Pernahkah Kawan GNFI melihat laporan keuangan tahunan sebuah bank dan merasa pusing dengan deretan angka dan istilahnya? Tenang, Kawan tidak sendirian. Padahal, memahami laporan keuangan bank sangat berguna, baik bagi nasabah yang ingin tahu kesehatan bank pilihannya, bagi pelajar dan mahasiswa, maupun bagi masyarakat umum yang ingin melek literasi keuangan.
Bank umum menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali, terutama lewat kredit. Karena bisnisnya berbasis kepercayaan, bank wajib menyusun dan mempublikasikan laporan keuangan secara transparan.
Di Indonesia, penyusunannya mengacu pada Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang diterbitkan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), serta ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tentang transparansi dan publikasi laporan bank.
5 Komponen Utama Laporan Keuangan
Secara umum, laporan keuangan lengkap sebuah bank umum terdiri atas beberapa komponen berikut.
- Laporan posisi keuangan (lazim disebut neraca), yang menggambarkan aset, liabilitas, dan ekuitas bank pada tanggal tertentu.
- Laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain, yang menunjukkan kinerja bank selama satu periode.
- Laporan perubahan ekuitas, yang menjelaskan pergerakan modal dan saldo laba.
- Laporan arus kas, yang memperlihatkan aliran kas masuk dan keluar dari kegiatan operasi, investasi, dan pendanaan.
- Catatan atas laporan keuangan, yang memuat kebijakan akuntansi dan rincian akun-akun penting.
Selain itu, dalam laporan publikasi bank umum, Kawan biasanya juga menemukan laporan komitmen dan kontinjensi. Laporan ini mencatat kewajiban yang belum menjadi beban nyata tetapi berpotensi muncul, misalnya fasilitas kredit yang belum ditarik nasabah dan garansi bank yang diberikan.
Akun-Akun di Sisi Aset
Aset adalah sumber daya yang dimiliki bank. Akun-akun yang sering muncul antara lain:
- Kas dan giro pada Bank Indonesia, yaitu dana likuid untuk operasional harian sekaligus pemenuhan kewajiban giro wajib minimum.
- Penempatan pada bank lain dan Bank Indonesia, yaitu dana yang ditempatkan untuk menjaga likuiditas dan memperoleh imbal hasil.
- Surat berharga, misalnya Surat Berharga Negara dan instrumen pasar uang lainnya.
- Kredit yang diberikan, yang biasanya menjadi akun terbesar karena penyaluran kredit adalah bisnis inti bank.
- Cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN), yaitu cadangan untuk mengantisipasi kredit yang berpotensi tidak tertagih. Akun ini mengurangi nilai aset terkait, dan perhitungannya mengacu pada PSAK 71 tentang instrumen keuangan.
- Aset tetap dan aset tak berwujud, seperti gedung kantor, peralatan, dan perangkat lunak.
Akun-Akun di Sisi Liabilitas
Liabilitas adalah kewajiban bank kepada pihak lain. Bagian terbesarnya adalah dana pihak ketiga (DPK), yaitu simpanan masyarakat dalam bentuk:
- Giro, simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan cek atau bilyet giro.
- Tabungan, simpanan yang penarikannya mengikuti syarat tertentu.
- Deposito berjangka, simpanan dengan jangka waktu tertentu.
Selain DPK, ada akun simpanan dari bank lain, surat berharga yang diterbitkan, pinjaman yang diterima, dan utang pajak. Jadi, saat Kawan menabung, uang Kawan tercatat sebagai liabilitas di buku bank. Bank wajib mengembalikannya sesuai ketentuan.
Akun-Akun di Sisi Ekuitas
Ekuitas adalah hak pemilik bank atas aset setelah dikurangi liabilitas. Komponennya mencakup modal disetor, tambahan modal disetor (agio saham), cadangan, dan saldo laba.
Ekuitas menjadi bantalan penyerap risiko, sehingga semakin kuat modal sebuah bank, semakin besar kemampuannya menghadapi kerugian.
Akun-Akun dalam Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi bank punya ciri khas yang berbeda dari perusahaan nonbank. Alurnya kira-kira begini:
- Pendapatan bunga dari kredit dan penempatan dana dikurangi beban bunga yang dibayarkan kepada penyimpan dana, menghasilkan pendapatan bunga bersih.
- Ditambah pendapatan operasional lainnya, seperti provisi, komisi, dan biaya administrasi layanan.
- Dikurangi beban kerugian penurunan nilai aset keuangan, beban tenaga kerja, dan beban operasional lainnya.
- Setelah dikurangi beban pajak penghasilan, diperoleh laba bersih tahun berjalan.
Pendapatan bunga bersih inilah yang menjadi tulang punggung profit sebagian besar bank umum di Indonesia.
Membaca Kesehatan Bank dari Angka-Angka
Setelah mengenal struktur dan akunnya, Kawan bisa memakai beberapa rasio sederhana untuk membaca kondisi bank:
- Capital Adequacy Ratio (CAR), yaitu kecukupan modal terhadap aset berisiko.
- Non-Performing Loan (NPL), yaitu rasio kredit bermasalah terhadap total kredit.
- Loan to Deposit Ratio (LDR), yaitu perbandingan kredit dengan dana pihak ketiga.
- Net Interest Margin (NIM), yaitu margin bunga bersih terhadap aset produktif.
- BOPO, yaitu perbandingan beban operasional dengan pendapatan operasional sebagai ukuran efisiensi.
Rasio ini tidak berdiri sendiri. Kawan perlu membandingkannya dengan periode sebelumnya dan dengan bank sejenis agar gambarannya utuh.
Di Mana Kawan Bisa Mendapatkannya?
Bank umum wajib mempublikasikan laporan keuangannya, baik laporan tahunan maupun laporan publikasi triwulanan, di situs web resmi bank dan sesuai ketentuan OJK.
Bank yang sahamnya tercatat di bursa juga menyampaikan laporannya melalui Bursa Efek Indonesia. Jadi, informasinya terbuka dan bisa diakses siapa saja.
Dengan memahami struktur dan akun-akunnya, Kawan GNFI dapat menjadi nasabah dan masyarakat yang lebih cerdas serta kritis dalam mengelola keuangan.
Yuk, mulai biasakan membaca laporan keuangan bank pilihan Kawan!

