Jika biasanya kabar kelahiran atau penemuan harimau Sumatra datang dari habitat aslinya di hutan-hutan Sumatra, kali ini justru ada yang berbeda. Dua anak harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), lahir dengan selamat dan sehat di Kebun Binatang Fort Worth, Texas, Amerika Serikat.
Dua anak harimau betina ini lahir pada 1 Juli 2026 dan diperkenalkan ke publik awal Oktober. Keduanya diberi nama Barani dan Malu.
Melansir dari ANTARA, nama Barani diambil dari kata βberaniβ. Si kecil nan imut ini digambarkan sebagai bayi harimau yang lebih aktif dan penuh rasa ingin tahu. Sementara itu, saudaranya, Malu, cenderung lebih tenang dan berhati-hati.
Kehadiran Barani dan Malu mencatatkan sejarah sebagai kelahiran harimau Sumatra pertama di Fort Worth Zoo. Keduanya lahir dari induk betina Ndari dan jantan Rakan.
Momen bersejarah ini menjadi bukti nyata komitmen diplomasi konservasi antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Diplomasi Konservasi Indonesia dan AS
Kelahiran ini makin istimewa karena Fort Worth merupakan kota pertama di Amerika Serikat yang menjalin hubungan sister city dengan kota di Indonesia, yakni Bandung. Kerja sama persahabatan kedua kota terjalin sejak 2 April 1990.
βBarani dan Malu lahir di Amerika Serikat, tetapi membawa nama, asal-usul, dan pesan dari Indonesia. Keduanya menunjukkan bahwa kedekatan Bandung dan Fort Worth, serta Indonesia dan Amerika Serikat, dapat tumbuh melalui pendidikan, budaya, persahabatan warga, dan kepedulian bersama terhadap konservasi kehidupan,β kata Duta Besar RI untuk AS, Indroyono Soesilo, dalam pers rilis KBRI Washington yang dilansir dari ANTARA.
Hal senada juga disampaikan oleh pimpinan pengelola Kebun Binatang Fort Worth. Mengutip keterangan resminya, pihak kebun binatang berharap kehadiran dua anak harimau ini menumbuhkan kepedulian publik global terhadap harimau Sumatra.
"Selalu menyenangkan menyambut kelahiran anggota baru dan melihat mereka tumbuh di kebun binatang ini. Namun, kami sangat berharap kedua anak harimau ini dapat menginspirasi generasi baru untuk belajar dan peduli terhadap populasi mereka di alam liar serta masa depan spesies yang sangat terancam punah ini," kata Ramona Bass, Chairman Kebun Binatang Fort Worth.
Kawan GNFI, bayi-bayi harimau ini lahir dengan berat badan masing-masing hanya 1,3 hingga 1,8 kilogram. Memasuki usia 12β13 minggu, bobot tubuh keduanya melonjak hingga 8β9 kilogram.
Pihak kebun binatang mengatakan, induknya, Ndari, merawat kedua anaknya dengan sangat baik. Barani dan Malu juga semakin aktif belajar memanjat, melompat, hingga berenang.
Pembiakan Harimau Sumatra di Luar Negeri
Mengutip data BPS Sumatra Selatan yang diambil dari IUCN, populasi harimau Sumatra di habitat aslinya diperkirakan hanya tersisa sekitar 604 individu. IUCN juga menetapkan statusnya dalam kategori Kritis (Critically Endangered). Penyempitan kawasan hutan dan deforestasi menjadi ancaman utama keberlangsungan hidup mereka.
Upaya penyelamatan harimau Sumatra saat ini ikut melibatkan jaringan konservasi lintas negara. Sejumlah kebun binatang di Inggris, Amerika Serikat, dan belahan dunia lain aktif menjalankan program pembiakan (breeding program) internasional.
Program pembiakan ini dilakukan untuk menjaga keanekaragaman genetik satwa. Langkah ini memastikan populasi harimau Sumatra dalam perawatan tetap sehat dan lestari.
Populasi di luar negeri juga berfungsi sebagai jaring pengaman (safety net) dari risiko kepunahan. Jika populasi liar terancam, cadangan individu yang sehat bakal tetap terjaga.
Selain itu, keberadaan harimau Sumatra di berbagai negara menjadi sarana edukasi efektif bagi masyarakat dunia. Kelahiran Barani dan Malu menjadi langkah diplomasi konservasi antarnegara yang diharapkan bisa ikut menjaga dan melestarikan si kucing besar yang hampir punah.


