Papa Garang desa yang indah tapi susah air
Orangnya ramah dan juga cantik-cantik
Inilah kami anak Pak Garang
Siap menantang kalian semua...
Sebuah lagu sederhana yang setiap hari dinyanyikan anak-anak Desa Papagarang. Lagu yang sudah cukup (tidak kurang dan dilebih-lebihkan) untuk merepresentasikan kondisi di Desa Papagarang yang terletak di Pulau Papa Garang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Pulau Papa Garang merupakan salah satu pulau yang termasuk dalam kawasan penyangga Taman Nasional Komodo. Meskipun demikian, pulau dengan luas 803 Hektare ini tidak begitu dilirik wisatawan. Sebab, bukan menjadi habitat dari ikon pariwisata Taman Nasional Komodo karena pulau ini sama sekali tidak dihuni oleh Komodo.
Tiadanya Komodo di pulau tersebut sejatinya tidak menurunkan kualitas destinasi wisata Pulau Papa Garang apabila disandingkan dengan pulau lain di sekitarnya. Lebih lanjut, pulau ini diperkaya oleh beragam objek wisata akibat kondisi geografisnya yang diapit oleh bukit, pantai, dan lautan yang dapat dijadikan destinasi wisata oleh Kawan GNFI.
Inilah 3 lokasi yang harus Kawan GNFI kunjungi jika datang ke Pulau Papa Garang!
Bukit dengan Hamparan Savana

Keindahan Bukit Savana Papa Garang
Pesona keindahan alam yang dapat dikunjungi yang pertama adalah hamparan savana di Bukit Santai dan Bukit Keramat yang dapat dijangkau hanya dengan waktu kurang dari 10 menit jalan kaki.
Berada di titik tertinggi Pulau Papa Garang, kita dapat menyaksikan keindahan pulau-pulau di sekitar secara 360 derajat. Momen ini makin lengkap jika kita mengunjungi di waktu matahari terbit dan terbenam.
Permukiman Warga yang Ramah

Keramahan warga Papa Garang
Menginjakkan kaki di tanah Papa Garang tak lengkap jika kita tidak berinteraksi dengan warga sekitar yang begitu ramah dalam menyambut tamu. Kawan GNFI juga bisa menginap di homestay setempat untuk merasakan kehidupan warga Papa Garang dan suasana khas Suku Bajo.
Kondisi mata pencaharian masyarakat yang didominasi nelayan yang pergi melaut di malam hari membuat suasana siang hari cenderung dihiasi oleh cengkrama ibu-ibu dan anak-anak. Walaupun begitu, terdapat sekawanan kambing lalu-lalang di tiap jalan desa yang ikut menyambut tamu yang datang. Oiya, kambingnya bisa diberi makan, loh.
Karena mata pencaharian utama masyarakat Desa Papa Garang sebagai nelayan, maka Kawan GNFI tidak jarang akan menemui hamparan hasil laut yang dijemur maupun diolah di sepanjang jalan. Selain itu, hasil laut tersebut juga bisa dibeli sebagai buah tangan yang dapat diberikan kepada keluarga maupun kerabat tersayang.
Permasalahan warga atas ketiadaan sumber mata air, tidak menghambat realitas kehidupan warga Papa Garang dan terus coba diatasi masyarakat. Upayanya adalah dengan sistem penadahan air hujan hingga terbangunnya Sea Water Refuses Osmosis (SWRO) yang mengubah air laut menjadi air konsumsi.
Lautan yang Sudah Menjadi Kawan
Laut adalah penyangga kehidupan bagi masyarakat Desa Papagarang yang merupakan Suku Bajo.
Suku Bajo merupakan suku yang erat kaitannya dengan lautan. Berkat laut yang selama ini telah dimanfaatkan sebagai penyangga kehidupan, terjadi pola simbiosis antara masyarakat dengan lautan melalui penanaman rutin Mangrove yang menarik untuk dieksplorasi melalui dermaga sepanjang 90 meter.
Selain itu, terdapat Tukoh Aji Namang yang menjadi area transplantasi karang dan menjadi spot favorit snorkeling. Keindahan laut juga dapat dinikmati dari Pantai Kampung Lama yang menampilkan landscape pasir putih dan air jernih.
Itulah tadi destinasi wisata yang harus dikunjungi jika datang ke Pulau Papa Garang dengan pesona pertemuan bukit, pemukiman, dan lautannya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


