legenda cerita rakyat candi nusantara bubuksah dan gagang aking pengorbanan kepada pencipta - News | Good News From Indonesia 2024

Legenda Cerita Rakyat Candi Nusantara, Bubuksah dan Gagang Aking, Pengorbanan Kepada Pencipta

Legenda Cerita Rakyat Candi Nusantara, Bubuksah dan Gagang Aking, Pengorbanan Kepada Pencipta
images info

Legenda Cerita Rakyat Candi Nusantara, Bubuksah dan Gagang Aking, Pengorbanan Kepada Pencipta


Cerita ini terinspirasi dari relief candi Nusantara, Candi Penataran dan Candi Surawana. Cerita termasuk dalam cerita fabel Tantri Kamandaka. Cerita sedikit dimodifikasi agar ramah anak, tetapi tidak menghilangkan esensi moral didalamnya.

Pada suatu masa terdapat dua orang saudara yang mengabdikan diri mereka untuk menjadi seoarang pendeta. Kedua pendeta bersaudara itu bernama Bubuksah dan Gagang Aking.

Bubuksah dikenal karena tubuhnya yang besar dan sifatnya yang baik hati kepada makhluk hidup. Sedangkan Gagang Aking memiliki tubuh yang kurus dan kecil dibandingkan saudaranya, ia terkenal karena sifatnya yang pemalu dan gelagapan.

Akan tetapi kedua saudara itu saling mendukung antara keimanan mereka dan kepercayaan mereka terhadap penciptanya. Hingga keduanya mendapatkan ujian dari sang maha melihat segalanya hingga akhirnya menentukan tingkat kepedulian dan ketaatan mereka.

Pertapaan di Gua

Alkisah suatu masa kedua saudara tersebut ingin berkelana untuk melakukan pertapaan di alam sebagai bentuk untuk mengenal alam dan belajar dari alam tentang keimanan dan budi pekerti.

Mereka berdua melakukan tersebut semata-mata untuk meningkatkan nilai spiritual mereka. Dalam perjalananya mereka menentukan untuk bertapa di hutan yang sangat luas negeri seberang. Sebagai bentuk refleksi diri akhirnya mereka berdua sepakat untuk melakukan pertapaan di area yang berbeda.

Bubuksah mengambil tempat di gua timur yang menghadap barat, sedangkan Gagang Aking mengambil tempat di gua barat yang menghadap timur.

Mereka berdua melakukan pertapaan dengan cara mereka sendiri. Bubuksah melakukan pertapaan dengan memegang prinsip bahwa pertapaan ini haruslah dilakukan dengan mengenal alam itu sendiri dengan bercengkrama dan membantu makhluk-makhluk sekitar. Hal ini membuat ia tetap makan dan minum untuk bertahan hidup, sehingga membuat tidak terjadinya penurunan berat badan padanya.

baca juga

Berbeda dengan Gagang Aking, prinsip yang ia pegang adalah bahwasannya ia harus melakukan pertapaan dengan khidmat dan makan seadanya, hingga membuat ia semakin kurus. Baginya pertapaan ini adalah media untuk ia mendekatkan dirinya dengan sang pencipta. Tapi ia melupakan bahwa ia juga harusnya belajar dengan alam sebagai bentuk kemanusian.

Pertapaan dan prinsip yang tidak biasa dipegang kedua saudara ini mengundang perhatian dewa. Salah satunya dewa Indra, melihat hal yang tidak biasa ini akhirnya membuat dewa Indra ingin menguji keimanan mereka. Akhirnya dewa Indra memberitahukan kepada dewa Siwa atas yang ingin dilakukan.

Tertarik dengan hal tersebut membuat dewa Siwa meminta tolong kepada Dewa Kalawijaya untuk menguji keimanan mereka dengan berubah menjadi harimau putih yang kesakitan.

Pengorbanan dan Keniscayaan

Setelah sampainya di Bumi, dewa Kalawijaya dengan wujud harimau putihnya kemudian segera menghampiri Gagang Aking karena melihat Gagang Aking yang hanya bertapa tanp melakukan apapun.

Sesampainya harimau putih di gua maka mengaumlah sang harimau. Terkejut dengan hal itu membuat konsentrasi dan fokus Gagang Aking langsung pecah. Bahkan ia sampai terjatuh, ketika tersadar ia langsung tergagap-gagap dan bergetar ketakutan.

Tatapan harimau putih itu membuat ia sangat takut, kemudian harimau putih itu berkata “Wahai kau manusia, aku sedang merasa kesakitan dan hanya dengan memakan manusia rasa sakit itu dapat tersembuhkan, akankah kau mau berkorban?” sambil menatap tajam.

Sambil menelan ludah, Gagang Aking tergagap-gagap berkata, “a...aku tidak e...enak untuk dimakan wahai harimau, badan ku sangat kurus sekali, kau tidak akan kenyang jika memakanku,” masih bergetar ketakutan.

Akhirnya sang harimau putih berkata, “sungguh kau tidak bijaksana.” Kemudian berbalik meninggalkan Gagang Aking yang sedang berusaha menenangkan diri melihat harimau putih pergi. Gagang Aking yang dilanda kepanikan tidak mengindahkan perkataan dari sang harimau.

Akhirnya harimau putih melanjutkan menemui Bubuksah. Saat itu Bubuksah sedang merapikan peralatannya untuk mencari makan, ia langsung terperanjat ketika melihat seekor harimau putih menghampirinya dan mengaum.

Bersiaga dan berusaha berani akhirnya Bubuksah menanyakan kedatangan harimau putih “Ada gerangan apa harimau, kau membutuhkan pertolongan?” tulus kata-kata tersebut keluar dari Bubuksah menggugah harimau.

“Aku sedang sakit hingga membutuhkan pengobatan dan obat itu adalah dengan memakan daging manusia, akankah kau mau berkorban?” tutur harimau putih ke Bubuksah.

Awalnya Bubuksah terkejut dengan hal itu. Sebenarnya Bubuksah bisa saja mengalahkan harimau putih itu, akan tetapi tanpa disangka-sangka ia melakukan sebaliknya. Berjalan ia ke depan harimau dan berbaring di depan harimau putih tersebut.

Bubuksah kemudian berkata “Jika hanya itu yang bisa membuat mu hidup, maka aku akan membiarkan diriku untuk dimakan kau. Sejatinya aku memang diciptakan untuk saling menolong terhadap semua makhluk hidup dan badan ku yang besar ini tidak hanya memberi mu pertolongan akan tetapi memberikan penghidupan bagi mu, akan ku lakukan.”

Dari hal ini harimau putih tau siapa yang tulus dan bijaksana diantara kedua saudara itu. Rasa khawatir tentu tak terbendung oleh Gagang Aking, akhirnya ia berlari menuju ke gua tempat Bubuksah. Sesampainya di gua, tentunya harimau putih sadar akan itu, ia kemudian berubah menjadi sosok aslinya dewa Kalawijaya.

Terkejut kedua bersaudara tersebut setelah mengetahui sosok harimau sebenarnya. Dewa Kalawijaya pun berkata, “Wahai kalian, sejatinya aku sudah mengetahui prilaku kalian, tapi melihat sifat Bubuksah yang menyerahkan dirinya untuk makhluk hidup membuat ia pantas mendapatkan derajat yang lebih tinggi, Gagang Aking ketekunan mu tidak bisa dibilang biasa, akan tetapi hubungan antar sesama membuat mu seharusnya lebih bersahaja, jadikan ini sebuah pelajaran.”

baca juga

Kedua saudara itupun bersembah sujud dan dewa Kalawijaya berkata “Mari ikutlah dengan ku, aku akan membawa kalian ke Swargaloka tempat kematangan ruhani, Bubuksah naiklah di atas ku karena derajatmu lebih ditinggikan atas perilakumu, sedangkan Gagang Aking peganglah ekor ku”

Akhirnya mereka berangkat ke Swargaloka. Bubuksah dengan sifat dan prilakunya untuk mebantu seluruh makhluk hidup akhirnya menuai hasil yang manis, ia ditempatkan pada surga pertama. Sedangkan Gagang Aking ditempatkan di surga kedua, tetapi ia tidak iri sama sekali dengan hal tersebut, malah sebaliknya ia terus belajar dan memiliki tekad yang besar dan berani.

 

Referensi

T.M Hari Lelono. (2016). Relief Candi Sebagai Media Efektif Untuk Menyampaikan Informasi Moral-Didaktif Pada Masa Jawa Kuna. Berkala Arkeologi | Balai Arkeologi D. I. Yogyakarta. Vol 36 No.31. Hal 99 – 116.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.