan teknik seperti Pomodoro, di mana Kawan hanya boleh menggunakan media sosial setelah menyelesaikan tugas tertentu.
Ubah Konsumsi Pasif Menjadi Aktif
Alih-alih hanya mengonsumsi konten, jadilah kreator. Buat blog, unggah karya seni, atau bagikan pemikiranmu di media sosial dengan cara yang lebih bermakna. Dengan begitu, Kawan membentuk identitas yang lebih produktif daripada sekadar menjadi konsumen pasif.
Gantilah Kebiasaan Buruk dengan Kebiasaan Baik
Housel menekankan bahwa manusia tidak bisa menghilangkan kebiasaan buruk begitu saja, tetapi Kawan bisa menggantinya dengan kebiasaan yang lebih baik. Jika biasanya Kawan membuka media sosial setiap kali merasa bosan, coba ganti dengan membaca buku, berjalan-jalan, atau menulis jurnal.
Fokus pada Kebiasaan Kecil yang Berkelanjutan
Hindari mencoba mengubah kebiasaan secara drastis. Mulailah dengan kebiasaan kecil, seperti mengurangi screen time lima menit setiap hari atau menggantinya dengan membaca satu halaman buku. Lama-kelamaan, perubahan kecil ini akan menjadi bagian dari identitas Kawan GNFI.
Buku "Same as Ever" Karya Morgan Housel | Sumber: Dokumentasi Pribadi
Gen Z hidup di era di mana informasi melimpah, tetapi tantangan terbesar bukanlah mendapatkan informasi, melainkan memilah mana yang benar-benar berguna. Same as Ever mengajarkan bahwa meskipun teknologi terus berkembang, tantangan manusia tetap sama: bagaimana Kawan GNFI mengontrol kebiasaan kita agar membentuk identitas yang kita inginkan.
Mengubah doomscrolling menjadi habit building bukan berarti berhenti menggunakan media sosial sepenuhnya, tetapi lebih kepada bagaimana Kawan GNFI menggunakannya dengan lebih sadar dan terarah.
Dengan membangun kebiasaan kecil yang positif, Kawan bisa menciptakan identitas yang lebih kuat dan bermakna di era digital ini. Jadi, sudah siap berhenti doomscrolling dan mulai membangun kebiasaan baru?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


