gamelan suro gremeng - News | Good News From Indonesia 2024

Gamelan Suro Gremeng, Dolanan Gamelan dari Limbah Kaca

Gamelan Suro Gremeng, Dolanan Gamelan dari Limbah Kaca
images info

Gamelan Suro Gremeng, Dolanan Gamelan dari Limbah Kaca


Di tengah keindahan alam Kabupaten Pacitan yang terkenal dengan julukan "Kota 1001 Goa" dan pantainya, tersimpan sebuah keunikan budaya yang mengagumkan. Keunikan tersebut dapat ditemukan di Sanggar Song Meri

Terletak di Dusun Nitikan, Desa Sukoharjo, Sanggar Song Meri telah menciptakan inovasi luar biasa dalam dunia gamelan. Mereka memperkenalkan "Gamelan Suro Gremeng", sebuah gamelan yang terbuat dari limbah kaca.

Melalui kunjungan Tim KKN-PPM UGM Roman Pacitan, pemilik Sanggar Song Meri menjelaskan proses kelahiran dari Gamelan Suro Gremeng. Gamelan Suro Gremeng lahir dari pemikiran kreatif di tengah pandemik COVID-19.

Saat banyak seniman kehilangan ruang berkreasi, Muhammad Sultoni atau yang akrab disapa Mas Toni Konde—seorang seniman asal Solo—menggagas ide untuk memanfaatkan limbah kaca menjadi alat musik gamelan.

Ide ini kemudian dikembangkan bersama seniman lain, termasuk Bapak Misbahudin atau kerap disapa Bang Misbah, yang memulai eksperimen mengubah limbah kaca menjadi instrumen gamelan yang unik.

baca juga

Sanggar Song Meri | Foto: Dokumentasi Pribadi/Dewi Andini Yudiati (KKN Roman Pacitan Sub Unit Purwoasri)
info gambar

Sanggar Song Meri | Foto: Dokumentasi Pribadi/Dewi Andini Yudiati (KKN Roman Pacitan Sub Unit Purwoasri)


Proses pembuatan Gamelan Suro Gremeng berlangsung selama kurang lebih 3 bulan. Berbagai jenis limbah kaca dikumpulkan, mulai dari botol bekas, kaca jendela, kaca etalase, hingga galon air minum yang sudah tidak terpakai.

Gamelan ini dibuat dengan kerja sama seniman dari berbagai daerah, seperti Solo, Makassar, Malaysia, dan seniman lokal Pacitan.

Para seniman tentu tidak bekerja sendiri. Dengan bantuan tukang kayu lokal yang membuat dudukan atau 'tempat gamelan', terciptalah sebuah set gamelan yang menggunakan laras pelog.

Keunikan Gamelan Suro Gremeng tidak hanya terletak pada bahan bakunya, tetapi juga pada suara yang dihasilkan. Meskipun terbuat dari kaca, gamelan ini mampu menghasilkan nada yang mirip dengan gamelan tradisional—meski dengan volume yang lebih lembut.

Volumenya yang lembut itulah yang menginspirasi nama "Gremeng". Jika diartikan, gremeng berarti suara samar-samar.

Sementara itu, kata suro diambil dari peresmian gamelan ini. Gamelan Suro Gremeng diresmikan bertepatan dengan tanggal 1 Suro (1 Muharam).

Bapak Amin, pendiri Sanggar Song Meri | Foto: Dokumentasi Pribadi/Dewi Andini Yudiati (KKN Roman Pacitan Sub Unit Purwoasri)
info gambar

Bapak Amin, pendiri Sanggar Song Meri | Foto: Dokumentasi Pribadi/Dewi Andini Yudiati (KKN Roman Pacitan Sub Unit Purwoasri)


Sebelumnya, Sanggar Song Meri—yang didirikan oleh Aminudin Sastro Prawiro pada tahun 2012—menjadi rumah bagi Gamelan Suro Gremeng.

Selain menjadi tempat latihan dan pertunjukan, sanggar ini juga mengadakan pasar beling atau pasar krempyeng pada setiap hari dengan pasaran Minggu Wage(hari dalam hitungan Jawa).

Pasar ini tidak hanya menawarkan kuliner tradisional khas Pacitan. Pengunjung juga mendapat kesempatan bagi untuk mencoba memainkan Gamelan Suro Gremeng secara langsung.

Gamelan Suro Gremeng tetap menjadi bukti nyata kreativitas dan kepedulian lingkungan. Alat musik ini tidak hanya menjadi daya tarik wisata budaya yang unik di Pacitan, tetapi juga menjadi simbol pelestarian budaya Jawa dengan cara yang inovatif.

Sebagai satu-satunya gamelan kaca di Kabupaten Pacitan, Gamelan Suro Gremeng menjadi kebanggaan lokal yang layak untuk terus dikembangkan dan dilestarikan.

baca juga

mencoba bermain gamelan kaca | Foto: Dokumentasi Pribadi/Dewi Andini Yudiati (KKN Roman Pacitan Sub Unit Purwoasri)
info gambar

mencoba bermain gamelan kaca | Foto: Dokumentasi Pribadi/Dewi Andini Yudiati (KKN Roman Pacitan Sub Unit Purwoasri)


Dalam kunjungan Tim KKN-PPM UGM Roman Pacitan di Sanggar Song Meri, kami tidak melewatkan kesempatan untuk mencoba gamelan ini dan memainkan beberapa lagu tradisional hingga nasional.

Beberapa lagu tradisional yang kami mainkan meliputi lagu "Suwe Ora Jamu", "Gundul-Gundul Pacul", dan "Gugur Gunung". Sementara itu, lagu nasional yang kami mainkan adalah "Garuda Pancasila", dipandu oleh salah satu seniman Song Meri dan rekan satu Tim KKN kami yang berasal dari jurusan Sastra Jawa, Fakultas Ilmu Budaya.

Memainkan Gamelan Suro Gremeng memberikan sensasi yang berbeda dan unik dibandingkan dengan gamelan tradisional. Meski sama-sama gamelan, perbedaan bahan dasar membuat pengalaman bermainnya terasa baru dan menarik.

Saat memainkannya, kita harus berhati-hati dalam memukul not yang diinginkan. Selain itu, rasa takut dan penasaran pasti akan dirasakan oleh seseorang yang pertama kali memainkan gamelan ini karena kekhawatiran akan pecahnya kaca serta keingintahuan tentang bagaimana suara yang dihasilkan.

Bagi mereka yang sudah cukup lancar memainkan Gamelan Suro Gremeng, rasa penasaran akan terus mendorong untuk semakin mahir, sama seperti yang kami rasakan saat memainkannya.

Setelah memainkan beberapa lagu, kami merasa ingin terus bermain dan mengeksplorasi berbagai melodi lainnya. Kami juga merasa tertantang untuk terus belajar hingga bermain notasi yang lebih sulit dan kompleks.

Pengalaman ini tidak hanya mengasah keterampilan musik, tetapi juga memberikan kepuasan tersendiri dalam mengeksplorasi alat musik yang ramah lingkungan dan penuh inovasi.

Kehadiran Gamelan Suro Gremeng membuktikan bahwa kreativitas tidak mengenal batas, bahkan di tengah keterbatasan seperti pandemik COVID-19 pada masa itu.

Dari limbah yang kerap diabaikan, lahirlah sebuah karya seni yang tidak hanya indah didengar, tetapi juga membawa pesan kuat tentang pelestarian lingkungan dan budaya.

Gamelan Suro Gremeng bukan sekadar alat musik, melainkan jembatan yang menghubungkan tradisi dengan inovasi, masa lalu dengan masa depan.

baca juga

Penulis: Dewi Andini Yudiati dan Michael Nohandika
Foto: Dewi Andini Yudiati

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KU
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.