Perempuan merupakan manusia yang cukup kompleks. Perempuan memiliki banyak siklus dalam hidupnya, mulai dari anak-anak, remaja yang ditandai dengan menstruasi, mengandung, melahirkan, hingga menopause.
Sayangnya, tidak semua perempuan dapat merasakan siklus tersebut. Sebab, ada beberapa kondisi medis yang mengharuskan perempuan mengalami amenorea (siklus menstruasi yang tidak teratur) hingga susah hamil.
Salah satu kondisi medis yang berdampak kompleks pada wanita, mulai dari siklus menstruasi tidak teratur hingga sulit mendapat keturunan ialah adenomiosis dan endometriosis.
Keduanya sama-sama disebabkan oleh keberadaan jaringan endometrium. Akan tetapi, adenomiosis dan endometriosis memiliki titik pertumbuhan endometrium yang berbeda dan menyebabkan kondisi yang berbeda pula.
Endometrium merupakan jaringan yang melapisi bagian terdalam rahim (uterus). Salah satu fungsi utama dari endometrium ialah sebagai tempat menempelnya sel telur yang telah dibuahi.
Endometrium ini akan menebal saat sebelum menstruasi. Hal ini menandakan bahwa endometrium siap untuk dibuahi. Akan tetapi, jika sel telur tidak dibuahi, endometrium akan luruh dan keluar dari tubuh sebagai darah menstruasi.
Apa Itu Adenomiosis?
Adenomiosis merupakan kondisi pada sistem reproduksi wanita yang menyebabkan jaringan endometrium tumbuh ke dalam miometrium.
Miometrium merupakan lapisan tengah rahim yang sebagian besar terdiri dari sel-sel otot polos. Miometrium dapat mengembang untuk memfasilitasi pertumbuhan janin serta berperan untuk membantu proses kontraksi saat melahirkan.
Pada kondisi adenomiosis, endometrium yang menebal dan mengembang di dalam miometrium menyebabkan rahim membesar menjadi dua kali lipat atau tiga kali lipat. Hal ini menyebabkan pendarahan pada rahim yang tidak normal hingga siklus menstruasi yang terasa menyakitkan.
Intinya, adenomiosis merupakan kondisi saat endometrium tumbuh ke dalam otot rahim sehingga mehingga menyebabkan nyeri menstruasi yang hebat hingga darah menstruasi yang keluar lebih banyak.
“Adenomiosis tiap haid itu nyeri sekali. Nyerinya kaya diperas dan haidnya banyak,” jelas Prof. Dr. dr. Tono Djuwantono, Sp.OG(K), sebagaimana dikutip dalam akun YouTube resmi Nikita Willy Official.
Biasanya, sebagian besar kasus adenomiosis dialami oleh wanita berusia 40-50 tahunan. Pertumbuhan adenomiosis pada wanita ini disebabkan oleh hormon estrogen yang terlalu banyak.
Wanita dengan kondisi adenomiosis berisiko lebih tinggi terkena kanker endometrium dan tiroid. Bahkan, wanita dengan kondisi adenomiosis sangat berpotensi untuk mengalami keguguran yang berulang.
Beberapa gejala adenomiosis yang kerap dirasakan oleh wanita di antaranya:
- Nyeri haid terasa sangat sakit.
- Nyeri haid terasa tiap bulan.
- Volume darah haid banyak dan bergumpal tiap bulannya.
- Terasa nyeri saat berhubungan seksual.
- Mengalami keguguran berulang.
Apa Itu Endometriosis?
Berbeda dengan adenomiosis, endometriosis merupakan kondisi saat jaringan endometrium tumbuh di luar rahim.
Endometrium yang tidak dibuahi seharusnya luruh dan menjadi darah haid, justru menyebar ke tempat lain, seperti ovarium, tuba falopi, dinding samping panggul, perut, hingga usus.
“Penyebab endometriosis adalah ada sel endometrium, sel yang ada di dalam lapisan rahim yang jalan-jalan tetapi memiliki gangguan pertumbuhan dan sangat aktif. Endometriosis itu sel-sel endometrium yang keluar dan menempel di organ reproduksi. Endometriosis di luar rahim, tapi kalau nembus ke rahim itu adenomiosis,” imbuh Prof. Dr. dr. Tono Djuwantono, Sp.OG(K).
Akibarnya, endometrium di luar dinding rahim ini tidak dapat keluar sehingga menyebabkan peradangan. Bahkan, dilansir dari jurnal Plos One, wanita dengan kondisi endometriosis berisiko lebih tinggi terkena kanker endometrium dan ovarium.
Penyebab Adenomiosis dan Endometriosis
Prof. Dr. dr. Tono Djuwantono, Sp.OG(K)., menjelaskan bahwa kondisi adenomiosis dan endometriosis bukanlah penyakit keturunan. Akan tetapi, kondisi ini disebabkan adanya gen yang muncul pada orang tua, dalam hal ini ibu.
“Adenomiosis dan endometriosis itu bukan penyakit keturunan tapi gennya sudah ada dari ibunya. Ibunya endo, anaknya kemungkinan besar endo,” tegasnya.
Tumbuhnya jaringan endometrium yang terlalu aktif dan menyebabkan adenomiosis dan endometriosis juga didukung oleh pola hidup yang tidak sehat.
Wanita dengan kelebihan berat barat atau obesitas disebut lebih berpotensi mengalami kondisi adenomiosis dan endometriosis. Sebab, berat badan seorang wanita akan berpengaruh terhadap keberadaan hormon estrogen.
“Penyebabnya pola hidup. Orang setelah nikah itu makin gemuk. Jadi kalau gemuk, estrogennya akan tinggi dan itu biasanya ada gangguan anovulasi itu. Endometriosis, adenomiosis, benjolan payudara, tumor payudara, semuanya adalah penyakit wanita yang disebabkan kelebihan estrogen. Kalau dia makin gemuk, hampir pasti ovulasinya terganggu,” tandasnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


