PT Pertamina (Persero) mengonfirmasi kesiapan untuk memasuki pasar internasional melalui pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar pesawat berkelanjutan.
Inisiatif ini dipaparkan dalam ISCC Global Sustainability Conference 2026 di Brussel, Belgia, sebagai upaya membangun ekosistem energi yang kredibel dan diakui dunia. SAF produksi Pertamina memanfaatkan limbah seperti minyak jelantah (used cooking oil), lemak hewan, hingga minyak nabati yang diolah menjadi bahan bakar rendah emisi.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menjelaskan bahwa perusahaan mengintegrasikan seluruh rantai pasok, mulai dari pengumpulan jelantah di tingkat rumah tangga hingga distribusi ke maskapai.
Proses ini dilakukan di Green Refinery Cilacap menggunakan teknologi co-processing yang mencampur minyak jelantah dengan bahan bakar fosil. Produk tersebut menghasilkan campuran SAF sebesar 2,4 persen yang telah melalui validasi teknis pada pesawat Airbus A320-200 milik Pelita Air Services.
“Fokus kami bukan hanya pada produksi SAF, tetapi juga pada pembangunan ekosistem SAF yang kredibel, terukur, dan diakui secara global. SAF adalah implementasi langsung dari strategi dual-growth kami,” tegas Direktur Pertamina Agung Wicaksono.
Seluruh operasional produksi telah memperoleh sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC). Sertifikasi ini penting untuk memastikan standar keberlanjutan terpenuhi dan mencegah penghitungan ganda dalam perhitungan reduksi karbon.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


