Hampir 40 kucing kampus harus mengikuti casting dalam satu hari. Hanya satu yang terpilih jadi pemeran utama. Namanya Siti.
Siti bukan kucing sembarangan. Ia bintang film "Meong!", karya mahasiswa Liga Film Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (LFM ITB), Ophiuchus Project. Film ini meraih Most Inspiring Film Award di NextScene Kids & Youth Film Festival 2026 yang berlangsung di Jakarta pada 6โ9 Agustus 2026.
โMeong!โ menjadi salah satu dari 54 film yang berasal dari 14 negara dalam festival tersebut.
Fransiska Fernanda mengatakan, penghargaan yang diterima film tersebut tidak pernah menjadi sesuatu yang ia perkirakan sebelumnya.
โJujur, penghargaan ini sesuatu yang tidak aku ekspektasikan. Penghargaan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami. Kami juga senang bahwa film yang diproduksi bisa menginspirasi banyak orang. Special thanks juga untuk semua orang yang turut membantu dan Siti yang bisa menghasilkan momen adegan unik secara alami dan tidak terduga,โ kata Fransiska yang bertugas sebagai penulis sekaligus sutradara.
Cari Bintang di Antara Kucing Kampus
Casting dilakukan langsung di lingkungan kampus. Mereka memilih dari kucing yang memang biasa berkeliaran di ITB.
"Kami melakukan casting kucing seharian penuh di Kampus ITB. Hampir 40 kucing yang kami coba casting," ujar Dudih Purwadi, Director of Photography, Sound Director, sekaligus editor film ini.
Kriteria kucing yang mereka butuhkan jelas. Dudih menyebut, tim memperhatikan warna bulu yang cocok dan karakter kucing yang mudah diarahkan. Pilihan akhirnya jatuh pada Siti, kucing yang biasa beraktivitas di sekitar Gedung Labtek VII ITB.

Siti saat menjalani pembuatan film
Film tersebut digarap sejak Maret 2025 oleh 10 kru dan satu pemeran utama. Vincentius Bhagaskara menjadi penulis sekaligus produser. Fransiska Fernanda (EBโ22) bertugas sebagai penulis dan sutradara. Sementara Dudih Purwadi menangani beberapa posisi sekaligus sebagai Director of Photography, Sound Director, dan editor.
Ide Film Berawal dari Kucing yang Sering Ditemui di Kampus
Kawan, di lingkungan ITB memang banyak kucing berkeliaran. Mahasiswa bisa dengan mudah menemukan hewan berbulu itu di sejumlah sudut kampus. Mahasiswa pun kerap yang berinteraksi dan memberikan makan.
Dari aktivitas mahasiswa dengan kucing itulah, film โMeong!โ terinspirasi. Akan tetapi, bukan mahasiswa pemeran utamanya. tim menjadikan kucing sebagai pusat cerita.
Perlu diketahui bahwa โMeong!โ merupakan film drama slice of life. Mudahnya, cerita dalam film ini mengambil kejadian sehari-hari sebagai bagian utama cerita sehingga tidak perlu menghadirkan konflik besar atau peristiwa dramatis.
Nah, kali ini Meong menjadi sudut pandang utama. Ia berinteraksi dengan seorang mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir dan menghadapi berbagai kesulitan selama prosesnya.
Kehadiran Meong kemudian menjadi bagian dari perjalanan mahasiswa tersebut.
โInti dari film ini, kami mau membawakan bahwa sesuatu seperti kucing kecil atau mungkin hal kecil lainnya di dunia ini bisa sangat menginspirasi dan bermakna bagi seseorang. Meskipun terkadang hal kecil tersebut sebenarnya biasa saja atau mungkin bahkan tidak berharga di mata orang lain,โ tutur penulis sekaligus produser โMeong!โ, Vincentius Bhagaskara, sebagaimana dikutip dari laman resmi ITB.
Syuting Harus Mengikuti Kondisi Pemeran Utama
Kawan, sebelum menggarap film ini, tim sudah lebih dulu berdiskusi dengan ITB Street Feeding, komunitas peduli kucing di lingkungan ITB. Keterlibatan komunitas itu dilakukan dalam proses brainstorming atau pencarian dan pengembangan gagasan cerita.
Dengan begitu, cerita โMeong!โ tidak hanya lahir dari pengamatan tim film. Ada pula masukan dari orang-orang yang sehari-hari berinteraksi dengan kucing-kucing di lingkungan kampus.
Nah, proses pembuatan film jelas tidak selalu mulus. Tim harus memperhatikan perilaku dan kondisi Siti selama pengambilan gambar. Ketika Siti menunjukkan tanda-tanda stres atau tidak nyaman, proses syuting dihentikan sementara.
Pengambilan gambar baru dilanjutkan ketika kondisinya memungkinkan.
Satu hal yang menarik, Siti adalah tokoh yang tidak bisa ditebak. Ia kerap melakukan tindakan yang melenceng jauh dari naskah dan rencana awal. Meski demikian, bagi tim โMeong!โ, itu tidak menjadi masalah. Malahan ketidakpastian itu jadi bagian menarik dari proses produksi.
Siti Masuk ke Festival Internasional
โMeong!โ diproduksi mulai Maret 2025 sebelum akhirnya masuk dalam NextScene Kids & Youth Film Festival 2026.
Festival tersebut merupakan festival film internasional yang menjadi ruang bagi anak-anak dan generasi muda untuk berkarya di bidang perfilman dan penceritaan kreatif.
Pada penyelenggaraan 2026, festival memasuki tahun keduanya. Rangkaian acaranya berlangsung di Taman Ismail Marzuki (TIM) dan CGV fX Sudirman, Jakarta, pada 6โ9 Agustus 2026. Sebanyak 54 film dari 14 negara mengikuti festival tersebut.
Ada tiga penghargaan utama yang diberikan dalam festival tersebut, yaitu Best Film Award, Most Inspiring Film Award, dan Special Jury Mention.ย Dalam hal ini, โMeong!โ mendapatkan Most Inspiring Film Award.
Fransiska mengaku tidak menyangka hasil garapan timnya menarik hati para juri.
"Jujur, penghargaan ini sesuatu yang tidak aku ekspektasikan," katanya.
Ia menyebut penghargaan itu sebagai kebanggaan tersendiri, dan ia senang film mereka bisa menginspirasi banyak orang.
Penghargaan itu sekaligus membawa cerita tentang kehidupan mahasiswa ITB dan seekor kucing kampus ke hadapan penonton yang lebih luas.


