Pemerintah Indonesia tengah mempercepat langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar minyak (BBM) melalui program elektrifikasi masif.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengungkapkan bahwa jajaran perguruan tinggi telah mendapatkan instruksi untuk melakukan kajian cepat terkait transisi energi. Langkah ini diproyeksikan mampu menghasilkan penghematan anggaran negara hingga puluhan triliun rupiah.
Fokus utama kajian elektrifikasi ini mencakup tiga sektor yaitu konversi kendaraan bermotor ke tenaga listrik, pengalihan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) ke energi terbarukan seperti PLTS, serta penggunaan kompor listrik di sektor rumah tangga.
Brian menjelaskan bahwa hanya dengan menghentikan penggunaan solar pada pembangkit listrik diesel, negara berpotensi menghemat sedikitnya Rp25 triliun. Angka ini diperkirakan akan membengkak jauh lebih besar jika adopsi motor listrik dan kompor listrik dilakukan secara luas.
Keterlibatan pakar dan guru besar dari berbagai universitas diharapkan dapat memberikan solusi aplikatif di tengah tekanan harga minyak global yang terus melambung.
Kajian komprehensif ini ditargetkan rampung pada April 2026. Hasil dari penelitian tersebut nantinya akan menjadi landasan kebijakan teknis bagi kementerian terkait untuk mengeksekusi transisi energi secara nasional.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


