Individu dengan gangguan emosi merupakan salah satu dari disabilitas ditandai adanya masalah perilaku atau emosional yang sangat berbeda dari norma usia, budaya atau etnis yang berdampak buruk pada kinerjanya.
Gangguan perilaku emosional (Emotional Behavioural Disorder/EBD) mencakup berbagai masalah psikologis yang bermanifestasi sebagai masalah emosional dan perilaku pada anak-anak, remaja, atau mahasiswa. Perkembangan sosial, akademis, dan pribadi seorang anak dapat terpengaruh secara signifikan oleh gangguan ini.
Pemahaman tentang EBD telah mengalami transformasi, karena penelitian telah menunjukkan bahwa banyak faktor berkontribusi terhadap munculnya dan persistensi pada gangguan perilaku.
Peran disregulasi emosional merupakan aspek penting dari EBD. Disregulasi emosional menunjukkan tantangan dalam mengatur respons emosional, yang berpotensi mengakibatkan perilaku maladaptif. Anak-anak dengan gangguan spektrum autisme (ASD) sering menunjukkan disregulasi emosional, yang bermanifestasi sebagai agresi atau kecemasan, sehingga memperumit profil perilaku mereka.
Disregulasi ini dapat merusak kapasitas untuk mengelola rangsangan emosional, yang mengarah pada respons impulsif dan masalah perilaku yang meningkat. Lebih jauh, penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dengan gangguan komunikasi menunjukkan peningkatan tingkat masalah emosional dan perilaku, yang menyiratkan bahwa tantangan komunikasi dapat mengintensifkan disregulasi emosional.
Siswa dengan gangguan emosional berisiko lebih tinggi mengalami hasil negatif jangka panjang, termasuk penurunan kinerja sosial, perilaku, dan akademis dalam lingkungan pendidikan.
Subyek sedang mengenakan smartwatch EBDGuard yang dimonitor pendamping | Sumber Foto : Ariadie Chandra Nugraha
Meningkatkan keterampilan pengaturan emosi merupakan fokus umum dari strategi intervensi untuk EBD. Dengan meningkatkan strategi pengaturan kognitif-emosional, terapi metakognitif telah menunjukkan hasil yang menggembirakan dalam menangani masalah emosional-perilaku pada anak-anak dengan gangguan perhatian/hiperaktivitas (ADHD).
Mengurangi prevalensi perilaku maladaptif yang terkait dengan EBD merupakan tujuan dari pendekatan terapeutik, yang berfokus pada pemberian keterampilan kepada anak-anak untuk mengelola emosi mereka secara efektif, karena perilaku negatif subjek memengaruhi kinerja mereka di sekolah dan menimbulkan masalah bagi orang tua. Oleh karena itu sangat dibutuhkan suatu teknologi bantu asistif untuk mengurangi dampak perilaku bermasalah ketika ada alat pengontrol emosi seseorang.
Hal ini memungkinkan mahasiswa untuk lebih fokus pada tugas akademik dan menunjukkan perilaku yang dapat diterima karena perilaku negatif subjek mempengaruhi kinerja mereka saat menyelesaikan proses belajarnya, dan menimbulkan masalah bagi orang tua
EBDGuard merupakan suatu teknologi asistif berbentuk Smart Watch dikembangkan oleh dosen Universitas Negeri Yogyakarta yang terdiri dari Eko Prianto, S.Pd.T., M.Eng, Dr. Sukinah, M.Pd., Ariadie Chandra Nugraha, ST., M.T, Dr. Ilmawan Mustaqim, S.Pd., MT, dan Penny Rahmawaty, SE., M.Si melalui Program Bantuan Inovasi Pembelajaran dan Teknologi Bantu bagi Mahasiswa Penyandang Disabilitas Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia.
Smart Watch EBDGuard bekerja melalui pemantauan detak jantung siswa yang dapat mendeteksi tanda-tanda peringatan dini gangguan perilaku emosional (EBD). Perangkat ini dilengkapi monitor detak jantung dan beberapa sinyal keluaran yang menunjukkan adanya gejala EBD.
Selain itu alat ini juga dapat dipergunakan untuk membantu pendidik dan teman sebaya mendeteksi gejala EBD sejak dini dan melakukan mitigasi atau intervensi sebelum gangguan tersebut meningkat dan mengganggu pembelajaran mahasiswa melalui smart phone yang terhubung dengan smart watch.
Fitur lain dari EBDGuard adalah kemampuannya untuk mengukur SpO2, atau kadar saturasi oksigen dalam darah. Demi kenyamanan pengguna, hasil pengukuran alat ini ditampilkan pada LCD (Liquid Crystal Display) untuk pemantauan berkala.
Alat ini mengambil pembacaan denyut jantung dan kadar oksigen dalam darah secara real-time berkat sensor terintegrasi MAX30102 yang memantau saturasi oksigen (SpO2). Data sensor ditampilkan pada layar LCD TFT 1,69 inci, yang memberikan akses visual langsung kepada pengguna atau pendampingnya terhadap informasi tersebut.
Dengan memantau denyut jantung pengguna dalam rentang normal, serta batas bawah dan atasnya, alat ini dapat mendeteksi episode Gangguan Perilaku Emosional (EBD) seperti kambuhnya gejala atau tantrum. Seseorang dengan gejala emosional, seperti yang terkait dengan gangguan spektrum autisme (ASD) atau gangguan perilaku emosional (EBD), akan melihat indikator dioda pemancar cahaya (LED) bawaan alat ini menyala setiap kali denyut jantungnya meningkat.
Ponsel dosen atau perangkat petugas layanan staf/mahasiswa menerima data peringatan ini secara nirkabel melalui koneksi bluetooth.
EBDGuard telah diujikan kepada subyek mahasiswa UNY dan mahasiswa UKDW yang mengalami gangguan perilaku emosional dan dapat mendeteksi terjadinya peningkatan emosi melalui detak jantung dan saturasi kadar oksigen dalam darah.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


