Dilansir dari situs mongabay.org, keli ako merupakan sebutan dari masyarakat Tempirai, Sumatera Selatan untuk ikan Clarias nieuhofii yang masih satu keluarga dengan ikan lele (Clariidae). Berbeda dengan jenis ikan Clarias lainnya, keli ako memiliki tubuh lebih panjang dengan paduan warna coklat gelap dan kekuningan pada bagian bawah perutnya.
Panjang tubuhnya hampir menyentuh 50 cm, kulitnya mengkilap, dan terdapat bintik-bintik kuning membentuk garis vertikal dari kepala sampai ekornya. Habitatnya berada di kawasan sungai, danau, dan rawa yang dekat dengan rawa gambut.
Ikan keli ako mencari makan di dekat atau di dasar perairan dan termasuk dalam hewan karnivora atau pemakan daging, seperti ikan-ikan kecil, serangga, cacing, dan krustasea. Keli ako akan mencari mangsanya pada malam hari, sedangkan pada siang hari cenderung bergerak lambat dan berdiam diri untuk berlindung.
Pada musim penghujan, ikan ini akan berkembang biak dengan menyebar ke hutan rawa di pinggiran sungai, lalu menetap di sana sampai anak-anaknya tumbuh besar. Kawasan tersebut memiliki akar-akar pohon dengan suhu relatif stabil, ketersediaan makanan yang cukup, dan aman dari para predator.
Ikan keli ako dapat diolah menjadi kuliner, seperti sagarurung dari Desa Tempirai. Kuliner khas ikan asap dengan bumbu tumis ini menjadi masakan yang digemari masyarakat setempat.
Selain itu, ikan keli ako mudah untuk dipelihara karena waktu pertumbuhannya tergolong cepat, memiliki daya tahan tinggi, dan hasil panen relatif stabil. Kualitas daging ikan ini juga tidak kalah dengan jenis ikan ternak lain.
Kawan dapat menjumpai ikan keli ako di perairan Sungai Musi. Untuk menjaga kelestariannya, sudah sepantasnya kita turut menjaga keberadaan hutan rawa gambut yang menjadi habitat utamanya. Mengingat, ikan keli ako telah tercatat ke dalam spesies yang Kurang Terancam Punah (Least Concern).
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


