rating tinggi kualitas dipertanyakan ketika televisi lebih mengejar angka daripada kebutuhan penonton - News | Good News From Indonesia 2026

Rating Tinggi, Kualitas Dipertanyakan: Ketika Televisi Lebih Mengejar Angka daripada Kebutuhan Penonton

Rating Tinggi, Kualitas Dipertanyakan: Ketika Televisi Lebih Mengejar Angka daripada Kebutuhan Penonton
images info

Foto : Dok. Ilustrasi AI


Di tengah perkembangan media digital, televisi masih menjadi salah satu sumber hiburan dan informasi bagi masyarakat. Beragam program hadir setiap hari, mulai dari berita, sinetron, acara musik, hingga program pencarian bakat. Namun, di balik beragam tayangan tersebut, ada satu hal yang kerap menjadi perhatian industri televisi, yaitu rating.

Rating menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk melihat jumlah penonton suatu program. Semakin tinggi rating, semakin besar pula peluang program tersebut menarik perhatian pengiklan. Bagi stasiun televisi, kondisi ini tentu menguntungkan karena pendapatan iklan menjadi salah satu sumber utama untuk membiayai produksi.

Meski demikian, Kawan, muncul pertanyaan yang menarik untuk dibahas: apakah program dengan rating tinggi selalu memiliki kualitas yang baik dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat?

Pertanyaan ini penting karena televisi tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam menyampaikan informasi, pendidikan, dan nilai-nilai sosial kepada publik.

baca juga

Ketika Rating Menjadi Tolok Ukur Utama

Dalam industri penyiaran, rating sering digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk menentukan keberlanjutan sebuah program. Tayangan yang memperoleh banyak penonton berpeluang dipertahankan, sedangkan program dengan jumlah penonton rendah dapat dievaluasi atau dihentikan.

Persoalannya muncul ketika rating menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Demi menarik perhatian penonton, program televisi berpotensi lebih mengutamakan konflik, sensasi, atau drama yang berulang dibandingkan kualitas isi dan manfaatnya.

Kondisi tersebut bukan berarti semua program dengan rating tinggi memiliki kualitas rendah. Namun, popularitas tidak selalu menggambarkan kedalaman informasi, keberagaman sudut pandang, maupun manfaat tayangan bagi masyarakat.

Dalam McQuail’s Mass Communication Theory, McQuail (2010) membahas hubungan media massa dengan masyarakat serta fungsi media dalam kehidupan sosial. Perspektif tersebut dapat menjadi pengingat bahwa keberhasilan media tidak semestinya hanya dilihat dari sisi ekonomi, tetapi juga dari kontribusinya terhadap kepentingan publik.

Dengan kata lain, rating tetap penting, tetapi sebaiknya ditempatkan sebagai alat evaluasi, bukan satu-satunya tujuan dalam memproduksi program televisi.

Memahami Penonton Lebih dari Sekadar Angka

Setiap penonton memiliki kebutuhan dan kebiasaan yang berbeda. Ada yang mencari hiburan setelah bekerja, ada yang membutuhkan informasi aktual, dan ada pula yang tertarik pada program pendidikan atau kebudayaan.

Karena itu, stasiun televisi perlu memahami karakteristik audiens sebelum menentukan konsep dan format tayangan. Materi Modul 2 Programming Media Penyiaran: Demografi Penonton dari Yuliarti (2025) menjelaskan pentingnya memahami demografi, psikografi, dan perilaku konsumsi media dalam perencanaan program.

Sebagai contoh, program yang menarik bagi remaja belum tentu menjadi pilihan utama penonton dewasa. Begitu pula tayangan hiburan populer belum tentu mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang membutuhkan informasi lokal atau edukasi.

baca juga

Jika stasiun televisi hanya berfokus pada jumlah penonton, kebutuhan kelompok audiens tertentu berisiko terabaikan. Padahal, keberagaman program diperlukan agar masyarakat memiliki pilihan tayangan yang sesuai dengan kebutuhan dan minatnya.

Di sinilah riset audiens berperan penting. Stasiun televisi perlu mengetahui bukan hanya berapa banyak orang yang menonton, melainkan juga siapa mereka, apa yang dibutuhkan, dan alasan mereka memilih suatu program.

Persaingan Televisi di Tengah Perkembangan Digital

Persaingan industri televisi kini tidak lagi terbatas pada stasiun televisi lainnya. Kehadiran layanan streaming dan media sosial memberikan lebih banyak pilihan kepada masyarakat untuk menikmati konten kapan saja dan di mana saja.

Amanda D. Lotz (2014), melalui buku The Television Will Be Revolutionized, membahas perubahan industri televisi seiring perkembangan teknologi dan perubahan pola konsumsi media. Perubahan tersebut menunjukkan pentingnya kemampuan industri televisi dalam menyesuaikan diri dengan kebiasaan audiens.

baca juga

Dalam situasi ini, meniru program yang sedang populer belum tentu menjadi strategi yang tepat. Tayangan dengan format serupa justru dapat membuat stasiun televisi bersaing memperebutkan kelompok penonton yang sama.

Sebaliknya, program dengan karakter yang jelas dan konten yang berbeda dapat menjadi identitas tersendiri. Misalnya, program dokumenter tentang budaya lokal, diskusi isu sosial, atau berita yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Pandangan ini dapat dikaitkan dengan teori niche yang dibahas Dimmick dan Rothenbuhler (1984), yaitu persaingan industri media dalam memanfaatkan sumber daya seperti konten, audiens, dan modal. Dalam konteks televisi, keunikan program dapat menjadi salah satu cara untuk membangun hubungan yang lebih kuat dengan penonton.

Riset Audiens sebagai Langkah Perbaikan

Lantas, bagaimana stasiun televisi dapat menyeimbangkan rating dengan kualitas tayangan?

Pertama, stasiun televisi perlu melakukan riset audiens melalui survei, wawancara, atau diskusi kelompok. Hasil riset tersebut dapat digunakan untuk memahami minat, kebutuhan informasi, dan kebiasaan menonton masyarakat.

Kedua, evaluasi program perlu menggunakan indikator yang lebih beragam. Selain rating dan share, stasiun televisi dapat mempertimbangkan kepuasan penonton, relevansi isi, kepercayaan terhadap informasi, dan respons audiens.

Ketiga, pengelola program dapat memanfaatkan analisis Minute by Minute (MBM), yaitu pengamatan terhadap perubahan jumlah penonton dari menit ke menit. Analisis ini membantu tim produksi mengetahui bagian program yang membuat penonton bertahan atau justru beralih ke tayangan lain.

Sebagai contoh, jika penonton berkurang ketika sebuah segmen terlalu panjang dan tidak menyajikan informasi baru, tim produksi dapat mengevaluasi durasinya. Namun, data tersebut sebaiknya tidak digunakan hanya untuk memperpanjang bagian yang sensasional. Perbaikan program tetap perlu memperhatikan akurasi, etika, dan manfaat bagi penonton.

baca juga

Selain itu, stasiun televisi dapat memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan program. Cuplikan tayangan, wawancara tambahan, dan informasi pendukung dapat dibagikan melalui platform digital tanpa menghilangkan konteks maupun mengorbankan kualitas informasi.

Menyeimbangkan Bisnis dan Tanggung Jawab Publik

Kawan, industri televisi tentu membutuhkan pendapatan untuk membiayai produksi, teknologi, dan tenaga kerja. Karena itu, rating dan iklan tetap memiliki peran penting dalam keberlangsungan bisnis penyiaran.

Namun, kepentingan bisnis dan tanggung jawab sosial tidak harus berjalan berlawanan. Stasiun televisi dapat mengembangkan program yang menarik secara komersial sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Program berita, misalnya, perlu memperhatikan akurasi dan kedalaman informasi. Sementara itu, program hiburan dapat mengutamakan kreativitas tanpa harus bergantung pada konflik atau sensasi. Setiap program juga perlu dievaluasi berdasarkan tujuan dan karakteristik audiensnya.

Pada akhirnya, persoalan utama bukanlah keberadaan rating, melainkan ketergantungan yang berlebihan terhadap angka kepemirsaan. Rating dapat menunjukkan seberapa besar perhatian yang diperoleh sebuah program, tetapi tidak sepenuhnya menjelaskan kualitas tayangan tersebut.

Televisi yang mampu bertahan bukan hanya televisi yang berhasil menarik banyak penonton, melainkan juga yang mampu memahami kebutuhan audiens dan membangun kepercayaan masyarakat.

Sebab, keberhasilan sebuah program tidak berhenti ketika penonton memilih untuk menyaksikannya. Lebih dari itu, kualitas tayangan juga ditentukan oleh informasi, pengalaman, dan manfaat yang dibawa pulang oleh penontonnya.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AF
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.