Kawan mungkin tidak asing dengan bapak proklamator Indonesia. Namun, apakah Kawan tahu siapa sosok Ibu Soekarno? Ia adalah Ida Ayu Nyoman Rai. Perempuan berdarah Bali ini yang melahirkan dan membesarkan sosok Soekarno hingga tumbuh seperti yang Kawan kenal di buku sejarah.
Mari berkenalan lebih dalam dengan sosok Ida Ayu Nyoman Rai, mulai dari asal-usulnya, profil keluarga, serta bagaimana dirinya menjadi pelopor perkawinan campur antarsuku di era kolonial yang penuh tantangan.
Ida Ayu Nyoman Rai, Sosok Ibu Soekarno yang Berdarah Bali

Ida Ayu Nyoman Rai, Sosok Ibu Soekarno yang Berdarah Bali | Wikimedia Commons Unknown Photographer
Ada banyak pertanyaan tentang dari mana Ibu Soekarno berasal. Jawabannya bermuara ke Pulau Dewata.
Dinsos Buleleng berbagi bahwa sosok Ida Ayu Nyoman Rai merupakan perempuan asli keturunan Bali. Jika menilik catatan sejarah, para sejarawan memperkirakan ia lahir pada tahun 1881. Perkiraan ini didasarkan pada perhitungan saat ia melahirkan putranya pada usia 20 tahun pada tahun 1901 silam.
Lalu, Ibu Soekarno lahir di mana tepatnya? Dinas Sosial Kabupaten Buleleng menjelaskan lebih lanjut bahwa sosok Nyoman Rai lahir dan tumbuh dewasa di suatu kawasan yang dikenal sebagai Banjar Bale Agung.
Lokasi tempat tinggalnya ini berdekatan dengan Pura Bale Agung, yang juga sering disebut masyarakat setempat sebagai Pura Desa Buleleng. Sebagai anak kedua dari pasangan Nyoman Pasek dan Ni Made Liran, ia menghabiskan masa mudanya di lingkungan yang amat menjunjung tinggi budaya dan tradisi lokal.
Bagaimana Ibu Soekarno Memperoleh Nama Ida Ayu?

Banyak pembaca sejarah yang bertanya-tanya, sebenarnya ibu Soekarno bernama asli siapa? Diterangkan Dinsos Buleleng, pada masa remajanya, beliau sebenarnya tidak menyandang gelar 'Ida Ayu'. Nama sehari-harinya di masa itu adalah Rai Srimben.
Pemilihan nama ini tidak lepas dari doa orang tuanya; kata "sri" memiliki arti kebahagiaan, sedangkan "mben" dimaknai sebagai rimbun. Jika digabungkan, Srimben memiliki filosofi indah yakni limpahan rezeki yang selalu membawa kebahagiaan bagi sekitarnya.
Menjawab pencarian publik terkait agama ibu Soekarno, mengingat asalnya dari lingkungan Banjar Bale Agung, Ibu Soekarno merupakan sosok penganut Hindu yang setia menjalankan praktik spiritualitas leluhurnya.
Penambahan gelar "Ida Ayu" pada nama depannya justru diberikan langsung oleh Bung Karno ketika sang anak sudah dewasa. Pemberian nama tersebut murni didasari alasan penghormatan sekaligus bentuk bakti seorang anak kepada perempuan yang telah berjasa melahirkan dan membesarkannya dengan ketegaran luar biasa.
Pertemuan dengan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Kisah Perkawinan Campur Mereka

Ibu dan Ayah Soekarno: Kisah Pelopor Perkawinan Campur Antar Suku | Wikimedia Commons Uncredited
Takdir mulai berubah saat teman dekatnya yang bernama Made Lastri memperkenalkan Rai Srimben kepada pemuda Jawa bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo. Dikutip dari Perpusnas RI, Raden Soekemi merupakan seorang guru yang menaruh hati dan kerap mencuri-curi pandang saat Rai Srimben sedang berjalan menuju pura maupun saat sedang menari.
Namun, jalinan asmara mereka tidak mulus. Di masa itu, pernikahan antara orang Bali dan Jawa dinilai sebagai hal yang masih tabu, sehingga hubungan mereka ditentang keras oleh orang tua Ida Ayu Nyoman Rai.
Dikutip dari Kepustakaan Presiden-Presiden Republik Indonesia, perjuangan mereka untuk bersatu bahkan digambarkan hampir memicu pertumpahan darah. Meski demikian, Nyoman Rai memutuskan pergi bersama Raden Soekemi untuk bersatu, menjadikan mereka pelopor perkawinan campuran antarsuku pada masa tersebut.
Ibu dan Ayah Soekarno resmi menikah pada tanggal 15 Juni 1887. Keluarga ini kemudian dikaruniai dua orang anak. Putri pertamanya, Raden Soekarmini (kelak dikenal sebagai Bu Wardoyo), lahir pada tanggal 29 Maret 1898.
Mereka kemudian memutuskan berpindah ke Surabaya, menempati sebuah rumah sederhana di wilayah kampung Pandean III, sekitar Makam Belanda. Di Surabaya inilah, pada tanggal 6 Juni 1901, ia melahirkan seorang putra bersejarah berjuluk 'Putra Sang Fajar'.
Hal menarik dari kisah rumah tangga orang tua sang proklamator, berbeda dengan putranya, sang ayah yakni Raden Soekemi Sosrodihardjo tercatat hanya memiliki seorang istri sampai akhir hayatnya.
Punya Rasa Ketidaksukaan yang Mendalam Pada Para Penjajah
Ada cerita unik tentang Ida Ayu Nyoman Rai. Ketika muncul berita bahwa Soekarno ditahan di Penjara Sukamiskin, Bandung, Rai Srimben segera berangkat dari Jawa Timur untuk mencari kepastian nasib putranya.
Karena kurang memahami politik, ia dengan lugas langsung bertanya kepada petugas rumah tahanan tersebut. Namun, ia tidak mendapat jawaban yang layak, melainkan bentakan kasar dan pengusiran. Dikutip dari catatan Kepustakaan Presiden-Presiden Republik Indonesia, peristiwa pahit tersebut memicu amarah dan dendamnya terhadap Belanda yang tidak lagi terbendung.
Sejak kejadian itu, di mana pun ia berada, ketidaksukaannya yang mendalam langsung terlihat jika berpapasan dengan orang Belanda. Pada saat yang bersamaan, kediaman keluarganya di Blitar juga terus diawasi oleh aparat.
Merespons perlakuan tidak adil tersebut dan mendengar pengalaman sang istri, Raden Soekemi akhirnya mengambil keputusan untuk pensiun dini dari jabatannya sebagai pendidik di Kementerian Pendidikan Belanda di Batavia.
Meski Ibu Sang Proklamator, Ida Ayu Nyoman Rai Tidak Pernah Mau Menginjakkan Kaki Di Istana
Satu peninggalan kisah yang cukup mengundang tanya adalah penolakannya untuk masuk ke lingkungan istana. Meski menjadi ibunda dari presiden pertama Indonesia, ia sama sekali tidak pernah mau menginjakkan kakinya di Istana Negara, Jakarta.
Dikutip dari laporan Detik News, sebagian catatan menyebutkan bahwa keengganan ini dipengaruhi oleh usianya yang sudah sepuh serta larangan putranya agar ibunya tidak perlu repot menempuh perjalanan jauh. Jika ada keperluan, Bung Karno sendirilah yang akan berkunjung ke Blitar.
Di samping itu, disebutkan juga bahwa alasan di baliknya adalah karena Soekarno menghindari unsur kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) selama menjabat.
Meski demikian, perlu dicatat bahwa alasan mutlak di balik keengganan sang ibu untuk berada di Istana Negara tidak pernah benar-benar disinggung atau dirinci dalam catatan sumber resmi.
Mari terus menggali sejarah Nusantara! Kawan GNFI yang ingin terus belajar, memperluas wawasan historis, dan mencari tahu cerita-cerita sejarah menarik terkait tokoh pergerakan di Nusantara, yuk telusuri beragam artikel seru dan edukatif hanya di situs web resmi Good News From Indonesia!


