Dua mahasiswa Arsitektur Institut Teknologi Sumatera (Itera), Wahyu Sony Ardiyansah dan Muhammad Choir, sukses menyabet juara pertama dalam ajang The International Student Design Competition on Low Carbon Cities in Asia di Kitakyushu, Jepang.
Tim Itera berhasil mengungguli dua tim dari Zhejiang University, China, melalui karya berjudul Anti Deco: A City That Exists in Time, Not in Space. Kompetisi yang diselenggarakan oleh Asian Institute of Low Carbon Design (AILCD) ini menantang peserta memproyeksikan wajah kota 100 tahun ke depan dengan pendekatan rendah karbon.
Konsep yang diusung merupakan jawaban atas ancaman kenaikan permukaan air laut. Berbeda dengan arsitektur konvensional yang statis, Wahyu dan Choir menawarkan sistem urban modular yang adaptif.
Kota ini dirancang untuk dapat naik ke permukaan saat situasi stabil dan turun ke lapisan yang lebih aman ketika terjadi gangguan lingkungan. Pendekatan ini menggeser paradigma arsitektur dari sekadar entitas fisik di atas lahan stabil menjadi sistem yang hidup dan bergerak seiring perubahan waktu.
"Kami membayangkan kondisi ketika kota tidak lagi bisa bergantung pada daratan yang stabil. Dari situ lahir gagasan kota terapung yang adaptif," ujar Wahyu Sony Ardiyansah.
Gagasan ini dinilai sangat relevan dengan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang menghadapi risiko penurunan permukaan tanah di wilayah pesisir.
Penerapannya tidak harus dimulai dalam skala kota besar, melainkan bisa diinisiasi melalui infrastruktur pesisir yang fleksibel atau hunian terapung di kawasan rawan banjir.
Selain tim utama, lima tim mahasiswa Itera lainnya juga berhasil memperoleh penghargaan Honorable Mentions dalam ajang bergengsi tersebut.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


