Biasanya, tanaman herbal seperti bunga telang dan sereh hanya dijadikan teh atau jamu saja oleh masyarakat Indonesia. Tapi ternyata keduanya punya peran lain yaitu untuk perawatan kesehatan.
Sejumlah penelitian farmasi mencatat kedua tanaman ini berpotensi menjadi bahan sabun herbal yang bisa lawan bakteri. Tren gaya hidupΒ back to nature membuat bahan lokal seperti ini kian dilirik. Di Sukoharjo, Jawa Tengah, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bahkan sudah mengajak warga membuatnya lewat pelatihan sabun bernama TELASIH.
Superfood untuk Perawatan dari Dalam
Bunga telang (Clitoria ternatea) terkenal karena warna biru pekat saat diseduh. Pigmen itu berasal dari antosianin, senyawa antioksidan alami. Sedangkan sereh (Cymbopogon citratus) dikenal sebagai bumbu dapur yang segar baunya.
Menurut kajian medis di PubMed Central, antosianin melindungi sel tubuh dari radikal bebas. Dalam kajian tercatat potensinya sebagai agen anti-aging, antiinflamasi, dan penenang alami. Karena itu, telang makin sering dipakai sebagai superfood lokal.

Sereh (lemongrass, Cymbopogon citratus) | Wikimedia Commons | Karya: Obsidian Soul
Kekuatan sereh ada pada minyak atsirinya. Ulasan tim medis Siloam Hospitals dan Halodoc menyebut kandungan citral, geraniol, dan neral bersifat antimikroba. Sereh juga mengandung kalium dan zat besi yang membantu lancarkan peredaran darah.
Aroma sereh yang segar cocok jadi aromaterapi alami, sedangkan saat diminum, sereh bisa membuat rileks dan mengurangi rasa cemas. Ramuan telang dan sereh yang kaya antioksidan membuat masyarakat makin suka perpaduan keduanya sehingga dijadikan perawatan dari dalam.
Telang dan Sereh Cocok Dijadikan Sabun
Tangan itu mengandung banyak bakteri, jadi cuci tangan pakai sabun adalah langkah pencegahan paling dasar. Berdasarkan telaah dalam Jurnal Kesehatan Qamarul Huda edisi Juni 2025, banyak sabun di pasaran memakai DEA, SLS, dan triklosan yang bisa memicu iritasi kalau sering dipakai.
Beberapa peneliti meninjau alternatif antibakteri berbahan alam. Sabun cair berekstrak telang 15% menghasilkan zona hambat 14,36 milimeter terhadap Staphylococcus aureus, bakteri penyebab infeksi kulit. Angka itu masuk kategori daya hambat kuat.
Pada sabun padat, konsentrasi sereh 100% menghasilkan zona hambat 21,583 milimeter terhadap S. aureus dan 20,91 milimeter terhadap Escherichia coli. Keduanya masuk kategori sangat kuat. Kajian itu mencatat telang dan sereh efektif secara tunggal, sedangkan kalau dikombinasikan tetap harus diuji lebih lanjut.

Photo by Chananchida Nokjan on Unsplash
Peneliti Universitas Bengkulu dalam jurnal ANJANI (2023) menguji sabun cair berekstrak telang 5%. Sabun itu stabil selama 16 hari dan bisa dibilas sekitar 13 detik. Uji iritasi pada sukarelawan dewasa tidak menimbulkan reaksi selama empat jam. Tingkat keasamannya ada di pH 8-9, sesuai standar sabun cair pada umumnya.
Bagaimana Proses Pembuatannya?
Pertama-tama sari pekat telang dicampur minyak nabati seperti minyak kelapa atau zaitun, lalu ditambah essential oil sereh. Campurannya bereaksi dengan larutan basa lewat proses saponifikasi hingga menjadi sabun. Khusus sabun padat, adonan perlu melalui curing atau pematangan selama beberapa pekan.
Resep itu diajarkan langsung kepada 35 ibu PKK Desa Karangmojo, Kecamatan Weru, Sukoharjo. Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) UMS adakan sosialisasi pada 12 September 2026 dan praktik pada 18 September 2026.
Produknya berupa sabun cuci piring TELASIH, singkatan dari telang dan sereh. Ketua kelompok mahasiswa, Dhoni Firnanda, menyebut kedua tanaman dipilih agar lebih mengenalkan potensi yang di tonjolkan.
βKedua tanaman tersebut kami pilih sebagai identitas produk sekaligus memperkenalkan potensi sumber daya lokal yang dapat dikembangkan secara kreatif,β ungkap Dhoni.
Peluang Usaha Sabun Herbal
Dosen pembimbing, Susiati, menjelaskan bahwa program ini menjadi pendorong warga agar terus berkreasi mengolah tanaman lokal menjadi produk yang memiliki nilai guna.
βMahasiswa mengajak ibu-ibu PKK meningkatkan kreativitas, mengenali peluang usaha rumahan, serta membangun kemandirian melalui pemanfaatan bahan yang relatif mudah diperoleh,β tutur Susiati.
Sabun berbahan alam kian banyak dikembangkan sebagai alternatif dari SLS dan triklosan. Ketua PKK Desa Karangmojo, Sarbini, menilai pelatihan ini memberi wawasan dan pengalaman baru bagi warga, sekaligus berharap kegiatan berlanjut menjadi program kerja desa.
βKami ibu-ibu PKK Karangmojo, sebagai peserta merasa senang dengan adanya pelatihan pembuatan sabun yang terbuat dari bahan alami, yang dibimbing langsung oleh mahasiswa UMS," ungkapnya.

