Ilmu pengetahuan di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) memang menjadi tantangan tersendiri, bagi pendidik maupun peserta didik. Sebab, pengajaran STEM memerlukan metode pembelajaran yang inovatif agar mampu menarik perhatian siswa dan memberikan pemahaman mendalam. Tidak jarang, kesulitan-kesulitan di lapangan juga ditemui sebab fasilitas yang tersedia dalam sekolah tidak memadai, sehingga dapat menghambat ruang gerak para guru.
Tidak dapat dipungkiri, Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) menjadi bidang yang lebih difokuskan akhir-akhir ini. Sebab, STEM dinilai mampu mendorong anak untuk berpikir kritis, logis, dan menemukan solusi atas berbagai masalah.
Pendidikan STEM diyakini mampu membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan transdisipliner yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan strategi yang tepat, pendidikan STEM dianggap menjadi pilar penting dalam menciptakan generasi yang kreatif, inovatif, dan siap bersaing di kancah global. Bahkan, pendidikan STEM kini menjadi tren sistem pendidikan modern untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul skala global di masa depan.
Pentingnya STEM dalam sistem pendidikan juga diiringi dengan berbagai kendala yang ditemui di lapangan. Misalnya, guru merasa kurangnya alat penilaian yang berkualitas, waktu perencanaan, hingga menyadari kurangnya pengetahuan tentang disiplin STEM.
Penelitian yang dilakukan oleh Nuragnia, dkk., (2021) mengungkapkan, sebanyak 75% dari 32 orang guru sekolah dasar di daerah Jawa Barat dan Banten mengalami kesulitan menyesuaikan waktu perencanaan untuk pengajaran STEM. Hal ini kemudian disusul oleh kendala lain, yakni faktor fasilitas kurang memadai yang dirasakan oleh 64,06% guru.
SEAQIS Apresiasi Kontribusi Guru Science
Melihat kompleksitas bidang STEM dalam pendidikan, membuat SEAMEO QITEP in Science (SEAQIS) tergerak untul menggelar Ki Hajar Dewantara (KHD) Award untuk guru-guru sains terbaik dari berbagai negara di Asia Tenggara.
Penghargaan Ki Hajar Dewantara (KHD) ini merupakan bentuk apresiasi atas berbagi metode pengajaran inovatif yang telah dicetuskan oleh pendidik bidang STEM serta merayakan kontribusi guru-guru STEM, terkhusus sains dalam memajukan pendidikan.
Ki Hajar Dewantara (KHD) Award digelar selama 2 hari berturut-turut mulai Rabu, 5 November hingga Kamis, 6 November 2024 di Mason Pine Hotel, Bandung.
Membedah Kendala Pembelajaran STEM dari Aspek Pengajar
Selama dua hari digelar, Ki Hajar Dewantara (KHD) Award memberikan ruang bagi para guru membagikan pengalamannya selama mengajarkan sains. Diskusi ini juga dibarengi inovasi-inovasi unik dari para guru saat mengajarkan sains.
Lewat sesi diskusi “Future-Ready Classrooms: Strategies for Digital Science Teaching,” ini, setiap guru menunjukkan pendekatan kreatif mereka untuk menjadikan pembelajaran sains menjadi lebih menarik dan relevan bagi siswa di era digital. Beberapa perwakilan negara yang turut serta dalam diskusi dan mempresentasikan inovasi tersebut ialah Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Kamboja, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Timor-Leste.
Selain membagikan ide kreatif dalam penyampaian pembelajaran, para guru juga turut membagikan wawasan dan hasil penelitian terbaru mereka dalam SEAQIS International Conference on Science Education (SICSE) 2024 yang digelar pada Kamis (6/11/2024).
Dalam sesi ini, tiga pembicara utama: Dr Simone Blom PhD (Southern Cross University, Australia), Profesor Xiang-Ping Wu (Chinese Academy of Sciences, China), dan Profesor Dr Kang Zhang (The Hong Kong University of Science and Technology, Guangzhou Campus, China) juga memberikan ulasan mengenai strategi pengajaran sains di era digital.
Sesi ini kemudian dilanjutkan dengan diskusi paralel yang membahas berbagai topik, seperti penggunaan alat digital dalam pengajaran hingga pentingnya pengembangan keterampilan abad ke-21, yang menginspirasi para peserta untuk terus berinovasi dalam pendekatan mereka.
Indonesia Raih Juara Kedua dalam Ki Hajar Dewantara (KHD) Award
Lihat postingan ini di Instagram
Indonesia lewat Hafiz Anshari berhasil menyabet juara dua dalam Ki Hajar Dewantara (KHD) Award. Sementara itu, juara pertama diraih oleh Chan Sau Siong dari Singapura dan yang Suzanah binti Haji Kurus dari Brunei Darussalam sebagai juara ketiga.
Raihan Hafiz dalam penghargaan ini menunjukkan bahwa kualitas pendidik di Indonesia tidak kalah dengan negara lain. Yang perlu ditekankan ialah bagaimana pihak-pihak terkait dapat memberikan dukungan penuh dari berbagai aspek untuk kemajuan pendidikan di Indonesia, termasuk panduan kurikulum hingga fasilitas pembelajaran.
Hadirnya penghargaan Ki Hajar Dewantara (KHD) ini juga menjadi pemantik bagi para guru agar terus berupaya berinovasi dan memberikan yang terbaik bagi siswa.
“Penghargaan ini sangat baik untuk memotivasi kami sebagai guru agar terus berupaya memberikan yang terbaik bagi siswa. Saya berharap ajang ini akan berlanjut di tahun-tahun mendatang,” jelas Zainudin bin Zainal Abidin, salah satu peserta favorit dari Malaysia.


