makna dan filosofi makanan bancakan tradisi makan makan khas masyarakat jawa - News | Good News From Indonesia 2024

Makna dan Filosofi Bancakan, Tradisi Makan-Makan Khas Masyarakat Jawa

Makna dan Filosofi Bancakan, Tradisi Makan-Makan Khas Masyarakat Jawa
images info

Makna dan Filosofi Bancakan, Tradisi Makan-Makan Khas Masyarakat Jawa


Masyarakat Jawa memiliki tradisi makan bersama sebagai salah satu upaya untuk tetap mempererat tali silaturrahim. Selain tujuan tersebut, makan bersama itu biasanya dilakukan sebagai wujud rasa sukur kepada Tuhan atas nikmat yang diberikan, terutama nikmat umur.

Tradisi makan bersama sebagai bentuk rasa syukur di kalangan masyarakat Jawa dikenal sebagai bancakan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bancakan berarti selamatan atau kenduri.

Sebenarnya dalam masyarakat Jawa, bancakan dan kenduri memiliki makna dan pelaksanaan yang berbeda.

Bancakan dan kenduri sama-sama mengumpulkan para tetangga untuk berdoa bersama, kemudian dilanjutkan makan bersama. Akan tetapi, golongan masyarakat yang diundang untuk mengikuti tradisi tersebut berbeda.

Bancakan biasanya dilakukan untuk memperingati hari kelahiran atau hari weton seorang anak yang digelar sebulan sekali. Untuk itu, para tetangga yang diundang juga masih berusia anak-anak atau teman-teman seumuran dari tuan rumah yang dibancaki.

Sementara itu, kenduri biasanya mengundang orang dewasa.

baca juga

Prosesi Bancakan

Prosesi utama dalam bancakan ialah pembacaan doa dan makan bersama. Sebelum makan bersama, pelaksanaan doa biasanya dipimpin oleh orang tua dari anak yang dibancaki.

Saat berdoa, makanan bancakan sudah disiapkan dan diletakkan di tengah. Tujuannya ialah agar makanan tersebut turut mendapatkan berkah dari doa-doa yang dipanjatkan.

Doa umumnya berisi meminta kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan untuk sang anak.

Hal yang unik dari tradisi bancakan masyarakat Jawa ialah, orang tua dari sang anak mengingatkan kepada teman-teman yang hadir agar anak tersebut diajak bermain.

Kalimat yang diucapkan dalam bahasa Jawa berbunyi, “Yen awan jaken dolan. Yen bengi kancanana turu” (Kalau siang ajaklah bermain. Kalau malam temanilah tidur).

Oleh karena itu, pada masa itu menjadi hal yang biasa jika anak-anak bermain bersama menjelajah desa atau di sungai pada siang hari atau bahkan tidur di rumah tetangga.

baca juga

Setelah doa, para tamu yang hadir disilakan untuk makan. Dalam bancakan, biasanya orang-orang yang hadir akan makan bersama dalam satu wadah (kepungan). Maksud dari kepungan ini ialah untuk menyatukan masyarakat dari berbagai perbedaan, baik ekonomi, suku, ras, bahkan agama.

Akan tetapi, di beberapa tempat nasi bancakan dibagikan secara adil dan kemudian dimakan bersama-sama.

Makanan yang dihidangkan saat bancakan sangat khas, yakni terdiri dari nasi liwet, tahu tempe, urap sayur dicampur dengan parutan kelapa, dan telur rebus.

Makanan tersebut dihidangkan pada tampah yang dialasi dengan daun pisang.

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, nasi bancakan harus habis dan tidak boleh disisakan. Jika orang-orang yang hadir tidak dapat menghabiskan nasi tersebut, biasanya tuan rumah menitipkan nasi sisa tersebut untuk diberikan kepada tetangga yang tidak bisa hadir.

Nasi ini dikenal sebagai nasi gandulan. Disebut nasi gandulan karena cara membawanya pakai kantong atau kantong plastik yang menggantung (nggandul) di tangan.

baca juga

Makna Lauk dalam Nasi Bancakan

Nasi bancakan memiliki filosofi dan makna yang sangat dalam. Dikutip dari buku Bancakan karya Sudadi, ada beberapa makna dari nasi bancakan yang dihidangkan.

Nasi bancakan dibuat kerucut seperti gunung melambangkan harapan dan cita-cita yang tinggi.

Kemudian, puncak gunungan nasi diberi hiasan lombok merah seperti puncak gunung berapi. Hal ini menandakan harapan agar anak yang dibancaki memiliki semangat hidup yang terus menyala seperti gunung api yang tidak pernah padam.

Di bagian bawah gunungan berisi sayuran hijau bercampur parutan kelapa berbumbu dan ditata mengelilingi gunungan nasi. Maksud dari penataan ini ialah agar sayuran tersebut seolah seperti hutan di kaki gunung. Penataan ini melambangkan kesuburan hutan. Harapannya, anak yang dibancaki diberikan kesuburan, kemakmuran, dan ketenteraman.

Telur rebus terdiri dari putih dan kuning telur yang dipotong menjadi beberapa bagian merupakan wujud harapan agar nantinya si anak memiliki masa depan yang cerah. Warna putih melambangkan kecerahan dan keceriaan. Warna kuning bagian dari telur rebus memperkuat doa dan pengharapan itu.

baca juga

Referensi:

Sudadi. 2018. Bancakan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.