ketika soeharto jadi pengangguran kesulitan mencari pekerjaan hingga dimarahi sang bibi - News | Good News From Indonesia 2024

Ketika Soeharto Jadi Pengangguran, Kesulitan Mencari Pekerjaan hingga Dimarahi Sang Bibi

Ketika Soeharto Jadi Pengangguran, Kesulitan Mencari Pekerjaan hingga Dimarahi Sang Bibi
images info

Ketika Soeharto Jadi Pengangguran, Kesulitan Mencari Pekerjaan hingga Dimarahi Sang Bibi


Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan situasi bahwa sebanyak 9,9 juta Generasi Z di Indonesia tidak kuliah dan tidak bekerja. Angka ini menunjukkan hal serius dalam transisi Indonesia menjadi negara maju pada 2045 kelak.

Tetapi masalah pengangguran ini tidak hanya dirasakan oleh Gen Z, tetapi para tokoh bangsa pada zaman kemerdekaan. Salah satu figur yang merasakan kesulitan mendapatkan kerja adalah Soeharto.

baca juga

Soeharto harus melewati jalan berliku sebelum bisa menduduki kursi presiden. Soeharto kecil hidup jauh dari rasa nyaman. Pada usia 8 tahun, dia telah dititipkan ayahnya kepada adik perempuan satu-satunya yang tinggal di Wuryantoro, Wonogiri, Jawa Tengah.

Bibinya bersuamikan mantri tani, Prawirowihardjo. Di sana, dia mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Soeharto sempat kembali ke Yogyakarta untuk menamatkan sekolah di Schakel Muhammadiyah.

Menjadi penganggur

Pada usia 18 tahun, Soeharto yang ingin melanjutkan sekolah terpaksa bekerja dulu untuk mengumpulkan ongkos pendidikannya. Ayah maupun keluarganya tak ada yang sanggup membiayai.

Karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan, pria kelahiran 8 Juni 1921 itu pergi ke Wuryantoro. Di daerah tempat tinggal bibinya itu, Soeharto memiliki banyak kenalan. Dia mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu klerek (pegawai) di Bank Desa.

baca juga

Soeharto pun bekerja dengan mengikuti sang klerek berkeliling kampung menggunakan sepeda dan pakaian Jawa lengkap, kain blangkon serta baju beskap. Lewat pekerjaan itu, Soeharto belajar pembukuan.

Tetapi karirnya sebagai klerek tamat saat kainnya sobek usai turun dari sepeda yang sudah reot. Kain itu tersangkut pada sadel yang menonjol keluar. Padahal itu adalah satu-satunya kain yang bisa dipakainya untuk bekerja.

“Saat itu, dia dicela klerek dan dimarahi sang bibi, Ibu Prawirowihardjo. Sejak itu, Soeharto yang kelak memimpin Indonesia menjadi pengangguran lagi,” jelas laman Soeharto.co.

Tentara membuka jalan

Jalan sukses Soeharto bermula saat diterima menjadi tentara di Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL), tentara kolonial yang mengamankan Hindia Belanda untuk Kerajaan Belanda.

Ketika itu, menjadi tentara menjadi jalan keluar bagi orang miskin dan terhina. Tentara mendapatkan gaji 60 gulden sebulan dan dapat jatah rumah. Tetapi masa bahagia Soeharto hanya berlangsung hingga Maret 1942, ketika Belanda menyerahkan kepada Jepang.

Soeharto kemudian melamar menjadi polisi di Yogyakarta. Setelah beberapa bulan, Soeharto mendaftar sebagai tentara Pembela Tanah Air (PETA). Pada tahun 1942, Soeharto sudah diangkat menjadi kapten di usia 24 tahun.

baca juga

Kalahnya Jepang Perang Pasifik membuat Soeharto kembali jadi pengangguran. Tetapi Revolusi Kemerdekaan menjadi tangga cepat Soeharto mencapai kesuksesan. Dia ikut dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang lalu jadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Setelah 1960, Soeharto sudah jadi Brigadir Jenderal di TNI AD. Ketika G30S pecah, Soeharto menjadi orang paling kuat di kalangan tentara. Bahkan Presiden Soekarno lebih banyak berharap kepada Soeharto.

“Perlahan tapi pasti, sebagai tentara terkuat, Soeharto menggantikan Soekarno sebagai orang nomor satu di Indonesia,” tulis Bisa Apa Soeharto Kalau Enggak Masuk KNIL? tulsi Petrik Matanasi yang dimuat Indoprogres.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.