Di balik nama Leles dan Kadungora di Kabupaten Garut, tersimpan cerita tentang pemerintahan lama, keberadaan bangsawan Sunda, dan sebutan Halteu yang masih diingat masyarakat hingga akhir 1960-an.
Garut, Jawa Barat, menyimpan banyak jejak sejarah yang tidak selalu terlihat dalam bentuk bangunan tua atau dokumen resmi. Sebagian di antaranya bertahan melalui nama kampung, cerita para sesepuh, serta ingatan masyarakat tentang tempat-tempat yang kini telah berubah fungsi.
Hal tersebut juga ditemukan dalam penelusuran sejarah Leles dan Kadungora. Dua kawasan yang kini dikenal sebagai bagian dari Kabupaten Garut ini menyimpan sejumlah petunjuk menarik, mulai dari perkembangan pemerintahan hingga cerita mengenai rumah seorang menak dan bekas tempat peristirahatan seorang dalem.
Kisah-kisah tersebut belum seluruhnya terkonfirmasi melalui arsip sejarah. Namun, justru dari ingatan masyarakat inilah penelusuran terhadap masa lalu dapat dimulai.
Leles dan Perubahan Pemerintahan di Priangan
Sebelum dikenal sebagai Kewedanaan Leles, wilayah ini telah menjadi bagian dari lingkungan permukiman masyarakat Sunda dengan sistem pemerintahan yang mengalami perubahan dari masa ke masa.
Dalam sejarah administrasi Priangan, Leles berkaitan dengan perkembangan Kabupaten Limbangan. Pada awal abad ke-19, pusat pemerintahan Kabupaten Limbangan dipindahkan ke Garut. Perubahan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam pembentukan struktur pemerintahan yang kemudian berkembang di wilayah Garut.
Dalam periode berikutnya, Leles memiliki kedudukan sebagai wilayah administratif yang penting. Namun, untuk memastikan urutan pembentukan distrik, kewedanaan, dan kecamatan, diperlukan penelusuran lebih lanjut terhadap dokumen pemerintahan dari setiap periode.
Catatan pembagian wilayah pada masa kolonial juga perlu diperhatikan. Istilah distrik dan onderdistrik tidak selalu sama dengan kewedanaan dalam penggunaan administratif pada masa berikutnya.
Karena itu, sejarah Leles tidak cukup ditelusuri hanya melalui nama kecamatan yang dikenal sekarang. Peta lama, dokumen pemerintahan, dan arsip kolonial diperlukan untuk memahami bagaimana kedudukan wilayah ini berubah sepanjang waktu.
Cerita Rumah Menak di Kampung Kadungora

Kampung Kadungora, Garut (Tahun 2017)/Foto : Agus Kusdinar
Petunjuk sejarah lain datang dari Kampung Kadungora. Menurut penuturan almarhum Pa Iim, seorang tokoh masyarakat setempat, dahulu pernah berdiri sebuah rumah yang disebut sebagai rumah menak.
Dalam cerita tersebut, Pa Iim tidak menyebutkan nama penghuni rumah. Ia hanya mengenalnya sebagai rumah menak. Bekas lokasi bangunan itu, menurut penuturannya, kemudian berubah menjadi kebun cokelat.
Dalam masyarakat Sunda, istilah menak berkaitan dengan kalangan bangsawan atau golongan sosial terpandang pada masa lalu. Karena itu, cerita mengenai rumah menak di Kampung Kadungora membuka kemungkinan bahwa kawasan tersebut pernah memiliki hubungan dengan kehidupan kalangan bangsawan Sunda.
Salah satu nama yang dapat ditelusuri lebih lanjut adalah Raden Kusumaharja. Akan tetapi, hubungan tokoh tersebut dengan rumah yang diceritakan Pa Iim belum dapat dipastikan. Diperlukan bukti tambahan, seperti catatan silsilah, arsip kepemilikan tanah, dokumen pemerintahan, atau sumber tertulis sezaman.
Cerita lisan ini tetap penting karena dapat menjadi petunjuk untuk menentukan lokasi dan mencari kemungkinan jejak bangunan yang telah hilang.
Nama SDN Kadaleman dan Ingatan tentang Seorang Dalem
Petunjuk lainnya berkaitan dengan SDN Kadaleman. Menurut cerita masyarakat setempat, kawasan di sekitar Kampung Kadungora dan Kampung Cidodot dahulu pernah menjadi tempat tinggal atau lokasi rumah peristirahatan seorang dalem.
Informasi mengenai nama sekolah tersebut pernah ditelusuri melalui pertanyaan kepada pihak Dispend. Berdasarkan keterangan yang disampaikan, SDN Kadaleman merupakan bangunan baru yang dibangun melalui program Instruksi Presiden atau Inpres. Nama Kadaleman diberikan setelah masyarakat setempat mengusulkan nama tersebut, dengan alasan bahwa kawasan di sekitarnya dipercaya pernah ditinggali seorang dalem.
Keterangan ini memberikan gambaran tentang bagaimana ingatan sejarah lokal dapat bertahan melalui penamaan tempat. Nama Kadaleman menjadi petunjuk yang menarik untuk diteliti lebih lanjut.
Meski demikian, nama sekolah tidak dengan sendirinya membuktikan keberadaan rumah dalem pada lokasi tertentu. Identitas tokoh, masa tinggal, dan lokasi bangunan masih perlu diperiksa melalui arsip atau sumber sejarah lainnya.
Kadungora dan Sebutan Halteu

Perlintasan Kereta Api Stssiun Leles di Kadungora/Foto : Agus Kusdinar (Dok. Pribadi)
Cerita yang tidak kalah menarik adalah penggunaan nama Halteu untuk menyebut kawasan Kadungora.
Menurut keterangan yang disampaikan, nama Kadungora pada mulanya berkaitan dengan nama Kampung Kadungora. Sementara itu, kawasan yang lebih luas pada masa lalu dikenal masyarakat sebagai Halteu.
Sebutan tersebut bahkan masih umum digunakan oleh masyarakat Kadungora hingga akhir dekade 1960-an.
Istilah Halteu diduga berkaitan dengan keberadaan stasiun kereta api. Dalam bahasa Sunda, kata tersebut berhubungan dengan tempat pemberhentian. Dalam konteks Kadungora, sebutan itu kemungkinan merujuk pada kawasan di sekitar stasiun yang menjadi penanda penting bagi penduduk.
Keberadaan jalur kereta api dapat menjadi salah satu kunci untuk memahami perkembangan kawasan tersebut. Stasiun bukan hanya tempat naik dan turun penumpang, melainkan juga dapat menjadi pusat aktivitas masyarakat dan orientasi geografis suatu wilayah.
Untuk memastikan sejak kapan nama Halteu digunakan dan kapan Kadungora mulai menjadi sebutan yang lebih luas, diperlukan penelitian terhadap peta lama, arsip perkeretaapian, serta dokumen administrasi dari masa kolonial hingga setelah kemerdekaan.
Menjaga Ingatan, Menelusuri Bukti
Cerita mengenai rumah menak, keberadaan seorang dalem, nama Kadaleman, dan sebutan Halteu memperlihatkan bahwa sejarah lokal tidak hanya tersimpan dalam dokumen resmi.
Sebagian jejak masa lalu justru bertahan dalam ingatan para sesepuh, nama tempat, dan cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bagi sejarah Leles dan Kadungora, cerita tersebut merupakan titik awal untuk menelusuri lebih jauh perubahan pemerintahan, kehidupan sosial masyarakat Sunda, serta perkembangan kawasan di sekitar jalur kereta api.
Penelitian berikutnya dapat diarahkan pada pencarian peta administrasi lama, arsip silsilah bangsawan Priangan, dokumen tanah, dan catatan perkeretaapian. Dengan cara itu, cerita lisan dapat dibandingkan dengan sumber tertulis sehingga bagian yang terbukti, yang masih berupa dugaan, dan yang belum diketahui dapat dibedakan secara jelas.
Pada akhirnya, sejarah sebuah wilayah bukan hanya tentang siapa yang pernah memerintah, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat mengingat tempat tinggal, tokoh, dan nama-nama yang membentuk identitas lingkungannya.
Leles dan Kadungora masih menyimpan pertanyaan sejarah yang layak dijawab. Dari cerita rumah menak hingga sebutan Halteu, setiap petunjuk dapat menjadi jalan untuk mengenali kembali wajah Garut pada masa lalu.


