Asosiasi Produsen Gelas Kaca Indonesia (APGI) memproyeksikan pertumbuhan produksi yang moderat pada tahun ini dengan mengandalkan kuatnya permintaan domestik dan akses pasar ekspor.
Meskipun pada tahun lalu penjualan mampu meningkat hingga 10 persen, produsen kini cenderung bersikap waspada terhadap dinamika pasar global dan ketersediaan energi di dalam negeri. Produk kemasan minuman dan peralatan rumah tangga tetap menjadi komoditas utama yang dikirim ke berbagai kawasan mulai dari Asia Tenggara hingga Afrika Selatan.
Tantangan utama yang dihadapi para produsen saat ini adalah terbatasnya alokasi gas bumi dengan harga kompetitif. Ketentuan pembatasan kuota gas membuat banyak pabrik terpaksa membatasi volume produksi guna menghindari beban biaya operasional yang membengkak akibat tarif tambahan. Kondisi ini diperberat dengan adanya perbedaan pasokan gas antarwilayah sehingga sebagian pelaku industri harus membayar harga energi hingga dua kali lipat dari tarif normal yang ditetapkan pemerintah.
"Kami mencoba bersikap optimistis dengan mengharapkan industri gelas akan tumbuh sekitar 5 persen, akan tetapi tantangan akan banyak. Pembatasan pemakaian gas membuat banyak pabrik anggota kami membatasi produksinya sebatas gas yang tersedia karena jika berlebih biaya produksi naik banyak," ujar Ketua Umum APGI, Henry T. Susanto.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


