Siapa yang tidak mengenal suku Baduy? Komunitas ini hidup dengan kesederhanaan dan selaras dengan alam, memanfaatkan sumber daya alam dalam menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk untuk kegiatan mencuci dan mandi.
Suku Baduy adalah salah satu kelompok etnis di Indonesia yang menetap di lereng Gunung Kendeng, Lebak, Banten. Salah satu filosofi kehidupan yang dipegang oleh masyarakat ini adalah “Gunung tidak boleh dirusak, lembah tidak boleh dihancurkan, aturan tidak boleh diubah, panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung, yang bukan harus dihilangkan, yang jangan harus diabaikan, yang benar harus dibenarkan.”
Dengan berpegang pada filosofi ini, masyarakat Baduy benar-benar memanfaatkan sumber daya alam sambil tetap menjaga kelestariannya tanpa mengubah apapun di habitat asalnya. Dalam hal kebersihan, hingga saat ini, masyarakat Baduy masih mengandalkan tanaman herbal alami untuk menjaga kebersihan diri. Sebab, mereka percaya bahwa pemeliharaan lingkungan akan terjaga dan ekosistem tidak akan terganggu jika mereka tidak menggunakan sabun berbahan kimia.
Karena penggunaan produk industri dilarang di wilayah Baduy, mereka memanfaatkan tanaman kecombrang, atau yang dalam bahasa Sunda disebut ‘honje’, sebagai alternatif untuk sabun dan pasta gigi.
Masyarakat biasanya menggunakan batang dan daunnya juga. Mereka menggosoknya di batu sebelum diterapkan pada tubuh, sedangkan batangnya dipatahkan terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai sabun.
Selain itu, masyarakat Baduy juga memanfaatkan buah lerak untuk mencuci pakaian. Sebab, menghasilkan busa alami yang dapat berfungsi sebagai sabun, mirip dengan cara yang digunakan masyarakat Jawa untuk mencuci kain batik.
Manfaat Honje atau Kecombrang serta Potensinya sebagai Antimikroba
Honje atau kecombrang merupakan salah satu tanaman yang memiliki peranan vital di Baduy. Seorang juru rias Etnik Baduy Dalam meyakini bahwa honje dapat membuat kulit lebih halus. Sebab, saat seratnya dikeluarkan, tanaman ini menghasilkan busa alami yang bisa dipakai untuk mandi.
Di daerah Baduy, honje ini tumbuh liar dan alami. Selain berfungsi sebagai sabun, masyarakat Baduy juga mengolah kecombrang ini menjadi sayur dan lalapan.
Secara konvensional, bagian buah honje telah dipakai sebagai obat untuk mengobati masalah telinga, sementara daunnya digunakan untuk merawat luka. Tumbuhan dengan aromatik ini juga akan dicampur dengan jenis tanaman lain untuk menghilangkan bau badan.
Contoh nyata dari hal ini, dapat dilihat pada masyarakat Baduy yang menggabungkan honje, kicaang, dan daun keuksak untuk kebutuhan mandi.
Berdasarkan penelitian Lachumy SJT, 2010, kecombrang atau honje (Etlingera elatior) adalah sejenis tanaman rempah yang juga termasuk dalam kategori tumbuhan tahunan berbentuk terna.
Bagian bunga, buah, dan bijinya dapat dimanfaatkan sebagai sayuran. Tanaman honje mengandung berbagai senyawa seperti flavonoid, terpenoid, saponin, tannin, alkaloid, dan antraquinone.
Salah satu senyawa yang berguna adalah saponin, yang dapat menghasilkan busa dari perpaduan antara bagian hidrofobik sapogenin dan hidrofilik dari gula.
Penelitian yang dilakukan oleh Valianty, 2002 menunjukkan bahwa tanaman kecombrang atau honje memiliki kemampuan untuk melawan bakteri, termasuk Escherichia coli dan Bacillus subtilis.
Kemampuan antibakteri ini berfungsi dengan cara menghentikan pertumbuhan mikroba berbahaya atau patogen, di mana senyawa antimikroba melekat pada permukaan sel mikroba. Ini menyebabkan senyawa itu masuk ke dalam sel, sehingga pertumbuhan mikroba tersebut terhambat.
Hingga saat ini, masyarakat Baduy masih mempertahankan tradisi lokal dengan menolak pengaruh budaya luar. Mereka berkomitmen untuk mengedepankan norma-norma yang diwariskan oleh nenek moyang, yang mereka sebut ‘karuhun’.
Prinsip hidup masyarakat Baduy yang tidak berubah ini menciptakan keseimbangan antara manusia dan alam.
Dengan demikian, Kawan GNFI kini sudah menyadari bahwa busa alami yang dihasilkan dari honje berasal dari kandungan saponin. Masyarakat Baduy telah memanfaatkan ini secara turun-temurun bahkan sebelum adanya penelitian ilmiah. Terbukti bahwa honje atau kecombrang memiliki kandungan yang efektif sebagai sabun alami, loh, Kawan GNFI.
Referensi:
- Lachumy SJT, Sasidharan S, dkk. (2010). Pharmacological activity, phytochemical analysis and toxicity of menthol extrct of Etlingera elatior (Torch Ginger) flowers. Asian Pac J Trop Med; 3 (10): 769-74.
- Valianty K. (2002). Potensi Antibakteri Bunga Kecombrang. Skripsi. Purwokerto. Jurusan Teknologi dan Perusak Pangan. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, 26:119-125.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


