Siapa sangka, limbah pertanian yang selama ini dianggap tak berguna kini bisa menjelma jadi solusi bagi para pecinta kucing. Sekelompok mahasiswa dari dua kampus berbeda, Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Teuku Umar (UTU), sama-sama melirik ampas tebu sebagai bahan dasar pasir kucing alternatif. Inovasi ini hadir di tengah meningkatnya tren memelihara kucing, khususnya di kalangan generasi muda perkotaan yang makin sadar akan isu kesehatan hewan sekaligus keberlanjutan lingkungan.
Selama ini, mayoritas pasir kucing di pasaran masih mengandalkan bahan seperti bentonite atau silika yang sulit terurai dan berpotensi menyisakan debu berlebih saat digunakan. Kondisi ini mendorong dua kelompok mahasiswa tersebut mencari jalan keluar lewat riset ilmiah, dengan memanfaatkan ampas tebu, limbah agrikultur yang jumlahnya melimpah namun jarang diolah menjadi produk bernilai ekonomis. Hasilnya, lahir dua inovasi dengan pendekatan berbeda namun tetap sejalan dalam satu misi besar, yaitu menghadirkan pasir kucing yang lebih aman bagi hewan sekaligus bersahabat dengan lingkungan.
Inovasi Muncul dari Masalah Sederhana
Di UGM, lahir produk bernama Felyhart, hasil karya lima mahasiswa lintas fakultas yang tergabung dalam Tim PKM-K Felyhart. Produk ini tidak sekadar menjadi media serap kotoran, tetapi juga dilengkapi indikator pH alami yang dapat berubah warna sesuai kondisi urine kucing, lengkap dengan situs web pemindai untuk membaca hasilnya.
Arsi Cahyani, Ketua Tim Felyhart, menjelaskan bahwa ide ini bermula dari keresahan terhadap limbah pasir kucing konvensional yang sulit terurai dan rawan menumbuhkan bakteri jika daya serapnya kurang optimal.
"Dari situ, muncul gagasan untuk mengembangkan pasir kucing berbahan dasar limbah ampas tebu yang lebih mudah terurai sekaligus membantu mengurangi limbah yang belum termanfaatkan," ujarnya.
Sementara itu, dari Aceh Barat, lima mahasiswa UTU mengembangkan Kitty Cane, pasir kucing berbahan sama dengan teknologi Odor-Lock untuk mengendalikan bau lewat mekanisme adsorpsi ammonia atau penyerapan gas amonia. Berdasarkan penjelasan dosen pendamping mereka, Rusma Setiyana, proyek ini juga menjadi ruang belajar kewirausahaan bagi mahasiswa lintas program studi.
"Kitty Cane bukan sekadar upaya menciptakan pasir kucing alternatif, tetapi juga bagaimana mahasiswa belajar melihat persoalan di sekitar sebagai peluang inovasi. Kolaborasi mahasiswa dari berbagai program studi menjadi kekuatan karena setiap anggota dapat memberikan kontribusi sesuai bidang keilmuannya," jelas Rusma.

Lima mahasiswa UTU mengembangkan produk pasir kucing (Kitty Cane) | Sumber: Educare Indonesia | Foto: Tim dokumentasi UTU
Keunggulan Pasir Kucing dari Ampas Tebu
Dibanding pasir kucing konvensional berbahan bentonite atau silika, pasir berbahan ampas tebu punya keunggulan pada aspek keberlanjutan. Bahan bakunya mudah terurai secara alami, sehingga lebih ramah lingkungan sekaligus membantu memanfaatkan limbah pertanian yang selama ini terbuang percuma.
Dari sisi kesehatan hewan, Felyhart menonjol lewat fitur deteksi dini. Perubahan warna pada pasir dapat menjadi sinyal awal gangguan pada saluran kemih kucing, sehingga pemilik bisa lebih waspada sebelum kondisi memburuk. Dr. drh. Madarina Wassisa, dosen pendamping tim, menegaskan pentingnya menjaga kebersihan pasir demi memutus rantai penularan penyakit.
"Banyak penyakit yang penularannya berkaitan dengan kontaminasi feses. Dengan menjaga kebersihan pasir dan mengurangi kontaminasi, diharapkan rantai penularan penyakit dapat ditekan," jelas Madarina.
Pengalaman pengguna pun turut memperkuat klaim ini. Kinar, salah satu pengguna Felyhart, mengaku puas dengan performa produk tersebut dalam menyerap kotoran.
"Pasirnya bagus dan ternyata bisa menggumpal dengan baik. Gumpalan pasir Felyhart lebih kering sehingga lebih mudah dibersihkan," ungkapnya.
Perhatikan Sebelum Beralih ke Produk Ramah Lingkungan
Meski menjanjikan, ada beberapa hal yang perlu dipahami calon pengguna agar bisa memanfaatkan inovasi ini secara maksimal. Pertama, fitur pemantauan pH pada Felyhart hanyalah indikator awal, bukan alat diagnosis. Jika kucing menunjukkan gejala seperti mengejan saat berkemih, sering keluar-masuk kotak pasir, atau terdapat darah dalam urine, pemilik tetap wajib membawanya ke dokter hewan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Kedua, sebagai produk yang masih tergolong baru dan berasal dari riset kampus, ketersediaan Felyhart maupun Kitty Cane di pasaran belum seluas pasir kucing konvensional. Calon pengguna perlu mencari informasi distribusi resmi agar tidak salah membeli produk serupa yang belum teruji kualitasnya.
Ketiga, setiap kucing memiliki karakter dan kebiasaan berbeda dalam merespons jenis pasir baru. Ada baiknya pemilik memperkenalkan produk secara bertahap sembari mengamati reaksi hewan peliharaannya, agar proses adaptasi berjalan nyaman bagi kucing maupun pemiliknya.
Inovasi Felyhart dan Kitty Cane membuktikan bahwa persoalan lingkungan dan kesejahteraan hewan bisa diselesaikan lewat kreativitas sederhana dari kampus. Ampas tebu yang dulunya hanya jadi limbah, kini bertransformasi menjadi produk bernilai guna yang ramah lingkungan sekaligus membantu pemilik kucing menjaga kesehatan hewan peliharaannya. Apakah Kawan GNFI tertarik untuk mencoba inovasi baru ini? Siapa tahu langkah kecil memilih pasir kucing yang lebih hijau ini bisa jadi kontribusi nyata kita untuk membantu pelestarian lingkungan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


