Deo, anak muda asal Indonesia berusia 24 tahun, sukses menorehkan prestasi di Amerika Serikat di bidang teknologi pertahanan. Ia mendirikan startup Arlo Industries di San Francisco dan menciptakan sistem pelacak drone bernama Mentat.
Nama Mentat terinspirasi dari karakter dalam semesta Dune. Sesuai namanya, Mentat dirancang untuk mendeteksi ancaman drone secara akurat. Teknologi tersebut merupakan node sensor udara pasif yang mampu mendeteksi dan melacak drone tanpa memancarkan sinyal radar.
Berbeda dengan radar militer konvensional yang berukuran besar dan sulit dipindahkan, teknologi Arlo Industries jauh lebih ringkas, hemat biaya, dan modular. Perangkat kerasnya dibangun dalam bentuk jaringan sensor yang mudah dipasang di berbagai lokasi strategis. Karena bersifat pasif, Mentat dapat mengidentifikasi target tanpa memancarkan sinyal radar sendiri.
Hebatnya, sistem ini menggunakan jaringan kamera multispektral (optik dan termal) beresolusi tinggi yang mampu beroperasi pada siang maupun malam hari, serta dalam kondisi berkabut atau cuaca buruk.
Selain mengandalkan sensor visual, Mentat juga mampu mengenali frekuensi suara putaran baling-baling drone di lingkungan yang bising, serta mendeteksi sinyal komunikasi antara drone dan operator untuk mengetahui posisi keduanya.
Berkat inovasinya, Arlo Industries berhasil diterima dalam program Y Combinator (YC), salah satu inkubator startup paling bergengsi di dunia yang berbasis di Silicon Valley. Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa talenta muda Indonesia mampu menghadirkan inovasi teknologi berkelas dunia dan bersaing di tingkat global.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


