Kehadiran ikan bernama ilmiah Betta sp. ini di dalam wadah kaca rupanya bukan sekadar menjadi sarana relaksasi visual untuk melepas stres.
Hobi merawat ikan hias ini perlahan bertransformasi menjadi sebuah fenomena sosial yang mengiringi terbukanya peluang ekonomi berskala besar. Harga jualnya yang sempat melambung tak terkendali membuat banyak orang penasaran.
Walaupun popularitasnya baru terasa meledak secara luar biasa dalam beberapa tahun terakhir, ikan cupang sebenarnya memiliki akar sejarah yang sangat panjang di wilayah Nusantara. Menengok kembali ke era 1960-an, masyarakat lokal lebih akrab menyapanya dengan sebutan "ikan sawah".
Pada masa itu, habitat liar ikan mungil ini sangat mudah ditemukan di area persawahan, rawa-rawa, hingga parit kecil, sehingga sering kali ditangkap sekadar untuk dijadikan mainan oleh anak-anak pedesaan.
Memasuki dekade 1970-an, potensi komersial ikan ini mulai tercium oleh para importir, yang kemudian membawa masuk berbagai varietas baru untuk meramaikan pasar hewan peliharaan domestik.
Puncak transformasi di dunia akuatik ini terjadi pada era 1990-an. Para ahli budidaya lokal mulai gencar melakukan eksperimen kawin silang (hibridisasi) antarjenis. Hasil kerja keras tersebut terbukti membuahkan kesuksesan besar.
Meski kekayaan spesies lokal sangat berlimpah, varietas hias yang saat ini merajai pasar dan memenangi berbagai kontes kecantikan mayoritas merupakan spesies introduksi asal luar negeri.
Jenis cupang hias yang terkenal karena keanggunan bentuk tubuhnya umumnya berasal dari garis keturunan Betta splendens.
Di sisi lain, jenis cupang aduan yang terkenal akan agresivitasnya biasanya merupakan turunan dari spesies Betta smaragdina. Kedua spesies pendatang paling populer ini diketahui berasal dari perairan darat negara Thailand.
Estetika Visual, Keindahan Ragam Sirip yang Memanjakan Mata
Faktor utama yang membuat siapa saja mudah jatuh hati pada ikan cupang adalah penampilan visualnya yang sangat elegan. Ikan yang masuk ke dalam ordo Perciformes ini memiliki karakteristik postur tubuh memanjang.
Bila diamati dari sisi depan (anterior) maupun belakang (posterior), tubuhnya terlihat pipih ke samping atau sering diistilahkan sebagai compressed.
Ciri khas lainnya terletak pada bagian wajah, di mana terdapat mulut berukuran kecil dengan bibir tebal, serta tubuh yang diselimuti oleh sisik bertipe stenoid yang tersusun begitu rapi dan rapat.
Daya tarik paling magis sekaligus penentu harga jual tertinggi dari seekor ikan cupang terletak pada corak warna dan bentuk sirip ekornya (sirip kaudal). Posisi sirip punggung (dorsal) berada cukup berdekatan dengan sirip ekor, membentang luas menutupi separuh bagian belakang tubuh.
Ketika ikan ini sedang memamerkan dominasinya atau merasa terancam oleh kehadiran pejantan lain, seluruh siripnya akan mengembang sempurna menyerupai sebuah kipas sutra beraneka warna.
Variasi bentuk ekor ikan hias ini sangatlah beragam. Para kolektor dan pencinta ikan hias umumnya sangat memburu varian ekor berbentuk setengah bulan sabit yang mekar sempurna (halfmoon).
Ada pula varian dengan bentuk ujung-ujung sirip bergerigi tajam menyerupai mahkota raja (crown tail), bentuk membulat (rounded tail), hingga mutasi genetik yang menghasilkan sirip menjuntai panjang menyerupai gaun (slayer).
Perpaduan antara bentuk sirip yang eksotis dan pigmen warna yang mencolok—seperti merah merona, biru pekat, hingga kombinasi warna-warni layaknya galaksi—membuat ikan ini sangat layak dijadikan pajangan hidup di ruang tamu.
Bagi para pemula di dunia ikan hias, ketakutan terbesar biasanya adalah ikan yang mudah mati. Namun, ikan cupang menawarkan solusi perawatan yang sangat praktis dan minim risiko.
Ikan ini tersohor akan ketangguhannya dalam bertahan hidup, bahkan di dalam lingkungan perairan yang sangat minim kandungan oksigen terlarut. Kemampuan super ini berasal dari sebuah organ pernapasan tambahan yang tertanam di dalam tubuhnya, yakni organ labirin.
Organ labirin terletak tersembunyi tepat di bagian dalam bilik insang. Fungsinya bertindak layaknya paru-paru cadangan yang mampu menyimpan udara segar yang diambil langsung dari permukaan air.
Mengingat habitat aslinya sering kali berupa rawa-rawa lebat atau selokan berarus tenang dengan kualitas air yang keruh, ikan ini berevolusi untuk secara berkala berenang ke permukaan demi "menghirup" oksigen dari udara bebas.
Berkat fungsi organ labirin yang ajaib ini, proses pemeliharaan di rumah menjadi sangat hemat biaya. Wadah kecil tanpa instalasi mesin aerator penyaring air atau pompa gelembung oksigen sudah lebih dari cukup untuk membuat ikan ini hidup nyaman dan sehat.
Transformasi ikan cupang dari sekadar ikan sawah menjadi primadona akuarium bernilai jutaan rupiah merupakan fenomena yang sangat menarik.
Perpaduan sempurna antara pesona estetika sirip yang menyerupai tarian kain sutra, kemudahan perawatan berkat sokongan organ labirin yang tangguh, hingga terbukanya peluang bisnis budidaya yang menguntungkan, menjadikan Betta sp. magnet yang sulit ditolak oleh berbagai kalangan masyarakat.

