kisah inspiratif abdul hadi menekuni seni ukir bambu - News | Good News From Indonesia 2024

Kisah Inspiratif Abdul Hadi dalam Menekuni Seni Ukir Bambu

Kisah Inspiratif Abdul Hadi dalam Menekuni Seni Ukir Bambu
images info

Kisah Inspiratif Abdul Hadi dalam Menekuni Seni Ukir Bambu


Ditetapkan sebagai salah satu desa wisata di Indonesia, Desa Tuksongo—terletak di Borobudur, Jawa Tengah, menyimpan banyak kisah inspiratif dari setiap sudutnya.

Abdul Hadi, seorang perajin ukir bambu yang telah menggeluti bidang seni ukir bambu sejak pertengahan 80-an ini, memiliki kisah unik dalam memulai perjalanannya sebagai perajin ukir bambu di Desa Tuksongo.

Kisah perjalanan Hadi tak hanya mengubah hidupnya. Lebih dari itu, kehadirannya sebagai perajin ukir bambu telah memberikan kontribusi signifikan dalam memajukan perekonomian lokal.

Perjalanannya dimulai ketika ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada 1986. Saat itu, Hadi baru saja pulang sekolah sembari menyusuri kawasan Candi Borobudur yang dipadati wisatawan, pedagang asongan, dan penjual kerajinan tangan.

Hari yang tak biasa dari sebelum-sebelumnya, Hadi memusatkan atensi pada salah satu penjual kerajinan seni ukir bambu di pinggir jalan kawasan candi. Ia memperhatikan dengan lekat setiap ukiran pada hasil kerajinan itu.

"Saat itu, ukiran di kerajinannya hanya sebatas gambar candi saja. Namun, saya terinspirasi untuk membuat seni ukir bambu yang saya lihat," jelas Hadi, sembari mengukir dua kotak bambu.

baca juga

Tanpa peralatan yang lengkap maupun seorang guru, Hadi tetap mencoba untuk membuat ukiran pada sebilah bambu dengan kemampuannya sendiri.

Tak hanya itu, ia harus meminjam alat dari salah satu temannya karena belum memiliki peralatan yang memadai untuk mengukir.

"Saya belajar secara otodidak dan mencoba sendiri. Alat yang saya gunakan juga hasil dari pinjaman teman yang merupakan pengrajin ukir bambu juga," ucap Hadi.

Bahkan, Hadi menambahkan, ketika meminjam alat ukir itu, terjadi negosiasi yang cukup sulit antara ia dan temannya.

Namun, ketekunannya selama mempelajari seni ukir pun terbayar lunas. Selang beberapa waktu kemudian, ia sudah mahir mengukir bambu dan dapat menjualnya sebagai kerajinan tangan yang indah.

Tak hanya sampai di situ, beberapa tahun kemudian—tepatnya pada pertengahan tahun 90-an, ia mengajari para santri dari salah satu pesantren di Banyuwangi, Jawa Timur, tentang cara mengukir di bambu dan menghasilkan pendapatan sendiri.

Ia mengabdi pada tempat ia menuntut ilmu agama dengan cara memberikan pelatihan pada santri dengan keahliannya.

Sebagai seorang santri yang hidup merantau, Hadi menyadari bahwa memiliki pendapatan pribadi dapat membantu menambah uang yang diberikan oleh orang tua di perantauan.

"Para santri yang saya ajari seni ukir selain dapat pelajaran agama di pesantren, mereka juga dapat ilmu seni ukir dari saya. Kalau hasil karya mereka dapat diperjualbelikan, tentu bisa membantu mereka untuk menambah uang jajan sehari-hari," terangnya.

Dampak dari kerajinan seni ukir yang ia hasilkan bagi perekonomiannya cukup signifikan. Hadi juga membuat berbagai jenis ukiran bambu, seperti kotak tisu, kaligrafi, hiasan dinding, dan yang lainnya.

Produk miliknya pun sudah tersebar di berbagai pulau di Indonesia, seperti Bali, Lombok, dan juga Lampung. Ia juga menceritakan bagaimana produknya bisa dikenal orang banyak di Bali.

Saat itu, kawannya meminta ia dan para santri untuk membuat kerajinan seni ukir bambu. Hasil kerajinannya bakal diperlihatkan kepada salah satu calon pembeli yang berasal dari Bali.

Akan tetapi, ia menjumpai sebuah tantangan. Bukan hanya dari pesantrennya saja yang memamerkan hasil kerajinan mereka, tetapi pegiat seni ukir bambu lainnya juga turut berpartisipasi.

Hasil kerja kerasnya dan para santri pun berbuah hasil. Kerajinan mereka terpilih dan diminati oleh para konsumen.

"Akhirnya, mereka memilih hasil seni ukir bambu yang saya buat bersama para santri. Kerajinan milik saya dinilai punya nilai lebih karena kayunya tidak dicat dan masih asli," cerita Hadi.

Keberhasilannya itu tak disangka membuka banyak kesempatan untuk memasarkan produknya hingga pasar internasional, seperti ke Negeri Gajah Putih, Thailand.

baca juga

Kisah perjalanan Hadi dalam menekuni bidang seni ukir begitu inspiratif dan tentu dapat menginspirasi orang-orang di sekitarnya. Ia pun memiliki harapan besar yang mulia untuk usaha seni ukir bambunya.

Hadi berharap bisa mendirikan pesantren dan memiliki lahan untuk memamerkan usaha seni ukir bambunya, agar dikenal banyak orang, terutama wisatawan yang berkunjung ke Desa Tuksongo.

"Saya berharap bisa punya pesantren agar bisa mengajari mereka kerajinan seni ukir bambu, selain ilmu agama, seperti dulu," ungkap Hadi.

Jika Kawan GNFI berkunjung ke Desa Tuksongo, sempatkan mampir untuk mengunjungi kediaman dan rumah produksi dari seni ukir bambu milik Hadi di Dusun Ganjuran 1, Desa Tuksongo, Borobudur, Jawa Tengah.

Penulis: Hadistia Leovita Subakti

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

LB
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.